
Pernyataan Misaki membuat Hiroshi terdiam. Memang benar, seseorang yang bodoh membutuhkan orang lain yang akan membuatnya pintar, karena pada dasarnya orang pintar ada berkat orang bodoh. Bagi Misaki, ilmu itu penting selama masih bermanfaat untuk kehidupannya, dan kehidupan sangat penting baginya. Dia ingin bisa melindungi orang-orang yang penting, walaupun dia harus mengarungi jalan yang salah.
“Sampai. Jadi, dari mana kita akan mengobrol?” Pertanyaan Hiroshi membuat lamunan Misaki buyar.
“Kamu tahu asal mula GAS, ‘kan?” tanya Misaki to the point.
“Hahaha, kamu itu benar-benar cewek dingin, ya. Kamu tidak ingin menanyakan umurku, punya cewek atau tidak, atau yang lainnya?” Hiroshi bercanda sambil mencubit Misaki.
“Tidak penting,” jawabnya singkat.
“Waw, benar-benar dingin. Aku sakit hati, lho.”
Misaki terlihat mulai bosan. Candaan Hiroshi yang tidak lucu, pemandangan yang mengerikan, bau daun busuk, kursi yang lapuk dan sempit menambah hawa bosannya samakin besar.
“Kamu terlihat tidak semangat, maafkan aku. Oke, langsung saja. Menurut buku yang aku baca, GAS sudah ada sejak awal mula manusia diciptakan. GAS adalah salah satu makhluk yang Tuhan ciptakan dan turunkan kepada manusia pilihan agar manusia tersebut bisa melihat umurnya sendiri dan umur orang lain, dengan tujuan peringatan,” jelasnya.
“Lalu kenapa harus membunuh orang lain agar kita bisa mendapatkan tambahan umur?”
Hiroshi baru mendengar hal demikian. Dia heran dan tidak tahu-menahu tentang penambahan umur.
“Bagaimana kamu tahu hal itu? Apakah kamu sudah membunuh orang?”
“Bu-bukan begitu. Aku dapat dari mimpi,” jawabnya berbohong. Misaki belum siap jika dia harus dicap sebagai seorang pembunuh.
“Pengguna GAS disebut ‘Megan’, dan setiap Megan mempunyai kekuatan tersendiri, bahkan kekuatan spesialnya pun berbeda. Menurutku, jika kamu ingin mendapat tambahan umur, kamu harus membunuh orang. Jadi, siapkah kamu menjadi seorang pembunuh?”
Misaki terbenam dalam ketakutan. Bagaimana jika umurnya benar-benar akan habis dan dia harus membunuh orang untuk menambah umurnya?
“Bagaimana bisa aku mengorbankan orang tak bersalah demi menambah umurku? Aku harus bagaimana? Aku belum ingin mati, kenapa Tuhan memilihku dan memberi kekuatan ini? Aku benar-benar tak mengerti,” ucapnya dengan nada ketakutan.
Hiroshi merasa tak tega dengan Misaki. Misaki, cewek dingin yang berhasil membuat Hiroshi jatuh cinta sejak Misaki baru masuk universitas. Hiroshi memeluk Misaki dan menenangkan keadaannya
“Misaki, menangislah jika itu bisa membuatmu lega.”
Misaki menangis sejadi-jadinya dan memeluk Hiroshi dengan kuat. Hiroshi menerima perlakuan Misaki, seakan dia tahu apa yang dirasakannya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Misaki dalam pelukan Hiroshi, “jangan tinggalkan aku sendirian, aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi jalan hidup yang telah Tuhan gariskan. Haruskah aku memanfaatkan kelemahanku?”
Hiroshi terdiam sebentar.
“Tenangkan pikiranmu dulu, Aki.”
Aki? Mendengar ucapan itu saja sudah berhasil membuat Misaki tenang. Baginya, seseorang yang memanggil namanya dengan sebutan ‘Aki’ adalah seseorang yang menganggapnya istimewa dan penting bagi hidup mereka.
__ADS_1
“Dahulu kala, Tuhan menciptakan tiga makhluk, yaitu iblis, GAS, dan manusia. Tuhan menciptakan iblis untuk menghancurkan umat manusia, dan GAS sebagai pelindung. Namun pasukan iblis mampu mengalahkan sebagian pasukan manusia, sehingga Tuhan memberi kekuatan tambahan pada umat manusia, yaitu pasukan GAS dan memberikan kekuatan supranatural pada manusia yang masih memiliki GAS, berupa kekuatan terbang, tembus pandang, menghentikan waktu, dan masih banyak lainnya. Kamu juga tahu, ‘kan kekuatan tambahanmu adalah tembus pandang?”
Misaki hanya diam dan mendengarkan keterangan dari Hiroshi, “Aku tak mengira cerita dari asal muasal Megan begitu mencengangkan. Tapi setidaknya dengan kekuatan yang Misaki miliki, dia bisa melindungi orang-orang yang berharga.
“Hiro, kita pulang yuk,” ajak Misaki.
“Ayo, salju mulai turun lagi. Aku akan mengantarmu.”
Mereka berjalan beriringan, menyusuri pekatnya salju yang menyelimuti hari itu.
“Hiro, mengapa sesama Megan tak bisa saling melihat sisa umur dan nama?”
Hiro terlihat seolah berpikir, namun pada akhirnya dia tak bisa menjawab pertanyaan Misaki sama sekali.
“Ayo nanti kita cari bersama. Sekarang kita pulang, sebelum salju menguburmu,” tambahnya. “Kamu tau, kekuatanku adalah ... time pause.”
Misaki heran. Bagaimana dia bisa terlihat bangga dengan kekuatan aneh miliknya. Apa istimewanya bisa menghentikan waktu jika tidak bisa melakukan apapun ketika waktu telah berhenti?
“Apa bagusnya? Memang kamu bisa apa ketika waktu berhasil kau hentikan?”
“Aku butuh bantuanmu. Bekerjasamalah denganku. Kita cari Megan yang lain juga, ayo kita cari tahu asal usul dunia yang mulai aneh ini,” pintanya dengan mata berbinar-binar.
“Menjijikkan! Hentikan drama payahmu, aku tidak ada niat membantumu.”
“Cantiknya,” ujarnya.
“Kamu bilang apa?”
“Ng- anu, bukan apa-apa. Tidak penting juga. Rumah kamu di mana?” tanya Hiroshi berbasa-basi. Dia merasa jalan yang dilalui tidak begitu asing.
“Itu rumahku,” jawabnya sembari menunjuk sebuah gedung.
Rumah dengan pohon apel di terasnya, pagar dengan cat yang masih baru, serta burung-burung berterbangan di sekitar pepohonan. Rumah idaman Hiroshi.
“Ini rumah kamu? Benarkah?” Hiroshi tercengang.
Rumah idamannya tepat di samping rumah yang baru dia beli sendiri, dan rumah itu adalah rumah calon kekasihnya, Misaki, seseorang yang dia kagumi.
“Tuhan, dramamu lebih baik dari novel percintaan,” gumamnya dalam hati.
“Mampir dulu, Hiro.”
“Bolehkah?” Hiroshi tak membuang kesempatan emas yang diberikan Misaki.
__ADS_1
Misaki terlihat anggun dengan seragam sekolah dan jaket tebal yang menempel di tubuhnya dengan rambut yang terurai. Ditambah lagi senyumannya yang sangat tulus semakin membuat Hiroshi ingin melindungi senyumnya dan tak ingin melihatnya sedih, apalagi menangis.
“Ma, Aki pulang.” Suasana rumah sepi, mamanya pergi entah kemana.
“Aki, bolehkah aku bicara sebentar?” Hiroshi berniat ingin mengungkapkan perasaan tulusnya pada Misaki.
Hiroshi mengumpulkan keberanian dan tekad. Apapun jawaban Misaki, dia akan menerimanya dengan lapang dada. “Misaki, sebenarnya aku sudah me ...”
Duaarr! Suara ledakan tiba-tiba mengagetkan dan menggagalkan rencana Hiroshi. Suara itu berasal dari kamar mamanya. Mereka mungkin berlari ke arah kamar mamanya Misaki. Namun sesampai di sana, tak ada apapun kecuali kondisi kamar yang berantakan dan jendela dalam keadaan terbuka.
Hiroshi memeriksa ke arah luar jendela. Dia melihat dua sosok pria membawa mamanya Misaki pergi dengan mobil dan melesat pergi.
“Aki, aku lihat mamamu dibawa pergi dengan mobil tadi! Kita harus segera mengejar mobil itu!”
“Apa? Kenapa kamu tidak menggunakan kekuatanmu untuk menghentikan waktu? Bukannya kamu bilang punya kekuatan time pause? Bodoh sekali! Aku harus segera menyusul mama, ayo!” ajak Misaki dengan nada takut.
Misaki mengeluarkan motor dari bagasi rumahnya, dan menyuruh Hiroshi naik.
“Tidak, aku saja yang menyetir. Kamu sedang dalam keadaan panik, ingat! Aku tak mau keadaanmu membuat semua ini semakin kacau!” Misaki mengiyakan perintah Hiroshi dan bertukar tempat.
Meski tekad mereka berkobar seperti api membara, namun mereka tak tau arah mana yang ingin mereka tuju, “Kita ke arah mana?” tanya Hiroshi.
“Bisakah aku menggunakan kekuatanku? Aku ingin mencobanya dahulu,” ujar Misaki.
Misaki memejamkan mata, memfokuskan kekuatan. Beberapa detik, Misaki membuka matanya. Merah darah.
“Ketemu! Aku akan memandumu, sekarang belok kanan, Hiro.”
Aksi kejar-kejaran di jalanan tak dapat di hindari lagi. Tetap saja, Hiro bukanlah pengendara handal. Berbeda dengan pengendara mobil yang menculik mamanya, dia lebih cepat dan gesit.
“Aki, sepertinya kita kehilangan jejak. Aku tak bisa mengejarnya.”
Misaki terlihat panik dan khawatir. Hiroshi menghentikan motor dan menepi. Dia mencoba menenangkan Misaki.
“Kita akan cari lagi, bagaimana? Apakah kamu masih bisa menggunakan kekuatanmu?” tanya Hiro pelan-pelan.
“Mataku sakit, Hiro.” Misaki merasakan sakit yang luar biasa di matanya. Dia memeriksa bagian mata, takut ada yang luka. Namun bukan luka yang dia lihat, justru keterangan umur yang berkurang lima hari. Sisa umur Misaki tinggal tujuh hari lagi.
“Ti-tidak mungkin, ini tidak mungkin! Aaaaaa!” Misaki berteriak sangat kencang membuat Hiro panik, bahkan para pejalan kaki sempat berhenti untuk melihat kejadian aneh itu.
__ADS_1
Entah Misaki mendapat kekuatan dari mana, dia seakan pandai menganalisis masalah. Misaki menyimpulkan bahwa tiap dia membunuh satu manusia, umurnya bertambah tujuh hari, sedangkan setiap dia menggunakan kekuatannya, umurnya berkurang lima hari.
“Hiro, umurku berkurang lagi. Aku tak punya waktu lagi, mama harus segera aku selamatkan!”