
“Dunia lain bukanlah sesuatu yang diselimuti kehampaan, ‘kan? Dunia lain, atau lebih tepatnya tempat di mana kita akan berada di sana setelah meninggalkan dunia yang sekarang adalah dunia yang indah bagi mereka yang selalu berbuat kebaikan, begitu juga sebaliknya”
– Dewa –
Dalam keadaan terdesak, Misaki melawan dewa itu hanya dengan mengandalkan skill yang dimilikinya.
“Kamu sedang apa, calon pembunuhku? Bukankah kamu harus lebih kuat lagi untuk membunuhku?”
Napas Misaki tersengal-sengal. Seluruh kekuatannya terkuras habis. Tak ada satu serangan pun yang berhasil mengenainya. Dalam keadaan terdesan, Misaki mengikat sosok dewa di depannya dengan skill pohon miliknya, lalu terbang dan membakar dewa. Sekali lagi, dewa itu berhasil lolos dari serangan beruntun Misaki.
Sebuah cermin ajaib menggelayut di tengah-tengah pohon. Pandangan Misaki teralihkan. Hiroshi, Mitsuha, dan Yato masih terbaring di tempat tidur rumah sakit yang dingin. Tak ada satupun yang menjenguk mereka. Misaki menangis.
“Aku hanya ingin menyelamatkan teman-temanku dan membuat dunia yang kacau ini menjadi lebih tenang. Apa aku salah, dewa?” tanya Misaki.
Sang dewa hanya menyeringai sebentar. Kekuatan besar mendorong tubuh Misaki sampai terpental jauh. Dewa itu dengan cepat menghampiri tubuhnya yang tak berdaya.
“Jangan mimpi! Dunia ini penuh dengan sampah tak berguna. Saling membunuh, hal yang sudah akrab bagi manusia, ‘kan? Salahkah aku jika ingin membuatnya lebih menarik?” dewa mulai terkekeh.
Kaki Misaki lemas, namun dia tetap mencoba berdiri.
“Jangan pernah bermain-main dengan duniaku!”
Matanya memerah, auranya begitu pekat. Misaki merasakan kekuatan dalam tubuhnya lebih besar.
“Hahaha, dasar manusia rendahan! Tahu apa kamu tentang dunia busuk ini, yang di dalamnya hanya dipenuhi dengan manusia tak berguna? Menyebarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme dimana-mana, pembunuhan, pencurian, kekerasan anak-anak, bahkan **** bebas. Dunia ini hanya penuh dengan manusia yang dilumuri dosa. Bukankah sebaiknya kukiamatkan dunia ini sebelum dosa mereka tambah banyak?”
Seketika hening. Apa yang dikatakan sang dewa ada benarnya. Dunia yang penuh dengan manusia tak berguna, sebaiknya dimusnahkan.
“Lalu bagaimana dengan manusia yang mengagungkan dewa, sang penguasa dunia yang sesungguhnya? Bukankah keberadaan mereka dibutuhkan?”
“Jangan main-main denganku, sang dewa agung! Dan jangan pernah kamu berpikir bisa mengalahkanku sendirian dengan skill yang belum sempurna! Kamu harus memakan seluruh kekuatan Megan di dunia ini jika ingin mengalahkanku!”
Skill aneh diaktifkan sang dewa. Sebuah gelembung besar keluar dari kedua telapak tangannya, mirip kamehame.
“Skill defense full!”
Gelembung besar hitam berbintik itu mengarah ke arah Misaki, melaju dengan cepat. Mata Misaki terbelalak.
__ADS_1
“Skill slow motion full!” Pergerakan gelembung mulai melambat. “Kenapa aku tak kepikiran dengan skill ini?”
“Hebat juga. Dalam keadaan terdesak, otakmu masih berguna. Selamat, kamu pantas menjadi calon pembunuhku,” kata sang dewa.
Sang dewa mengambil buku hitam ajaib, sama persis dengan yang dimiliki Misaki.
“Ambillah!” dia melemparkan buku ajaib itu kearah Misaki.
Misaki cuek. Buku yang terlihat cantik itu dibiarkan jatuh ke tanah putih yang penuh dengan bunga sakura gugur.
“Woy, kenapa tidak ditangkap?” tanya dewa geram.
“Maaf saja, aku sudah punya satu. Jadi buat apa aku mengambilnya lagi? Lagipula buku itu terlihat lebih jelek.”
Sang dewa geram. Baru kali pertama buku miliknya yang amat diagung-agungkan dikatai jelek. Kedua tangannya dikepalkan kuat-kuat. Misaki menjadi objek yang sangat difokuskan. Misaki gemetar mendapati dewa yang mulai geram.
“Buku ini memang jelek. Cetakannya lebih tua daripada buku yang ada di tanganmu itu. Tapi setidaknya, jangan katakan dengan terang-terangan, donk. Itu membuatku sedih.”
“Dewa yang bodoh,” ketus Misaki membelakang dirinya sendiri.
Rinai salju keluar dari peraduan, menikam tubuh Misaki dengan penuh dingin yang merindu.
Masih dengan muka bodohnya, dewa itu terdiam sejenak.
“Dunia lain bukanlah sesuatu yang diselimuti kehampaan, ‘kan? Dunia lain, atau lebih tepatnya tempat di mana kita akan berada di sana setelah meninggalkan dunia yang sekarang adalah dunia yang indah bagi mereka yang selalu berbuat kebaikan, begitu juga sebaiknya,” jelas dewa dengan mata berkaca-kaca.
Tidak ada suara lain selain angin sepoi-sepoi yang menabrak mereka berdua. Penjelasan sang dewa memang sudah biasa didengarnya.
“Ah, jadi, sampai di mana tadi?” tanya Misaki polos.
“Woy, kamu tidak mendengarkanku?” dewa mulai geram, “maka akan kubuat kamu paham dengan ucapanku!”
Pertarungan kembali menyengit. Sang dewa melancarkan tiap serangan menggunakan skill miliknya. entah berapa banyak skill yang dia punya, namun Misaki masih tetap bertahan. Sang dewa hampir tumbang. Jika saja satu serangan terakhir Misaki mengenainya, dewa itu pasti kalah.
“Ini ... belum berakhir! Manusia rendah!”
“Jangan pernah memanggilku manusia rendah! Dasar dewa bodoh! Skill complete!”
__ADS_1
Empat titik berhasil mengurung sang dewa. Misaki terlalu cepat puas. Dewa itu begitu kuat. Dinding pengurung dengan mudahnya bisa ditebas hanya dengan sekali ayunan tangan tanpa skill apapun.
“Ba-bagaimana bisa?”
“Kamu lupa? Aku itu dewa!”
Mata dewa itu merah menyala, membuat Misaki ketakutan. Dia tersungkur mundur, dengan tatapan yang dipenuhi rasa takut.
“Sekarang bersiaplah kembali ke bumi! Makanlah seluruh skill para Megan. Saat itulah, kamu akan kupanggil kembali untuk membunuhku! Skill complete!”
Misaki terkurung di dalam empat skill utama. Dia berusaha keluar, namun tak bisa. Kekuatannya terkuras saat pertarungan.
“Dewa, apakah saat aku kembali ke bumi aku akan mati?” tanya Misaki mengulur waktu sampai kekuatannya pulih.
“Tentu tidak! Ingat pesanku, hisap seluruh kekuatan Megan di bumi. Selamat tinggal!”
“Tunggu dulu ...,”
“Apa lagi?”
Dewa mulai muak dengan Misaki yang banyak tanya. Dia sengaja melemahkan garis pelindungnya agar suara Misaki terdengar jelas.
“Kamu lebih cocok menjadi manusia. Sifatmu, kekuatanmu, tingkah gokilmu, semuanya seperti manusia,” sang dewa tercengang. Matanya terbelalak mendengar ucapan Misaki. “Begitu sudah cukup!”
Prank!
Dinding pelindung berhasil dipecahkan. Misaki keluar dari perangkap itu dan menyerang dewa itu dengan brutal.
“Manusia memang gigih, aku suka gayamu. Hahaha! Tipu muslihatmu mudah ditebak! Skill woodboot!”
Ikatan dewa sangat kuat. Tubuhnya tak dapat digerakkan sama sekali. Misaki kalah. Gemetaran sudah menjadi hal biasa untuk Misaki. Sang dewa mulai mendekat dengan benda hitam di tangannya. Bukan sabit maut, melainkan buku ajaib lusuh yang lebih mirip buku diary.
“Bawalah ini. Kamu akan membutuhkannya,” kata dewa sembari menyelipkannya di antara ikatan yang mengurungnya. “Skill complete full!”
Tubuh Misaki kembali terkurung di dalam dinding skill. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya mulai terangkat. Perutnya mulai mual, kepala terasa berat. Perlahan tubuh Misaki berbaur dengan partikel.
“Selamat tinggal, dewa. Aku pasti akan kembali dengan kekuatan yang cukup untuk membunuhmu.”
__ADS_1
Sang dewa melihat Misaki. Seringai menghiasi bibirnya.
“Pastikan kamu lebih kuat, Misaki!”