
“Kembalilah, sebelum kamu kukembalikan menjadi binatang sendirian. Kamu harus kembali ke kandang bersama orang-orang yang selalu menunggumu, Aki,”
– Mitsuha –
Pukul tujuh pagi saat jam alarm berdering membangunkan sang majikan dari tidur nyeyaknya.
Aku melangkah turun dari tempat tidur dan bersiap menuju kampus. Dengan goyah kulangkahkan kaki kecilku ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Tak butuh waktu lama untukku melucuti seluruh pakaianku.
“Aaaaaa!!!” Misaki teriak sekencang-kencangnya mendapati beberapa bagian tubuhnya menghitam.
“Apakah semakin aku kuat, aku akan menjadi seorang monster?” dia sangat khawatir menanyakan kondisi dirinya pada dirinya yang lain di balik cermin. Tak ada jawaban.
Misaki membiarkan dirinya pasrah dengan takdir Tuhan dan mencoba menenangkan diri. Mata merahnya menyala lebih terang dari sebelumnya dan kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya terasa lebih kuat.
Tubuhnya semakin menggigil akibat terpaan air yang terus mengaliri tubuhnya. Selesai mandi, Misaki menuju kampus dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, sepasang bola mata mengamatinya terus menerus dari balik bayang-bayang.
“Skill show!”
Misaki berhasil menemukan beberapa orang dengan tatapan tajam mengarah padanya. Umur berkurang lima hari sebagai tiket penggunaan kekuatan hari ini. Artinya, jika Misaki ingin meggunakan kekuatan dalam sehari, maka dia harus membunuh satu nyawa sebagai pengganti umurnya yang terpotong.
Merasa takut, Misaki mempercepat laju langkahnya. Namun penguntit itu juga mempercepat laju langkahnya dan berhasil mengepung Misaki di tempat sepi tanpa seorang pun yang bisa menolongnya.
Perlahan, para penguntit memojokkan Misaki di salah satu gang perumahan sepi. Salah satu penguntit mengeluarkan pisau tajam, sedang yang lain menyiapkan tali, karung, dan plester.
“Skill time pause!” tepat waktu.
Hiroshi datang tepat waktu dan siap siaga di dekat Misaki. Dia memegang tangan Misaki dan seketika itu waktu kembali bergerak.
“Ayo lari!” teriak Hiroshi.
Misaki tetap diam di tempat dan menahan tangan Hiroshi agar tidak lari lagi dari para penjahat yang mengintai para pengguna GAS.
“Hiro, mereka agen pemerintahan. Ayo kita menghindar sebisa mungkin. Pegang pingganku!”
“A-apa maksudmu? Kau itu, itu terlalu ...,”
“Jangan banyak tanya. Tidak ada waktu lagi. Cepat lakukan apa yang aku suruh, atau kita akan ditangkap dan dijadikan bahan percobaan ilmuwan. Kamu mau?”
Wajah tampan Hiroshi mulai berlipat. Dia tak tahu apa yang akan Misaki lakukan dengan keadaan pinggang yang terpegang. Hiroshi mulai berekspektasi yang tidak-tidak. Rona merah tergambar jelas di wajahnya ketika tangannya mulai merangkul pinggan Misaki.
“Buang ekspresi mesummu itu, Hiro. Dan bersiap-siaplah!” tegur Misaki dengan tatapan jijik.
Para penguntit mulai memberikan tanda siap menyerang. Seketika itu pula Misaki mengaktifkan skill barunya.
“Flyboot!”
Hiroshi tak percaya. Mereka terbang ke angkasa bersama burung-burung yang tengah mencari makan. Sangat indah, pengalaman yang menakjubkan. Hal itu pula yang membuat Hiroshi menikmati semilir angin yang menerpa dengan latar langit biru nan cantik. Dia tak sengaja melepaskan tangannya dari pinggang Misaki.
“Eh? Aaaaa....” Hiroshi jatuh bebas dari udara dengan ketinggian beribu-ribu meter dari permukaan laut.
“Dasar, cowok bodoh!” Misaki menepuk jidatnya.
Misaki turun ke bawah dan siap menangkap Hiroshi. Ada yang aneh. Sebelum dia berhasil menangkap Hiroshi, ada yang menangkapnya terlebih dahulu, Yato. Yato merupakan ketua dari para pemimpin yakuza yang sempat menangkap Hiroshi.
__ADS_1
“Akhirnya kita bertemu, Misaki, calon pembunuh. Rupanya kamu lebih cantik dari dugaanku,” Yato membuka pembicaraan.
“Jadi kamu ketua para yakuza itu? Hahaha akhirnya aku bisa membunuhmu di sini!” Misaki berseru.
Hujan mulai mengguyur bumi dengan deras, menghalangi pembicaraan panas mereka. Yang dapat mereka dengar hanya teriakan skill demi skill yang saling diaktifkan.
“Rupanya kamu Megan juga? Aku kira kamu hanyalah manusia biasa,” Misaki bertanya.
“Inilah kekuatan manusia modifikasi sepertiku. Beberapa Megan telah ditransplantasikan ke dalam tubuhku, dan jadilah manusia Megan terkuat! Skill telekinetis!” hanya dengan mengayunkan tangannya ke arah balok, lalu dibelokkan ke arah Misaki, seketika itu balok berterbangan ke arahnya. Sesegera mungkin Misaki mengambil pisau yang selalu ada di sakunya untuk segera menikam Yato.
Kekuatan telekinetis merupakan kekuatan magnet di mana seorang pengguna bisa menarik suatu benda dan mengarahkannya ke mana saja dia inginkan.
“Jadi bagaimana, calon pembunuh? Mau tetap melawanku, atau kamu mau mati di tanganku? Sejujurnya aku tak ingin membunuhmu, hanya saja aku memiliki keinginan kuat untuk menggenggam dunia. Aku harus mengumpulkan banyak skill. Pilih yang mana, gadis kecil?” mata merah Yato mulai menyala.
Misaki merasa pusing, dia melirik ke arah tangan kanannya. Dilihatnya Hiroshi menusukkan pisau yang dipegangnya.
“Tak perlu kaget, Misaki. Dengan kamu menusukku begini tak akan membuatku mati, dan kamu sekarang mendapat skill baru, time pause,” jelas Hiroshi sebelum matanya terpejam.
“Skill time pause!” Misaki berseru.
Aneh. Seluruh dunia telah diselimuti medan sihir. Waktu berhenti, namun tidak dengan Yato. Dia masih bebas bergerak dengan bebas tanpa terikat sihir Misaki.
“Observasi!” Misaki menilik status Yato.
Nama : Yato Yamazaki
Sisa Umur : Lima tahun
Skill : Time pause, telekinetis, defense, transparent, dan fireboot
Level : 21
“Sial, levelnya terlalu tinggi. Bagaimana bisa aku mengalahkannya?”
“Sudah selesai? Kamu lihat, ‘kan? Skillku terlalu banyak, presentasi kemenanganmu sudah dipastikan 0%. Menyerahlah!”
Misaki terdiam mendapati Yato berlari ke arahnya. Dia hanya bisa pasrah ketika Yato menduplikat skill flyboot dan show miliknya. Rerintik hujan berjatuhan dengan sangat lambat, Yato berlari dengan lambat pula. Namun tak ada kekuatan yang tersisa dari Misaki untuk meloloskan diri. Lambat! Begitu juga dengan gerakannya.
Dari arah jam sembilan, Mitsuha terlihat berjalan dengan keadaan normal.
“Misaki, kamu harus pandai, lho. sampai kamu kalah oleh orang bodoh seperti dia,” sapa Mitsuha seraya membelai-belai kepala Yato yang siap menyerang Misaki.
Wajah Misaki begitu panik dan tak menduga. Mitsuha seorang Megan. Selama ini Misaki sama sekali tek pernah melihat GAS yang mendampingin Mitsuha.
“GAS, berikan seluruh tenagamu padaku!”dalam keadaan slow motion, Mitsuha menyerang Yato dengan kekuatan penuh, sampai dia terpental ke belakang dan menabrak dinding tembok sampai roboh.
Disaat Yato terkubur di bawah reruntuhan tembok, Mitsuha menatap Misaki dengan tatapan tulus dan penuh harap.
“Misaki, kalahkan Yato. Jika dia sampai mendapatkan kekuatanmu, bumi akan tamat!” Mitsuha meraih tangan Misaki dan menusukkan pisau yang dipengangnya tepat ke jantung Mitsuha.
__ADS_1
“Tenang, aku tak akan mati. Sekarang, kamu punya kekuatanku. Transparant, iceboot, dan slow motion. Berjuanglah, Aki. Aku selalu mengandalkanmu,” Mitsuha tumbang, dan skill slow motion berakhir.
Misaki menunduk menatap tanah, Mitsuha terkapar diiringi darah yang mengucur dari jantungnya. Tak ada waktu untuk Misaki meratap. Sisa umur Mitsuha masih lama, dia pasti akan baik-baik saja.
Mata Misaki memerah, lebih merah dari sebelumnya. Di sekelilingnya penuh dengan aura hitam pekat.
“GAS, dengan harapan bisa melindungi bumi, aku minta kau memberikan seluruh kekuatanmu!” seketika Misaki merasakan energi yang mengalir ke dalam tubuhnya lebih kuat dari sebelumnya. “Kau akan mati, Yato!”
“Tak semudah yang kau harapkan, gadis kecil!” terlihat Yato mengeluarkan kekuatannya dengan maksimal.
Pertarungan tak dapat dihindari lagi. Yato menyerang Misaki dengan fireboot miliknya, namun Misaki dapat memadamkan api dengan iceboot.
“Jangan pernah memanggilku gadis kecil! Lihatlah dirimu, lebih mirip anak SMA. Ingat, aku ... sudah ... kuliah! Panggil aku sensei!”
Dalam keadaan terdesak, Yato mengeluarkan kekuatan fireboot dengan meggunakan skill defense sekaligus. Kombinasi kekuatan paling baik. Namun sayangnya, Misaki bisa menganalisis kekuatan Yato dengan rapi.
Merasa menang, Misaki terbang melayang ke udara lalu mengaktifkan skill time pause. Terlihat wajah Yato berseringai dengan tangannya yang masih menyalakan api dalam keadaan terhenti.
“Skill iceboot!” tangan kiri Misaki mengeluarkan es dan tangan kanannya siap menikam jantung Yato.
“Kemenangan mutlak milikku!”
Crrakkk!!!
Jantung Yato berhasil ditusuk. Misaki menjadi tiga Megan sekaligus.
Hujan berhenti sejenak, terlihat seluruh Megan masih berdiri kokoh. Misaki terlihat mengerikan, berdiri di atas reruntuhan tembok berselimut kabut mendung dan halilintar yang menyala-nyala. Matanya merah menyala seakan siap membunuh siapapun yang menghalangi jalannya dengan pisau yang masih berlumuran darah tepat di tangannya.
“Misaki, suatu saat aku akan membunuhmu!”
Yato berlalu menenggelamkan diri di balik kabut sore itu. Sementara Mitsuha dan Hiroshi masih berdiri bangga pada Misaki. Tidak dengan Misaki, dia merasa hatinya mulai menghitam. Tak ada lagi rasa bersalah atas tiap darah yang mengalir dari para sahabatnya. Matanya merah, iblis telah menguasai dirinya.
“Misaki?” Mitsuha bertanya.
“Si\-siapa kalian?” kepala Misaki terasa berat dan matanya mulai berkunang-kunang sampai tak sadarkan diri.
Misaki menahan rasa sakit yang menggerogoti jiwanya. GAS telah berhasil menguasai jiwa, raga, dan pikirannya. Pada dasarnya semakin kuat Megan, semakin kuat pula GAS menguasai jiwanya.
“A-aku harus pergi dari tempat ini!” Misaki memutuskan pergi dari wilayahnya demi melindungi orang-orang yang berharga untuk dirinya.
“Kamu mau kemana?” Hiroshi tak mau melepaskan Misaki. Baginya, Misaki adalah hal yang paling berharga. Tak ada yang lain.
“Aku akan mencari tempat yang cocok untuk Megan sepertiku. Benar kata Yato, aku adalah calon pembunuh. Maafkan aku, Mitsuha, Hiroshi. Aku akan selalu menyayangi dan melindungi kalian dari balik bayang-bayang,” jelasnya.
Atmosfer terasa sesak, Hiroshi mendekatkan wajahnya ke wajah Misaki. Wajah mereka mulai memerah, “Aku mencintaimu, Misaki. Kembalilah jika kamu ingin aku tetap hidup. Kamu ingat, ‘kan? Umurku bisa diperpanjang jika aku dicium perempuan, dan aku hanya ingin kamu,” Hiroshi mengatakan dengan memalingkan wajah merahnya, malu.
“Hahaha, kamu itu selalu saja lucu, Hiroshi. Aku ... juga mencintaimu. Aku janji akan kembali bila semuanya sudah beres. Aku ... harus bisa mengendalikan kekuatan ini sebelum tanganku sendiri yang akan menghancurkan peradaban.”
Misaki mencium Hiroshi begitu lama. Tangan Hiroshi dengan lembut membelai rambut Misaki, begitu pun Misaki. Dia memeluk Hiroshi dengan tulus. Air mata mengalir, membentuk garis di pipi mereka.
“Ehheemm ...,” Mitsuha mendehem.
Mereka hampir lupa waktu dan tempat. Mitsuha hanya bisa ngiler melihat keromantisan yang dia saksikan.
“Sial, derita jomblo,” Mitsuha memalingkan wajah dari mereka berdua dengan tangan kanan mengepal ke atas.
Mitsuha dan Hiroshi menyaksikan Misaki mulai terbang ke udara dan hilang ditelan kabut sisa hujan. Petir menyambar kota tersebut, memecah keheningan dan menghilangkan memori tentang Misaki dari pikiran semua orang.
__ADS_1
“Kembalilah, sebelum kamu kukembalikan menjadi binatang sendirian. Kamu harus kembali ke kandang bersama orang-orang yang selalu menunggumu, Aki,” bisik Mitsuha.