
“Bagi hujan, petrichor adalah kekasihnya. Seperti ia tau, jika dia datang, maka aroma kekasihnya akan tercium. Lantas, kepada siapa pelangi bercumbu jika tak ada lagi rintik yang ia harapkan?
Tubuh Misaki melesat cepat jatuh ke bumi. Seluruh skill tak ada yang berfungsi. Dia hanya bisa menatap wajah bumi dengan tatapan harap-harap cemas. Tubuh kecilnya siap menghantap bumi dengan kecepatan setara ferrari.
Awan dapat dilewati dengan mudah, lalu pohon. Tak seperti melewati titik awan, tubuhnya menerjang ranting\-ranting pohon yang menggelayut kuat. Tubuhnya mulai kesakitan, otaknya tak dapat berpikir jernih.
“Skill defense!” hanya skill itu yang terngiang di kepala Misaki.
Seketika skill itu memudar. Tubuh Misaki terlalu lemah untuk menghasilkan skill yang kuat. Tubuhnya jatuh menghantam hamparan tanah tandus, negara Mesir.
“Di mana aku? Apa aku sudah mati?” tangannya menengadah ke atas menggapai sinar mentari.
Tubuh Misaki retak, darah mengucur dari balik punggungnya. Rasa sakit menjalar di tiap bagian tubuh. Sampai dia tak kuat menahannya sendirian, dan tak sadarkan diri.
“Misaki, kamu baik-baik saja?” suara Hiroshi memecah keheningan.
Misaki heran, dia berada di tengah-tengah kelas yang hening tanpa suara mendramatisir. Di pojok ruang kelas ada Mitsuha dan Yato tengah asyik mengobrol ini itu.
“Coba kamu lihat, Aki. Betapa indahnya jika dunia kita kembali seperti ini. Melihat kamu yang selalu ngantuk saat dosen menyampaikan materi. Bukankah indah jika kita bisa kembali normal?” tanya Hiroshi. “Misaki, sadarlah.”
Misaki tersadar dari mimpi ringkasnya. Di sampingnya ada seorang asing tengah menatapnya dengan kain basah menempel di tangannya. Misaki menatap pemuda itu sejenak. Dia memiringkan kepalanya dan mengernyit. Siapa dia?
“Aww ...,” Misaki memegangi sebagian kepalanya yang sakit, “dimana aku?”
“Apa yang kamu ucapkan?” kata seorang pemuda dalam bahasa Mesir.
Dia mundur sedikit dari pemuda yang semakin maju memperhatikan wajahnya. Dia tak mengira akan terdampar begitu jauh dari negaranya
“Where i was?” sekali lagi Misaki bertanya menggunakan bahasa global.
Pemuda itu hanya memiringkan wajahnya dan mengernyitkan dahi. Dia terpaku saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Misaki.
“Aku harus segera pergi dari sini sebelum mulai gila,” ujarnya putus asa.
Misaki keluar dari gubuk kecil milik pemuda itu dan melangkahkan kaki perlahan. Tiba-tiba dia dikelilingi aura aneh, aura Megan jahat.
“Rupanya di sini juga sarang Megan? Yosh, pilihan bijak,” Misaki menyeringai.
__ADS_1
Dia melangkahkan kakinya. Yang pasti, dia lebih berani dari hari-hari sebelumnya. Apalagi dia pernah bertarung dengan dewa. Misaki mengikuti aura Megan itu menuju hutan belukar.
“Oh, jangan hutan lagi,” katanya menggerutu.
Misaki memperlambat langkahnya dan menoleh ke belakang. Tepat. Ada dua Megan dengan level rata-rata menghadang jalan keluar. Dia harus mengalahkan mereka berdua.
“Skill transparant!” salah satu Megan dengan kepala botak mengaktifkan skill.
“Ternyata ada skill seperti itu? Sepertinya menarik. Kekuatan kalian akan segera kumakan. Skill flyboot!”
Misaki terbang ke atas. Dia mengamati satu Megan yang masih nampak di pelupuk matanya. Sejenak Misaki mengira Megan yang satunya memiliki kekuatan yang unik juga.
“Skill show!” mata Misaki memerah. “Ketemu!” Megan botak terlihat jelas walaupun menggunakan skill transparant, dia akan terdeteksi dengan skill show milik Misaki.
Misaki menukik ke bawah. Dia mencari\-cari celah yang kiranya tepat untuk menumbangkan mereka berdua dalam sekali serang. Tatapannya terfokus pada Megan yang masih nampak. Seketika ide terperangkap dalam otak dangkalnya.
“Skill complete! Hai kamu, maju kalau berani!” Misaki memancing Megan yang mirip Sasuke mengarah ke pijakan Misaki. “Dan kamu, wahai tak terlihat. Saksikan temanmu mati. Jika berani, keroyoklah aku, si wanita lemah!”
Misaki terkekeh. Pancingannya berhasil mengenai ikan-ikan. Disaat skill show miliknya masih aktif, dia melihat Megan botak menghampirinya, bersamaan dengan Megan Sasuke. Seketika itu skill complete miliknya terlepas. Kedua Megan itu terkurung di dalamnya.
“Sekarang, jiwa kalian akan terbebas dari belenggu GAS. Ucapkan selamat tinggal pada skill kalian,” ujarnya berbisik di samping dinding pembatas.
Mereka saling bertatapan menerka-nerka apa yang diucapkan Misaki. Sebuah ruang terbuka lebar beralaskan tanah bergaris. Seketika mereka meraung kesakitan.
Misaki berjalan perlahan menghampiri mereka. Tatapan mata merahnya membuat mereka merinding. Setidaknya para Megan lebih fokus pada mata Misaki daripada rasa sakit yang dialami.
Monster dari tubuh mereka perlahan mulai keluar. Mereka tak tahan dengan sakit yang didapat. Tatapan dua monster itu amat tajam, lalu terhisap ke tubuh Misaki.
“Arrghh! Sakit! Berapa orang yang mereka bunuh? Aaarrghh!” ronta Misaki.
Mata Misaki merah, aura berubah total. Dia terlalu banyak menghisap monster\-monster. Tubuhnya mulai tak kuat menangung semua jiwa yang telah dibunuh para Megan. Seketika dia ambruk. Tubuhnya memar kehitaman.
“Buku ajaib, a-aku harus bertanya sesuatu. Buku, buku apa?” dia mulai kehilangan kesadarannya.
Misaki terpogoh-pogoh menuju hutan belantara dan meletakkan telapak tangannya di dada. Dia tak tau siapa dirinya.
“Jangan lagi, ingatanku,” Misaki berlutut, mukanya camar.
Langkahnya mulai tak beraturan. Dia telah kehilangan tujuan. Tubuhnya menahan rasa sakit yang di deritanya. Pikiran perlahan pulih, lalu menghilang lagi.
__ADS_1
“Aku ingin darah!” serunya tanpa sadar. “A-apa yang aku ucapkan? Siapa aku sebenarnya?”
“Kamu adalah seorang iblis!” sosok tinggi besar keluar dari dalam hutan.
Sosok itu menyeringai. Dialah Megan terkuat di negara Mesir. Keinginan Misaki akan darah mulai menjadi-jadi. Misaki tertawa bebas melihat makanan yang mendatanginya sendiri.
“Panah besi!” skill Megan kuat itu terletak pada kemampuannya mengeluarkan besi runcing dari tangannya.
Misaki menghindari tiap besi yang menyerangnya. Dia harus mempertimbangkan umur yang dia miliki sebelum menyerang.
“Observasi!”
Terpampang jelas umur Megan kuat itu tersisa satu bulan. Masuk akal. Dia pasti menggunakannya dengan sembarangan. Misaki harus mencari cara agar Megan itu menggunakan banyak skill sampai umurnya terkuras habis.
“Cuma itu skillmu? Dasar sampah! Skill seperti itu dengan mudah kuhancurkan! Tunjukan seluruh skillmu, wahai Megan terkuat!” Misaki mulai memprovokasi.
“Jangan coba-coba memancingku!”
Misaki mengangkat bahu dan mendongak menatap Megan kuat itu. Dia terkekeh untuk menutupi kegagalannya.
“Memancing, memancing kamu bilang? Memang pada kenyataannya skillmu sangat payah! Lihatlah!” Misaki mengaktifkan skill fireboot, “dengan ini skill besimu itu dengan mudah kulelehkan,” ujarnya.
Misaki berjalan santai. Seketika hening, dia menghela napas. Dia menatap mata Megan yang tak begitu merah. Misaki berjalan pelan, semakin pelan, lalu menyerang besi-besi itu dengan api di tangannya. Meleleh seketika.
“Lihat, ‘kan? Betapa lemahnya dirimu,” ujarnya mencoba memancing Megan tersebut.
“Kurang ajar! Skill defense! Skill earthboot!”
Provokasi Misaki berjalan semestinya. Umur Megan itu berkurang sepuluh hari. Sementara itu, Misaki menghadapi serangan dari skillnya yang tak terduga.
“Sial, tak kusangka skillnya earth. Aku tak punya skill yang menandinginya. Aku harus pandai memprovokasi lagi!”
Napas Misaki tersengal-sengal. Megan tinggi besar itu menyerangnya dengan brutal, sementara dia hanya bisa menghindar. Kekuatannya terbatas.
“Bagaimana, gadis kecil? Masih mau menganggap skillku tak berguna?” Megan itu terkekeh.
Misaki mengangguk kuat. Dia terbang ke atas pohon untuk mengamati keadaan sekitar. Namun dia tak lagi bisa bersantai. Sekali Megan marah, skillnya tak ada hentinya menyerang Misaki.
__ADS_1
“Kamu pikir bisa lolos dariku?” teriak Megan itu.
“Hahaha, aku tak niat kabur, lho.