
Sedikit demi sedikit mereka mengumpulkan keberanian lalu melangkahkan kaki mereka ke arah hutan. Takut. Suatu perasaan yang tak dapat mereka hindari dan kalahkan, tetapi mereka harus bisa. Demi pengalaman dan nilai A. Tepat sebelum mereka memasuki wilayah hutan, ada seorang lelaki tua dengan pakaian compang camping mendatangi mereka.
“Ma-maaf, Bapak siapa?” tanya Misaki.
“Hahaha, saya melihat ada ketakutan dalam diri kalian. Jika kalian takut, jangan pernah berani memasuki Okigahara. Hutan ini adalah tempat di mana ketakutanmu akan memakan jasadmu,” penjelasan yang begitu ambigu itu berhasil membuat mereka terbengong-bengong. Hanya itu, lalu lelaki tua tersebut pergi dan hilang di balik belukar hutan.
“Ah, jangan takut, Aki. Lihat, bapak itu juga masuk, kenapa kita tidak? Ayo!” ajak Mitsuha penuh semangat.
Awal mulanya semua berjalan sempurna. Banyak tumbuhan langka hidup di dalam hutan tersebut. Mitsuha memetik berbagai tumbuhan tanpa nama, lalu memasukannya ke plastik yang sudah disediakan.
“Wah, lihatlah, Aki. Kita dapat ba ....” Belum selesai berkata, dia mendapati Aki sudah tidak ada di belakangnya. “Aki, kamu di mana! Aki!” Mitsuha benar-benar panik. Dia berlari dan menyusuri hutan tersebut untuk menemukan sahabatnya sebelum malam memakan sinar matahari.
“Sudah saya bilang, jangan pernah masuk ke hutan ini jika kamu takut,” lelaki tua yang tadi ditemuinya tiba-tiba muncul di belakang Mitsuha.
“Di mana teman saya? Bapak tahu?”
“Sebaiknya kalian segera pulang, jangan lama-lama di sini. Kecuali kalian ingin gila dan saling membunuh. Susul temanmu di sana,” jawab lelaki tersebut sambil menunjukkan jarinya ke arah dalam hutan.
Mitsuha menoleh, sebentar “Lho, ke mana lelaki itu? Cepat sekali, lelaki tua aneh, seperti hantu saja,” Mitsuha berlalu menuju arah yang tadi dikatakan lelaki tua tersebut. Dari balik rumput belukar, sang bapak memandangi Mitsuha sembari menyeringai.
“Aki! Aki, kamu di mana? Aki!”
“Mitsuha, aku di sini. Tolong!” teriak Misaki.
Mitsuha berlari ke arah suara Misaki. Tak peduli jalanan licin, belukar memanjang, tak ada yang bisa menghalangi langkahnya.
“Aww ... sakit, kakiku berdarah.” Namun dia tetap berdiri dan kembali berlari dengan kaki picang. Kayu roboh dia lalui dengan sekali loncat dan menahan rasa sakitnya. Dilihat kakinya penuh darah. Darah mengalir dari luka yang ditimbulkan akibat goresan rumput berduri.
“Aki! Kamu di mana?”
“Mitsuha, tolong aku!”
__ADS_1
Teriakan Misaki membuat Mitsuha kembali bangkit, walaupun dia harus menyeret salah satu kakinya. Di tengah jalan, dia memutuskan untuk menyobek sebagian bajunya untuk menutupi luka di kaki agar darahnya tidak mengucur terus-menerus. Mitsuha kembali menyusuri hutan belukar dan menebas seluruh ilalang yang menghalangi jalannya. Namun dia merasakan hal aneh. Misaki tidak menghampirinya sama sekali, bahkan setelah berjalan jauh, suara Misaki tetap sama, tidak mengeras sedikitpun. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Mitsuha, kamu di mana? Cepat kemari, tolong aku!”
Mitsuha terus berjalan. Di balik belukar itulah sumber suara Misaki. Dia terlihat agak ragu membuka belukar itu, takut. Mitsuha bingung, apakah di sana benar-benar Misaki? Perlahan-lahan dia mulai mendekat dan meraih belukar itu.
“Mitsuha? Kamu mau apa?” Suara Misaki muncul, tapi bukan dari balik belukar, melainkan dari belakangnya. Mitsuha ragu untuk menoleh, namun mau tidak mau harus dia lakukan.
“Aki? Kamu benar-benar Misaki, ‘kan?” tanya Mitsuha ragu sambil memeluk sahabatnya itu.
“Kamu bicara apa? Ini jelas-jelas aku, tadi aku melihat tumbuhan langka dan memutuskan akan mengambilnya. Tapi saat aku kembali kamu tidak ada,” jelasnya.
Sebenarnya apa yang terjadi di dalam hutan Okigahara? “Jika ini kamu, lalu siapa yang sedari tadi teriak minta tolong?” Suasana mulai mencekam, “sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini, ayo!”
“Mitsu, kita ikuti jalan setapak ini, lihat, tali\-tali juga dipasang di sekitar jalan setapak. Sepertinya kita bisa keluar,” ajak Misaki percaya diri.
Mitsuha berbalik badan.
“Aki, dengarkan aku baik-baik. Jika kita memutuskan berjalan mengikuti tali ini, berjalnjilah kita akan tetap bersama. Jangan sekali-kali kamu meninggalkanku lagi, oke?” Mitsuha memegang kedua bahu Misaki dan menjelaskan dengan tatapan nanar. Dia takut berpisah dengan Misaki lagi.
Misaki mengiyakan ajakan Mitsuha. Memang, Mitsuha lebih bijak, lebih pintar, dan lebih dari segalanya. Makanya Misaki merasa nyaman di samping Mitsuha. Mereka berjalan dengan Mitsuha di depan, sedangkan Misaki di belakangknya memegang baju Mitsuha.
“Mitsu, aku takut,” tangan Misaki gemetar saat melangkah pada jalanan yang mulai gelap, “aaaaa ... mayat! Mitsuha, ada mayat!” teriak Misaki.
“Sudah, kamu tenang saja. Sini kamu jalan di sampingku saja,” kata Mitsuha menenangkan Misaki.
__ADS_1
Semerbak malam mulai menyelimuti hutan Okigahara. Mencekam, menyeramkan, menakutkan. Semuanya berkumpul menjadi satu pada atmosfer menyelimuti benak mereka berdua.
“Kalian pikir bisa keluar dari hutan ini?” Suara bisikan terdengar jelas di telinga Misaki.
Misaki tidak mendengarkan bisikan yang dapat membuat mereka putus asa. Dia memalingkan pikirannya dan memfokuskan ke arah jalan. Dia berusaha tetap sadar agar tidak termakan bisikan hutan.
“Rupanya kalian tidak mempan dengan bisikan hutan, ya? Jangan pikir kalian bisa keluar dari hutan ini dengan selamat!” Lelaki aneh datang lagi.
Mereka ketakutan. Namun, kali ini Misaki mengambil posisi depan. Memang dalam hal kepintaran, Mitsuha jauh di atas Misaki. Tetapi masalah berkelahi, Misaki jagonya.
“Sebenarnya kamu siapa? Kami ingin keluar dari hutan ini, tolong jangan halangi kami!” bentak Misaki.
Tanpa terselimuti rasa takut, lelaki itu maju ke depan dan menyerang Misaki. Tetapi dia mampu menahannya. Kekuatan lelaki tua itu sangat kuat, bahkan lebih kuat dari Misaki yang sudah lima tahun mempelajari ilmu bela diri. Ada satu kelemahannya, dia hanya menyerang tanpa strategi. Di sinilah letak kelemahannya dan keuntungan Misaki.
“Dasar bocah tengik! Matilah di sini, dan jadilah salah satu penghuni abadi!”
“Hei, tua bangka! Jangan jadikan aku anak durhaka! Tapi jika nyawamu harus melayang demi melindungi orang-orang yang berharga bagiku, walau tanganku harus kotor dengan darah dan dosa, aku tak peduli!”
Pertarungan tak dapat dihindari sampai salah satu mati. Misaki melawan lelaki tua itu dengan strategi matang, sehingga kemenangan mutlak baginya. Dia masih berdiri tegap, sementara musuhnya terkulai tak berdaya dengan darah yang muncrat dari mulutnya.
“A-apakah dia mati?” tanya Misaki pada Mitsuha.
“A-apakah dia mati?” tanya Misaki pada Mitsuha.
Misaki merasa bersalah, bukan karena dia telah membunuh seseorang, tetapi karena telah membuat Mitsuha ketakutan. Di sisi lain, Misaki merasakan hal aneh dalam dirinya. Dia merasa tenaganya bertambah. Rasa capek, lemas, letih tak dia rasakan lagi.
“Mitsuha, ayo kita keluar dan pulang."
__ADS_1