
Hening, tak ada ide sama sekali muncul di pikiran mereka. Hiroshi mengangkat tubuh Misaki dan memeluknya dengan erat. Air mata dari kelopaknya tak dapat dibendung lagi. Setelah sekian lama tak bertemu, dan kini mereka dipertemukan dengan keadaan yang amat buruk. Hiroshi mengguncang-guncang tubuh Misaki, tanpa diduga, sebuah buku terjatuh dari balik jubah Misaki.
“Buku? Bukankan ini yang tadi digunakan Misaki untuk memecahkan masalah?” tanya Mitsuha.
Yuuji merebut buku itu dari tangan Mitsuha dan membuka isinya. Kosong.
“Kosong?”
Hiroshi mengingat-ingat cara Misaki menggunakan buku ajaib itu. Dia sedari bertemu dengan Misaki tak dapat mengalihkan pandangan dari gadis pujaan hatinya, sehingga dia tau setiap gerak-gerik Misaki.
“Coba aku lihat,” Hiroshi membuka lembar pertama buku tersebut, bertuliskan give me your blood, “seingatku tadi Misaki melukai dirinya sendiri,” Hiroshi mencoba cara yang dilakukan Misaki.
“Orang gila! Apa yang kamu lakukan?” Mitsuha menghentikan Hiroshi.
“Diam!”
Darah Hiroshi ditelan buku ajaib tersebut. Buku itu melayang-layang ke udara dan menghempaskan lembaran pertama, “Thanks for your blood. Now, you can ask anything to me about Megan. I will answer” tertulis jelas di buku itu.
“Ba-bagaimana cara menolong Misaki?” Hiroshi terbata-bata ragu.
Buku ajaib dengan sampul hitam pekat itu bercahaya, memberi respon dari pertanyaan yang dilontarkan Hiroshi.
“Gunakan cara untuk memperpanjang umur ‘kalian’,” tulisnya.
“Lalu apa maksudnya ini?” Yuuji masih tak mengerti, “bagaimana kita bisa menggunakan cara memperpanjang umur kita, sedangkan di sini yang akan kita selamatkan Misaki? Buku bodoh!” Yuuji mulai kesal.
Mitsuha terdiam, berpikir keras dengan otaknya yang tergolong pintar. Jari telunjuknya dipukul-pukul lembut ke otaknya.
“Yuuji, apa yang harus kamu lakukan untuk memperpanjang umur?” tanya Mitsuha.
“Pertanyaan bodoh macam apa itu. Seluruh tim Warped harus mengambil nyawa orang lain untuk memperpanjang umurnya.
Cukup masuk akal, tim Warped hanya membunuh orang-orang yang tak berguna bagi negara Jepang. Di sekitar mereka tak ada lagi manusia hidup, semuanya telah jadi mayat. Kecuali prajurit pemerintah. Sekali membunuh, dia tak akan selamat.
__ADS_1
Seketika otak Mitsuha terang benderang. Satu ide berhasil masuk perangkap, dia yakin bisa menyelamatkan Misaki, orang yang telah menyelamatkannya.
“Aku punya ide!”
Dua pasang mata menatap Mitsuha dengan serius.
“Hiroshi, bukankah umurmu masih banyak? Cepat! Waktu kita tak banyak.”
Hiroshi tertegun. Dia tak percaya harus bunuh diri di depan banyak orang. Jika dia merasa kesakitan akan menjadi hal yang memalukan.
“Tak apa, lakukanlah. Mungkin ideku ini bisa menyelamatkan Misaki.
Mitsuha mengangkat bahu, menghela napas perlahan. Dia mendekat ke arah Hiroshi dan memukul bahunya. Tubuh Hiroshi diputar menghadap ke Misaki.
“Kamu lihat dia, orang yang kamu cintai tengah kritis, dia hampir mati. Apa yang sudah kamu lakukan untuknya? Diam di tempat? Lakukan! Percayalah, itu akan menyelamatkannya,” Mitsuha meyakinkan Hiroshi.
Hiroshi menatap Misaki nanar, dia agak ragu. Namun baginya Misaki lebih berarti daripada rasa sakit yang akan menghampirinya dalam sekejap. Dia meletakkan sebilah pisau di tangan Misaki dan menusukkan tepat di jantungnya.
Mitsuha tersenyum sebentar, dia tampak ragu dengan langkah selanjutnya. Dia menatap Misaki yang masih terkulai lemas, sementara sisa umurnya hanya satu jam lagi.
“Di mana aku?” Misaki melihat sekelilingnya berwarna putih, “kenapa pipiku basah?
Sebuah cahaya menggumpal di depan Misaki. Takut, suatu perasaan yang tak pernah singgah di hatinya kini tengah bertamu.
“Apakah kamu mau mati sekarang?” gumpalan cahaya itu bertanya.
“Belum! Aku belum sempat meminta maaf pada semua orang. Bahkan aku belum sempat pacaran.”
Cahaya itu berbentuk manusia, lelaki paruh baya. Dia menyentuh bibir Misaki seraca berucap, “sadarlah, anakku. Orang-orang yang kau anggap berharga tengah menunggumu harap-harap cemas.
Misaki tersadar.
“Dimana aku?” tanya Misaki.
__ADS_1
“Jangan bergerak dulu, kamu harus segera dibawa ke rumah sakit,” Hiroshi mulai khawatir.
Rasa pening menyelimuti kepala Misaki, dia kembali tak sadarkan diri. Dengan cepat mereka membawa Misaki ke rumah sakit yang masih layak digunakan.
“Aku harus pergi,” ujar Yuuji.
Yuuji membalikkan kakinya. Dari belakang Misaki menarik jubahnya menahan dia pergi.
“Jangan pergi, kita sudah melalui ini sama-sama. Ayo kita lakukan sekali lagi, bersama-sama.”
“Maaf, Misaki. Lihat, Natsumi, Yuki, dan Hitori sedang menungguku.”
Misaki menatap mereka nanar. Dia ingin menggapai mereka, namun tak bisa. Misaki melambaikan tangannya pada mereka. Air mata tak bisa terbendung lagi, Yuki menangis.
“Yuki, kamu kenapa menangis?” tanya Misaki.
“A-aku tak menangis, Misaki. Kamu ingat pesanku, ya. Jangan pernah gunakan skillmu secara berlebihan. Lihat hasilnya!”
Sebesar apapun usahan Yuki menahan, air mata tetap saja terjatuh bebas meninggalkan kelopak mata yang mulai sayu.
Dia melangkahkan kaki dengan cepat, menjemput rekan timnya yang mulai siuman lalu pergi ditelan gelapnya malam.
Mitsuha dan Hiroshi membawa Misaki dan Yato ke rumah sakit dengan truk prajurit yang masih bisa berjalan. Pemandangan mengerikan, seluruh prajurit meninggal dengan luka-luka berat. Jika saja mereka berdiri di dalam gedung tanpa skill defense milik Misaki pasti mereka tak akan selamat.
“Mitsuha, bukankah Misaki menduplikasi skill defense darimu? Mengapa tadi kamu tak menggunakannya?” tanya Hiroshi, nadanya seperti orang kecewa.
“Memang, aku bisa mengaktifkannya. Tapi kekuatanku tak seperti Misaki. Bisa dibilang, kekuatanku hanya 0,001% dari kekuatannya. Seandainya aku menggunakannya hanya akan membuat umurku berkurang tanpa pengaruh apapun,” jelasnya.
Hiroshi menggeleng-geleng tak percaya. Mitsuha memang pintar, tapi hatinya dipenuhi dengan kepesimisan.
Sesampai di rumah sakit, Misaki dan Yato dibaringkan pada sebuah ranjang dengan bantal beraroma balsam, ciri khas rumah sakit. Mitsuha menghubungi mamanya Misaki.
“Apa? Misaki masuk rumah sakit?” mamanya terdengar begitu kaget mendapati satu kabar keberadaan anaknya, rumah sakit.
__ADS_1
Mama Misaki terdengar tersedu-sedu dari balik gagang telepon.
“Tante akan segera ke sana. Tolong jaga Misaki, ya.”