Savage

Savage
Ghost Age Shadow (GAS)


__ADS_3

“Misaki, menangislah jika itu bisa membuatmu lega.”


– Hiroshi –


Misaki, salah satu mahasiswa di Universitas Arashi jurusan Kedokteran di Negeri Sakura mempunyai kekuatan supranatural yang didapatkan secara tidak sengaja. Kini dia mempunyai pemandu dalam hidupnya guna menggunakan kekuatannya bernama Ghost Age Shadow atau yang biasa disingkat GAS. Misaki memberi nama GAS miliknya Kuro-chan.


“Kuro, ada berapa orang yang memiliki kekuatan ini?”


“Tidak banyak. Di Jepang hanya ada lima, salah satunya adalah kamu, Misaki,” jawab GAS.


Mendengar hal itu, Misaki jadi memikirkan sesuatu, “Apakah pengguna GAS bisa melihat GAS milik orang lain?” dan Kuro-chan mengiyakan pertanyaannya.


 


“Percuma saja aku bertanya, dia hanya bisa mengulang apa yang pernah kuucapkan,” Misaki berlalu dengan penuh kekecewaan.


Jepang kembali diselimuti salju, jalanan licin. Misaki pergi ke kampus dengan pakaian tebal dikawal oleh GAS miliknya. di sepanjang perjalanan menuju kampus, dia harus bertarung dengan salju yang menutup sebagian jalan dengan ketebalan lebih dari lima senti meter.


“Aki, lama tak berjumpa. Aku kangen kamu,” Mitsuha kembali mengagetkan dirinya.


“Iya, aku juga ka ... ngen,” Misaki terhenti sejenak dan fokus matanya tertuju ke bayangan di balik tembok jurusan Marketing.


“Apa barusan?” tanya Misaki


“Ada apa, Aki?”


Misaki tak menjawab pertanyaan Mitsuha. Misaki baru saja melihat GAS milik orang lain. Dia ingin mengejar GAS itu, namun sepertinya jika di kampus dia tak akan bisa bergerak bebas.


 


Selesai kuliah, Misaki menelusuri seluruh koridor kampus mencari GAS yang tadi dilihatnya, namun hasilnya nihil. Tak ada satu pun tanda\-tanda keberadaan GAS di sekitarnya. Dia memutuskan untuk segera pulang. Tepat sebelum dia melangkah pergi, dia melihat bayangan hitam di balik tembok yang sedang mengawasi Misaki.


“Siapa pemilikmu!” teriak Misaki.

__ADS_1


Tak ada jawaban. Misaki terpaksa menggunakan kekuatan matanya.


“Ketemu!” Misaki menyeringai dan segera lari menghadang pemilik GAS yang dilihatnya.


“Lho, Mitsuha? Kamu sedang apa di sini? Bukankah kamu sudah pulang tadi?” Misaki tidak merasa curiga sama sekali dengan Mitsuha.


“Aki, kamu juga sedang apa di sini? Aku sedang menunggu guru, katanya dia mau ketemuan. Aku mau protes dengan nilai yang kita dapatkan kemarin. Kita sudah melakukan semuanya, bahkan kita rela menghadapi maut, tapi apa yang kita dapatkan?” Mitsuha berguman dengan nada membara-bara dengan tangan kiri mengepal dan tangan kanan menunjukan nilai B – yang mereka dapatkan.


Misaki terkekeh. Baru kali ini dia melihat tingkah Mitsuha yang begitu konyol. Misaki hampir saja melupakan GAS yang dilihatnya barusan. Dia harus segera bergegas sebelum pemiliknya pergi.


 


“Woi, kamu jangan diam saja, cari juga sana!” bentak Misaki GAS miliknya, Kuro.


“Aki? Kamu sedang latihan drama atau semacamnya, ‘kan? Jangan membuatku takut,” ucap Mitsuha ketakutan melihat tingkah temannya.


Misaki melupakan satu hal. Mitsuha tidak bisa melihat GAS. Misaki berbohong bahwa dia sedang kesal, sehingga Mitsuha tak menaruh curiga padanya, lalu dia berlalu begitu saja.


 


Misaki pulang dengan berjalan kaki sendirian, menelusuri tiap jalan dalam selimut salju. Di tengah perjalanan, dia melihat GAS yang dilihatnya di kampus. Dia bergegas mengejar dengan langkah kaki terhambat salju. Gerakannya lambat. Misaki berjuang mengejar GAS tanpa peduli tebal salju, tanpa peduli dingin yang menusuk. Dia hanya menginginkan satu hal, ada sesama pengguna GAS dan mau membagikan informasi tentang semua kekuatan aneh yang terjadi padanya.


“Berhenti, tolong berhentilah!” teriak Misaki yang hampir kehabisan napas.


Pemilik GAS berhenti. Awalnya Misaki ragu untuk menyapanya, tetapi karena keinginan kuatnya, dia mengumpulkan keberanian dan menghampiri sang pengguna GAS. Misaki menepuk pundak sang pengguna agar dia mau menoleh Misaki yang tengah dilanda kebingungan.


“Ma-maaf, boleh berbincang sebentar, Pak?” betapa kagetnya Misaki, sang pengguna GAS ternyata seorang kakek-kakek tua dengan pakaian ala boy band.


“Jangan khawatir, ini hanya topeng. Mau berbincang tentang apa, cantik?” Genit!


“Gantengnya,” gumamnya refleks dengan mulut terbuka dan mata terbelalak.


Lelaki itu tersenyum simpul mendengar ucapan Misaki.

__ADS_1


Misaki tertunduk di depan cowok tersebut saking malunya. Mukanya memerah, dia tak berani menatap sang cowok. “Tuhan, aku takut jatuh cinta,” bisikan hatinya begitu mendramatisir.


 


“Misaki, kita harus pindah dari sini, ada banyak orang.” Hanya satu pertanyaan yang menggema di dalam pikiran Misaki. Bagaimana sang cowok ganteng ini bisa mengetahui namanya? Pasti stalker.


“Bagaimana kamu tahu namaku? Oiya, nama kamu sendiri siapa?”


“Agak tidak sopan! Bagaimana kamu tidak tahu namaku, cowok paling ganteng di Universitas Arashi, paling popular, Hiroshi.”


“Apa! U-universitas Arashi? Kok aku tidak pernah mendengar namamu disebut, apalagi melihatmu. Katanya popular, agak mencurigakan,” ujar Misaki, tangan ditempelkan di dagunya dan menatap Hiroshi dengan tatapan penuh curiga.


Hiroshi menunjukan ekspresi santai, dan lirikan tajam serta gaya andalannya. Menggigit bibir sebelah bawah yang bisa membuat siapapun yang menatapnya terpesona.


“Kamu ngapain?” Benar-benar cewek dingin. Baru kali ini ada cewek yang tidak mimisan melihat gaya andalannya. Dia cewek atau bukan, sih? Tapi bukan itu inti dari cerita ini.


Hiroshi dan Misaki pergi mencari tempat sepi untuk segera mengobrolkan GAS dan kekuatan supranatural yang mereka miliki. Hiroshi menuntun Misaki ke arah taman yang sudah lama tidak dibuka untuk umum sebab tragedi yang terjadi di dalam taman, pembunuhan.


“Hiro, kita mau kemana? Kok tempatnya sepi, ya?”


“Kita mau cari tempat sepi dan aman untuk segera ...,” Hiroshi menghadap Misaki, menatapnya tajam dan meraih pundaknya. Wajahnya lama-lama mendekat, hanya selisih lima senti meter.


Misaki kaget, wajahnya merah. Dia dengan spontan mendorong Hiroshi, “Mesum!”


“Hahaha, bercanda. Kita akan mencari tempat sepi agar kita bebas membicarakan GAS dan kekuatan kita. Ayo, bergegas. Dan satu hal lagi, aku akan membalas perbuatanmu ini. Aku akan mendorongmu lebih keras dan kamu akan bertekuk lutut di hadapanku,” ucapnya dengan lirikan tajam dan berseringai.


Tak ada waktu untuk takut sekarang. Misaki harus tahu asal mula GAS dan kekuatan yang dia miliki. Perjalanan semakin mencekam. Di sepanjang jalan setapak taman tak ada satupun yang berwarna. Semua pemandangannya suram, bahkan salju tak ada yang bersinggah di sini.


 


“Misaki, kamu tau, tempat ini adalah tempat pembunuhan lima tahun yang lalu. Tak ada satu orang pun yang berani memasuki wilayah ini. Kenapa kamu mau mengikutiku, orang yang baru saja kamu kenal. Sungguh, kamu benar\-benar orang bodoh.”


“Terimakasih pujiannya. Rasa ingin tahu yang kumiliki lebih besar dari rasa takutku sekarang. Itulah yang membuatku mempercayai orang yang berhubungan dengan keinginanku. Aku memang bodoh, makanya aku membutuhkan orang lain yang akan membuatku pintar. Apakah aku salah?”

__ADS_1


__ADS_2