Savage

Savage
Ikatan yang Kuat


__ADS_3

“Menangislah jika itu perlu. Kamu tak perlu lagi berpura-pura bahagia jika pada kenyataannya hatimu menangis. Karena hanya kamu yang akan merasakan luka. Berbagilah luka dengan temanmu, dengan begitu luka yang kamu rasakan akan sedikit berkurang”


– Yukine –


 


Setengah jam sebelum matahari menampakkan dirinya, Misaki dan tim Warped memutuskan untuk kembali ke Jepang. Hujan terus mengguyur tak kunjung habis. Sementara mereka harus terus bergerak sebelum tertangkap para Megan di penjuru dunia. Sejak mereka berhasil mengalahkan Megan terkuat, nama mereka terkenal sebagai pembunuh Megan terkeji dan wajib dimusnahkan dari jagat raya.


“Misaki, kamu masih kuat bergerak?” tanya Yukine.


“Aku baik-baik saja, Yuki,” Misaki mesam-mesem.


Perjalanan panjang mereka seperti tengah melakukan misi rahasia. Jangan sampai terlihat siapapun, atau nyawa mereka taruhannya.


“Misaki, sepertinya kita kedatangan tamu,” ujar Misaki.


Di hadapan mereka, dua sosok Megan asal Korea menghadang. Dari penamilannya, dia terlihat kuat dan berbahaya.


“Observasi!”


Misaki terperanjat menatap kekuatan mereka. Sama sekali tak masuk akal.


“Mengapa, Aki? Tanya Natsumi yang terus terdiam.


“Anu, kekuatannya sama sekali tak berbahaya. Badannya saja yang besar,” ketus Misaki dengan mimik wajah menggelikan.


Yuuji menyeringai, dia melaju pesat dan menerjang pertahan kedua Megan lemah itu. Hanya dalam sekali serang, mereka tergeletak lunglai.


“Lemah sekali mereka?” tanya Yuuji membelakangi Megan itu.


Misaki tersentak. Megan itu bukannya kalah, namun justru beregenerasi. Dia sadar, observasi yang dilihatnya tadi adalah pengelabuhan. Kekuatan yang sebenarnya tengah disembunyikan.


“Bagaimana ini?” tanya Hitori.


“Lakukan seperti biasa. Tidak! Untuk saat ini, lakukanlah yang menurutmu benar. Percayalah pada kata hatimu!” teriak Yuuji.


Misaki melesat jauh ke depan dan mengaktifkan skill baru untuk melindungi keempat temannya.


“Perisai iblis!” seketika, dinding transparan yang kokoh membatasi keempat temannya, sedangkan Misaki bertarung sendirian. “Untuk saat ini, biarlah aku yang akan maju. Terimakasih telah membantu tugasku.”


“Woy, apa yang kamu lakukan? Dasar sombong,” Yukine menggerutu.


“Bertarunglah, Misaki,” Yuuji berbisik.


Yuuji menatap wajah serius Misaki, sementara Yukine tertunduk khawatir. Tak ada yang tahu siapa yang akan menang dan tumbang. Dari keseluruhan, Misaki lebih kuat. Namun kondisi fisiknya belum sembuh total.


“Skill complete!” kedua Megan itu terkurung di dalam dinding penjara buatan Misaki.


Mereka membentur-benturkan dirinya, namun dinding itu lebih kuat dari sebelumnya. Tak ada yang bisa menghancurkannya dengan mudah.


“Skill panah besi!” Misaki menusuk tubuh mereka dengan besi runcing di tangannya, tepat di dada.


“Skill fireboot!”


Megan memang tidak bisa terbunuh jika sisa umur mereka belum habis. Tetapi mereka bisa mati apabila jantung mereka hancur. Dengan skill api, Misaki melelehkan panah besinya tepat di dalam jantung para Megan.


Tidak sampai mati, Misaki hanya membuat jantung mereka melemah dan berhenti memberontak. GAS keluar dari tubuh mereka dan berterbangan menuju tempat berdiri Misaki.


Sakit. Kondisi yang biasa dia terimanya.

__ADS_1


Perisai iblis lenyap bersamaan dengan kondisi Misaki yang melemah.


“Misaki, kamu berhasil. Ayo kita lanjutkan perjalanan, biar aku yang akan menggendongmu,” ujar Yukine.


“Kamu selalu menjadi sosok terbaik di sini, Yuki.”


Yuki membopong Misaki dan melanjutkan perjalanan pulang ke Jepang. Sementara ini, tak ada lagi Megan yang muncul.


“Oiya, bagaimana kalian bisa sampai di sini?” tanya Misaki melekat di punggung Yuji.


“Kami melakukan perjalanan membasmi Megan sepertimu. Kami memang tidak bisa menyerap GAS. Tapi setidaknya kami bisa mengurangi bebanmu sedikit, sampai akhirnya Hitori merasakan hawa Megan yang cukup besar. Ternyata aura itu berasal dari pertarunganmu dan Megan terkuat itu,” jelas Yuuji.


Dua hari berlalu, mereka mendarat di Tokyo.


“Teman-teman, kita ke rumah sakit, yuk jengut Mitsuha, Hiroshi, dan Kak Yato,” ajak Misaki.


Mereka mengangguk. Derap langkah kaki memanjang di sepanjang jalan menuju rumah sakit, hening. Perasaan Misaki berkecamuk membayangkan reaksi mereka bertiga.


“Apakah mereka merindukanku?” Misaki bertanya pada dirinya sendiri.


Sesampai di rumah sakit, Misaki tertegun. Ketiga temannya dalam keadaan tak sadarkan diri berada di tangan orang-orang berjubah hitam tanpa wajah. Siapa mereka?


“Siapa kalian? Mau kalian apakan teman-temanku?” teriak Misaki.


“Ikutlah dengan kami. Akan kami tunjukan surat dari dewa untukmu,” ujar salah satu sosok yang rapi terbungkus bayang-bayang, “dan jangan biarkan mereka mengikutimu.”


Misaki menatap mereka tajam dengan posisi kedua tangan mengepal kuat. Dia ingin mendekati dan menyerang mereka, tapi tempat ini tidak cocok. Misaki pun memutuskan mengikuti kemauan mereka.


Yuuji dan yang lainnya mengikuti Misaki, namun dia mencegat mereka.


“Tolong, untuk saat ini biarkan ini jadi urusanku,” ujar Misaki.


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Misaki.


Hening.


“Dewa yang mengaku bernama Kana ingin kamu menyelesaikan permainan yang diciptakan penyihir jahat. Jika kamu gagal, orang-orang yang ada di sekitarmu akan celaka. Tapi jika kamu berhasih, kamu akan melihat mereka tersenyum riang.”


“Dewa Kana? Dewa gila yang sarangnya di bawah pohon itu?” tanya Misaki.


“Dialah penyihir terkuat di jagad raya ini. Dia bukanlah dewa yang sesungguhnya.”


Dalam keadaan terdesak, Misaki tak dapat mengabaikan ucapan mereka. Mitsuha, Yato, dan Hiroshi taruhannya.


“Lalu, apa yang harus kulakukan?”


“Kumpulkan kekuatan, hisap seluruh energi para Megan di bumi ini. Hanya dengan kekuatan merekalah kamu bisa membunuh penyihir itu.”


Mereka meninggalkan Misaki sendirian, membawa teman-temannya, menghilang di balik kabut tebal. Kaki lelahnya berkenala menyisiri tiap bagian hutan, tak ada jawaban.


Dari balik semak belukar, dia mendengar suara. Misaki mendekat, dan semakin dekat. Disibakkan semak belukar itu, keluar seekor macan tutul dengan ukuran besar. Nampaknya dia lapar. Misaki terhuyung-huyung menyeimbangkan derap langkah kakinya yang lelah. Macan buas itu terus mengikutinya, seberapa kuatpun Misaki berlari.


Akar menjalar, menghalangi tempat pelarian Misaki, sampai akhirnya dia tersandung dan jatuh mencium tanah. Macan tutul lapar itu mendekat dan memamerkan taringnya yang kuat penuh liur.


“Tolong!” teriak Misaki.


Tak ada jawaban, hanya ada gema yang memantul dari suaranya sendiri, hening. Suara tembakan dan pukulan pedang berhasil merobohkan macan tutul itu. Sementara Misaki masih gemetar ketakutan. Dia menelan ludah, matanya terbelalak menyaksikan pemangsanya dimangsa seseorang.


“Apa kamu bodoh? Mengapa tak kamu gunakan skillmu?”

__ADS_1


Setengah menit dunia sepi. Mata yang sedari tadi terbuka kini mulai kembang kempis, sampai akhirnya air mata mulai mengucur. Misaki menghampiri sang penyelamat dan memeluknya erat.


“Yuki, terimakasih. Terimakasih.”


“Su-sudah ya, jangan menangis lagi. Lihat, macannya sudah mati,” ujarnya.


Misaki tertawa, menutupi kesedihannya kehilangan ketiga temannya. Dalam balutan tawa, Yuki tahu Misaki tengah bersedih.


“Hey, Aki. Menangislah jika itu perlu. Kamu tak perlu lagi berpura-pura bahagia jika pada kenyataannya hatimu menangis. Karena hanya kamu yang akan merasakan luka. Berbagilah luka dengan temanmu, dengan begitu luka yang kamu rasakan akan sedikit berkurang.”


Misaki menangis sejadi-jadinya mendengar ucapan Yuki. Dia satu-satu yang selalu di samping Misaki selama berada di Warped. Tak heran Yuki menyukainya dan mengenal sifatnya daripada anggota lain.


“Kamu tahu, aku kehilangan orang yang berharga jauh lebih banyak darimu,” jelas Yukine.


Lima belas tahun yang lalu, Yukine dan keluarganya tinggal di San Andreas. Gempa bumi terbesar dalam sejarah berhasil membuat seluruh keluarganya tertimpa bangunan runtuh.


“Kamu tahu, ‘kan? Gempa dengan kekuatan 9,7 SR tercatat sebagai gempa paling besar. Gempa itu berhasil menelan seluruh orang yang kucintai,” air mata Yukine mengambang.


Misaki mendekatinya. Tangannya diletakkan pada pundak bidang dan mengetuk-ngetuk pelan.


“Kamu beruntung masih punya mama, kakak, dan teman yang menyayangimu. Sementara aku, satu pun tak punya.”


Hutan hijau dengan macan tutul di sampingnya berubah menjadi lautan isak tangis. Keduanya memiliki nasib yang sama, kehilangan.


“Hei, apakah kamu tak menganggapku teman?” tanya Misaki.


“Benar, kami semua temanmu.” Tiga remaja baru saja keluar dari balik semak belukar.


Yuuji, Natsumi, dan Hitori menggelengkan kepala mendapati salah satu rekan mereka menangis di depan wanita.


“Kamu cengen sekali,” ketus Yuuji. “Jangan pernah bilang kamu tak punya keluarga maupun teman, karena kita berlima adalah keduanya.”


Misaki mengangguk. Senyumnya mulai merekah lebar dengan pesona rona wajah yang elok. Tangannya diacungkan ke depan menelngkup.


“Janji, ya. Kita adalah teman dan keluarga. Sampai kapanpun tak akan berubah,” kesedihan Misaki memudar.


Degup jantung Yukine berdebar kencang menangkap ucapan Misaki. Dia merasa kesempatan bersama Misaki sirna selamanya.


“Yuki, tak perlu menjadi pacar untuk bisa bersama atau saling peduli. Sebagai teman pun kita bisa saling menjaga satu sama lain,” bisik Hitori.


Yukine dengan polos membungkam mulut Hitori.


“Kalian berdua, ada apa?” tanya Misaki.


“Ah, tidak apa-apa. Abaikan kami. Hahaha,” Yukine menatap mata Hitori tajam-tajam, sementara Hitori tersenyum simpul.


Keluarga, bagi Yukine adalah sebuah ikatan yang paling berharga. Dia menatap Misaki, keluarga barunya. Dia tersenyum simpul, kini dia bisa menjaganya lebih dekat.


“A-ada apa, Yuki?” Misaki merasa diperhatikan.


“Ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya senang kita semua semakin dekat. Terimakasih, Misaki.”


Misaki menyisiri seluruh wajah seri mereka. Tawa mereka mengguncang hutan itu, membuat angin membelok tak ingin mengganggu mereka. Atmosfer yang mengelilingi mereka pun berubah menjadi kehangatan langka.


“Teman-teman, maukah kalian membantuku menyelamatkan Mitsuha, Hiroshi, dan Yato? Aku tak peduli dengan syarat mereka. Selama kita bersama-sama, masalah apapun bisa diselesaikan,” tanya Misaki tajam.


“Kamu pikir untuk apa kita menyusul kalian ke sini? Ayo kita bantu Misaki, karena kita adalah sebuah keluarga. Dengar, ini adalah misi tim Warped selanjutnya! Jika gagal, kalian tau akibatnya, ‘kan?” kata Yuuji dengan ucapan bijaknya.


 

__ADS_1


__ADS_2