Savage

Savage
Kekuatan Dewa


__ADS_3

“Biarkan rangkaian takdir membebani langkah kita, asal pada akhirnya beban itu dapat kita gunakan sebaik-baiknya. Bukankah ini yang dinamakan bersakit dahulu, senang kemudian?”


Dewa, sebuah zat yang sangat kuat dan Maha Dahsyat. Dia mampu mengatur dunia dengan begitu baik. Namun tidak dengan Yato. Baginya, dia ditakdirkan dengan kondisi paling buruk. Masa kecilnya terenggut akibat kecelakaan dan mengharuskan dokter memasang kaki dan tangan palsu.


“Yato, maafkan ayah,” ayahnya menatap nanar di ruang putih bersama kumpulan manusia hijau membawa benda-benda tajam.


Lipatan mata ayahnya yang begitu keriput mengucur. Yato tak tahu apa yang membuat ayahnya tersedu-sedu.


“Mengapa ayah menangis? Bukankah Yato akan segera sembuh?” Yato bertanya.


Tak ada satu kata pun dari mulut ayahnya, mereka terdiam beberapa menit. Dia memeluk anak semata wayangnya dengan tatapan penuh sesak.


“Sudah saatnya,” kata sang manusia hijau, dokter.


Kelopak mata ayahnya basah, air mata mengucur deras. Yato masih tak tahu apa yang membuat ayahnya begitu sedih.


“Bagaimana kamu akan melunasi operasi anakmu?” tanya salah seorang rekan.


“Aku telah memberikan sebagian tubuhku untuk Yato. Jadi, biaya operasinya tak terlalu mahal. Lagipula, sebentar lagi aku atau kamu akan mati!” ayah Yato melontarkan tatapan tajam pada rekannya.


Sementara itu, di ruang operasi.


“A-apa ini? Kenapa daging ini begitu berat dan lembut? Apa ini benar-benar daging manusia?” salah satu dokter bertanya.


“Itu daging salah satu tangan ayahnya pasien. Apapun yang terjadi, kita harus memasangnya untuk menutupi anggota mekanik di setiap bagian tubuh. Itu perintah wali pasien, lakukan!” dokter yang terlihat masih muda itu menenangkan kepanikan yang terjadi di ruang operasi.


Ayah Yato hanya bisa mengintip di balik kaca jendela ruang operasi yang sangat kecil. Dia begitu khawatir dengan kondisi anaknya.


“Sembari menunggu, bagaimana jika kita pergi bertarung? Bukankah itu lebih efektif, calon pembunuh?” sang rekan melontarkan perkataan yang begitu pahit.


Ayah Yato menyernyitkan dahinya, “Baiklah! Kita harus pergi ke planet lain tanpa penghuni.”


“Kamu yakin? Lihatlah, sisa umurmu hanya tinggal satu bulan. Di sana tak ada manusia untuk kamu bunuh, itu artinya kamu tak bisa memperpanjang umurmu!” sang rekan menyeringai memojokkan ayah Yato dengan kata-katanya.


Tak ada keraguan sedikitpun yang mencuat dari matanya. Dia yakin dengan hal itu. Mereka menuju salah satu pegunungan tertinggi dan menggabungkan kekuatan untuk membuat empat titik. Portal terbentuk dan mengangkut mereka ke planet asing.

__ADS_1


“Hahaha, di sinilah harusnya kita dari tadi! Sekarang, ayo kita bertarung, calon pembunuh!”


Serangan demi serangan, skill demi skill mereka keluarkan untuk merobohkan musuh di depannya.


“Lihatlah, Shiba! Umurmu memang masih banyak, tapi aku jauh lebih kuat daripada kamu. Sadarlah dengan kekuatanmu!”


“Diam! Aku belum selesai. Saatnya membangkitkan kekuatan terbesarku!” Shiba menggertak ayahnya Yato.


“Aku akan menganggap hilangnya kedua kaki dan tangan Yato sabagai kecelakaan murni, meskipun bayang-bayangmu di tempat itu masih saja menghantuiku. Sekarang, sadarlah posisimu!” jawab ayah Yato tenang.


Shiba tak bisa berdiam diri terus. Dia mengaktifkan seluruh skillnya.


“Skill woodboot! Skill fireboot!”


Mata Shiba memerah, auranya menguat, namun daya tahannya perlahan turun akibat sisa umur yang semakin berkurang. Tersisa satu bulan untuk Shiba dan 20 hari untuk ayah Yato.


“Baiklah, jika kamu tak mau bernegosiasi. Aku akan melenyapkanmu di sini! Skill flyboot! Skill iceboot! Time pause!” ayah Yato mengaktifkan tiga skill sekaligus dan mengakibatkan dia kehilangan 15 hari umurnya.


Atmosfer pertempuran semakin menegangkan. Ketika waktu berhenti, ayah Yato menusuk jantung Shiba dengan partikel es di tangan kanannya.


“Selamat tinggal, Shiba.”


Ayah Yato memenangkan pertempuran itu. Kini dia memiliki kekuatan yang sama dengan kekuatan dewa. Semua skill terkumpul, namu sisa umurnya hanya tersisa lima hari, ditambah dia membunuh seorang Megan, umurnya bertambah satu bulan.


“Aku harus segera pulang, pasti Yato dan istriku sudah menungguku,” batinnya.


“Skill fireboot! Skill iceboot! Skill waterboot! Skill woodboot! Skill defense!” memang membutuhkan lima skill untuk pulang.


Empat skill membuat portal dan skill defense untuk menjaga dirinya dari gesekan atmosfer. Sisa umur ayah Yato hanya tersisa lima hari akibat penggunaan skill yang terlalu banyak. Tubuhnya sakit, portal terbuka, namun ayah Yato tak bisa kembali. Tubuhnya begitu lemah.


Mati. Setelah lima hari dia terjebak di planet asing, sisa waktunya habis.


Sementara di bumi, Yato dan istrinya menunggu dengan cemas. Tak ada tanda-tanda kepulangannya.


“Yato, kamu carilah ayahmu. Mama akan menunggu di rumah,” kata mama Yato yang tengah hamil tua.

__ADS_1


Siang itu kondisi langit begitu cerah. Tak ada titik hitam sedikit pun di atas langit. Warna biru terhampar luas menjadi latar yang begitu elok.


“Apa itu?”


Yato tersentak mendapati ada sosok yang jatuh bebas dari langit. Dia berlari mengejar benda langit yang terlihat aneh.


Sesampai di tempat, Yato bergerak perlahan.


“A-ayah? Ayah! Ayah! Kamu kenapa, ayah?” hening. Tak ada jawab dari mulut ayahnya.


Walaupun mata ayahnya terbuka, namun pada dasarnya dia tak bernyawa. Ditatapnya mata ayahnya nanar. Sontak, Yato terjerembab ke belakang. Bayang masa lalu ayahnya terbawa ke otak Yato, bahkan pertarungan sengit yang terjadi antara ayahnya dan Megan lain, Shiba.


Sebuah buku terjatuh dari dekapan ayahnya, buku hitam. Kosong. Buku tanpa catatan apapun. Yato membawanya dan mengurusnya dengan baik.


Semenjak saat itu, Yato tak pernah pulang ke rumah. Dia mencari Megan lain untuk mencari informasi tentang kekuatan dewa. Dia yakin bisa mengembalikan ayahnya.


“Semuanya sudah kujelaskan, Misaki. Dan sekarang, aku punya kekuatan dewa untuk mengubah peraturan dunia yang dewa ciptakan dengan payah ini!”


Guntur menyambar dengan kencang ketikan empat skill telah menyatu. Langit berubah menjadi hitam pekat, angin topan menghantam gedung itu.


“Inilah kekuatan yang sempurna! Aku akan menguasai dunia dan menghidupkan kembali ayahku!” Yato berteriak kencang.


“Jadi, tujuanmu itu untuk menghidupkan ayahmu? Yato, apa ayahmu akan suka? Dari ceritamu, aku yakin ayahmu orang yang baik. Dia tak mungkin mau dikembalikan ke dunia ini,” Misaki menatap Yato nanar. “Jika kamu melakukan ini terus menerus, aku tak yakin kamu akan bisa menahannya sendirian.”


Atap gedung mulai berterbangan seperti bulu-bulu, tembok mulai retak, bumi bergoncang kencang, ditambah dengan rintik hujan, gemuruh guntur, dan kilat yang menyambar-nyambar membuat suasana makin mengerikan. Kekuatan dewa telah bangkit.


“Misaki!” dari balik pintu yang mulai bergoncang muncul sosok yang tak asing, Mitsuha dan Hiroshi.


“Ka-kalian? Apa benar kalian mengenalku?” Misaki tercengang dengan wajah mereka yang sangat mirip dengan wajah yang selalu muncul di mimpinya.


“Tidak ada waktu lagi! Simpan semua pertanyaanmu dulu. Lihat, keempat titik itu membuat sebuah portal! Kita harus segera menghentikannya!” Mitsuha berteriak agar suaranya tidak termakan suara gemuruh yang kian menggelegar.


Portal hasil buatan Yato menyedot benda-benda di sekelilingnya. Hutan Okigahara lenyap termakan portal itu.


“Bagaimana cara menghentikannya?” tanya Hiroshi.

__ADS_1


Yato terlihat bingung dengan perbuatannya. Apa yang ayahnya tunjukkan tidak membuat kerusakan seperti ini.


“Yato, lihat perbuatanmu! Apa ini yang namanya menguasai dunia? Perbuatan gilamu ini membuat bumi terancam rusak!” Yuuji merasa geram. Satu-satunya cara menghentikan kerusakan ini adalah membunuh pembuatnya. “Aku akan membunuhmu!”


__ADS_2