Savage

Savage
Misi Baru


__ADS_3

Awan kembali mendung, disusul dengan gerimis yang makin pekat. Mereka harus cepat, atau gelap akan memakan jarak pandang mereka.


“Yuuji, bagaimana kita akan mencari mereka?” tanya Natsumi.


Yuuji terdiam. Matanya menatap Misaki pelan. Dia tak tau apa yang harus dilakukannya. Mencari makhluk gaib sama halnya mencari jejak kucing di tumpukan bulu-bulu.


“Aku akan menggunakan ini, kekuatan mataku berhasil kuupgrade. Skill clairvoyant!”


Bahkan angin yang tak terlihat mampu ditembus dengan skill ini. Partikel-partikel kehidupan menyatu, penerawangan berhasil dilakukan.


“Ketemu! Tapi dimana ini?” tanya Misaki heran.


“Apa yang kamu lihat, Aki?”


“Aku melihat sebuah ruang berukuran 7x7 berwarna putih bersih dan meja bundar di tengahnya. Aku belum pernah melihat ini,” jelasnya pada Yukine.


Ruangan itu terlihat sunyi, sepi. Tak ada ventilasi sama sekali. Misaki menyisiri seluruh sudut ruangan, hampa. Tak ada satu manusia pun. Lalu mengapa kekuatan matanya tertuju ke tempat aneh ini? Misaki merasa skill barunya tak berguna.


Misaki mengangkat bahunya, menghela napas dalam-dalam. Sebelum dia melepaskan skillnya, dari sudut ruang putih itu, sosok hitam dengan jubah hitam dan muka tak kelihatan muncul dari balik ambang pintu.


“Itu dia!” Misaki menatap penglihatannya. Penemuan terbaik.


Sementara yang lain mengelilingi Misaki, menantikan cerita yang dia lihat.


Wajah transparan sosok hitam itu membalas tatapan Misaki seakan dia tahu tengah diawasi. Sosok hitam itu mendekat, semakin dekat. Tatapannya membuat Misaki takut, walau tanpa mata.


Wajah Misaki penuh dengan keringat dingin yang mengucur dari keningnya. Anggota tim panik, tubuh Misaki digoncang-goncang. Tak sadar. Matanya terbelalak ketakutan, jiwanya tertelan. Sampai Misaki berteriak kencang, tubuhnya seperti tertarik ke atas. Dia tersadar kembali.


“Misaki, kamu kenapa?” tanya Hitori.


“Jangan ditanya dulu,” bisik Natsumi.


Napas Misaki tersengal, dia masih susah mengatur irama jantungnya. Yukine mengambil sebotol air minum dan memberikannya pada Misaki.


“Sudah tenang? Coba ceritakan pada kami,” ujar Yuuji.


“Aku tahu di mana mereka. Sebuah dimensi lain, ruang antara dunia kita dan dunia lain.”


“Maksudnya?” tanya Yuuji.


Misaki menjelaskan, dunia yang ditinggali mereka adalah dunia nyata, sementara dunia tempat dewa bersinggah adalah dunia suci. Antara dunia nyata dan dunia suci terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan keduanya. Inilah yang dinamakan dunia undead, yang mana roh manusia bisa tertangkap di sana jika mereka tak ada kaitannya dengan dewa. Dengan kata lain, mereka yang tidak meyakini akan adanya dewa, mereka akan terjebak di sana.

__ADS_1


“Jadi, mereka adalah ...,”


“Ya, mereka adalah iblis yang menginginkan dunia ini menjadi milik mereka. Mereka memanfaatkan kelemahanku untuk mengalahkan dewa. Sehingga mereka bisa menguasai dan mengatur dunia ini. Mereka benar-benar makhluk tak berkelas!”


Misaki menggerutu. Tangannya mengepal dan memukul tanah keras-keras sampai terluka berat. Dan dalam beberapa detik luka itu menutup kembali. Misaki melakukannya berulang-ulang. Matanya kembali menggenang.


“Sudah, Misaki. Tenangkan dirimu,” Yukine memeluk Misaki dan mengelus-elus rambut lurusnya yang mulai berantakan.


“Uhuy, cari-cari kesempatan,” ejek Natsumi.


“Diamlah, Umi.”


“Woy, sejak kapan namaku jadi Umi?”


Misaki tertawa ringan. Dia menyeka air matanya yang melai memburu tanah di hutan itu. Suasana kembali hening, hanya ada suara kekehan Misaki.


“A-ada apa? Kenapa kalian semua diam?” tanya Misaki malu.


Semenit berlalu hening, sampai akhirnya mereka tertawa bersama.


“Jadi, sekarang apa?” tanya Hitori polos. Bahkan pertanyaan biasa ini membuat mereka tertawa lepas, sedang dia diam dengan muka bingungnya.


Senyum merekah dari balik bibir Yukine. Dia senang melihat Misaki kembali bangkit.


“Tentu saja. Kita akan meminjamkan kekuatan kita. Karena kita ... satu tim dan satu keluarga,” ujar Yukine tersenyum merona.


Paginya, setelah mereka beristirahat di dalam hutan, saat yang dinanti telah tiba. Berangkat. Mencari teman-temannya Misaki. Burung-burung menukik pelan menyaksikan lima insan berkumpul menyatukan kekuatan.


“Teman-teman, tolong, ya.”


Misaki menutup mata, mengumpulkan energi, dipusatkan pada salah satu telapak tangannya. Semenit waktu yang dibutuhkannya. Selesai, perlahan dia membuka mata. Merah, aura hitam berkobar di sekitar tubuh Misaki.


Sementara Yukine meraih salah satu telapak tangan Misaki, disusul yang lainnya.


“Gerbang iblis!” Misaki mengaktifkan skillnya.


Tubuh mereka terasa sangat ringan saat berada di dalam gerbang iblis, terangkat ke atas. Natsumi merasa mual saat memasuki portal.


“Natsumi,kamu baik-baik saja?” tanya Hitori.


“Aku mual, apakah kamu membawa plastik? Huueekk!”

__ADS_1


“Mana mungkin? Kamu ini merepotkan sekali.”


Dalam keadaan tak enak badan, Natsumi memperhatikan Misaki. Pandangan Misaki menatap lurus ke depan, ada cahaya yang menyilaukan. Natsumi menghela napas dan berdiri pelan.


“Baik, aku bisa menahannya. Ayo kita lanjutkan,” ujar Natsumi.


Mendengar ucapannya, senyum Misaki kembali mengembang. Mereka bergandengan saling menjaga. Misaki mengaktifkan kemampuannya dengan kekuatan penuh. Tubuh mereka tertarik.


Seperempat jam di dalam portal, perjalanan mulus berubah menjadi mencekam ketika lorong portal yang mereka lewati tiba-tba dipenuhi kabut tebal. Pandangan mereka terhalang, tak ada yang bisa melihat keberadaan yang lainnya.


“Ada apa ini? Yuki? Teman-teman yang lain masih di sampingmu, ‘kan? Kita harus saling menjaga. Musuh bisa saja menyerang tiba-tiba,” ujarnya.


Hening, tak ada jawaban. Hanya ada suara rintihan seperti mulut dibungkam, sampai tangan Yukine terlepas dari genggamannya.


“Yuki! Yuuji, Natsumi, Hito! Kalian di mana?”


Misaki kembali sendirian. Beberapa kali dia memanggil nama-nama mereka, namun tetap tak ada jawaban. Hening beberapa menit. Misaki tersungkur di dalam portal, sendirian.


Kabut perlahan menghilang. Benar, Misaki sendiri. Teman-temannya menghilang entah kemana. Misaki panik. Dia membolak-balikkan badannya di depan dan ke belakang. Matanya menyisiri seisi portal yang masih dapat dijangkau matanya. Tetap saja, tak ada orang lain.


“Misaki, kamu melanggar peraturan! Saksikanlah, keempat orang ini akan mati di hadapan matamu! Dinding portal buatannya sendiri menyala. Terlihat Yuuji, Hitori, Natsumi, dan Yukine diikat pada sebuah kursi. Mereka tak sadarkan diri. “Jangan pikir kamu bisa membodohiku!” Kuku tangan sosok hitam itu memanjang, siap menikam leher Natsumi.


“Hentikaaan!!!” teriak Misaki.


Gagal. Misaki tak bisa menghentikannya. Leher Natsumi terputus, darah mengalir deras. Misaki menyaksikan sendiri temannya terbunuh. Tak ada yang bisa Misaki lakukan. Kakinya lemas, dia tersungkur berlutut. Air matanya kembali mengucur dari kelopak matanya.


“A-apa? Semuanya salahku. Aku yang membunuh mereka, andai mereka tak kuijinkan mengikutiku,” ujar Misaki menyesal.


“Benar, ini semua salahmu. Kamu tahu siapa yang membuatmu begitu? Dewa! Bunuhlah dia, maka aku bisa menghidupkan kembali temanmu,” terdengar sosok hitam itu terkekeh melihat Misaki putus asa.


“Jika aku membunuh dewa, apakah kamu akan menghidupkan Natsumi, dan membiarkan kita hidup bebas?”


“Tentu saja.”


Misaki menyeringai simpul. Dia mengelap air matanya dan berdiri menatap wajah sosok itu yang masih terpampang di dinding portal.


“Baiklah,” jawab Misaki singkat, “tapi, bisakah aku mendapatkan kekuatan yang lebih besar? Bukankah dewa itu kuat?”


Misaki menghela napas lega setelah sosok itu hilang dari pandangannya. Dia melanjutkan perjalanannya seorang diri.


“Tunggu aku, teman-teman.”

__ADS_1


__ADS_2