
Misaki mendekati Mitsuha yang masih ketakutan dan membantunya berdiri. Mitsuha sangat lemas, bahkan untuk berdiri saja tidak mampu. Ditambah lagi dengan luka kakinya yang belum sempat diobati.
“Mitsuha, maaf. Gara-gara aku, kamu sampai lemas seperti ini. Sini kugendong,” kata Misaki menyodorkan punggungnya.
“Bukannya kamu lemas juga, Aki? Ditambah lagi kamu baru saja menyelamatkan nyawaku dan bertarung mati-matian. Aku tak ingin membuatmu repot.”
“Sudahlah, ayo. Aku akan menggendongmu.”
Mitsuha naik ke punggung Misaki. Dia merasakan detak jantung Misaki seperti orang ketakutan, namun dia tak berani menanyakannya. Mistuha lebih tahu betapa terpukulnya perasaan orang ketika baru pertama kali membunuh seseorang.
“Misaki, maaf. Demi melindungiku kamu sampai membunuh lelaki tua itu. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Mitsuha.
“Merepotkan,” jawabnya singkat. “Bagiku melindungi seseorang yang penting bagiku adalah prioritas utama, kamu jangan pernah menyalahkan diri sendiri atau aku akan merasa sedih mendengarnya,” terusnya.
Misaki terus berjalan. Ingatan pembunuhan yang baru saja dia lakukan menggoda pikirannya. Baru pertama kali dalam hidupnya membunuh manusia. Perasaan bersalah merasuki dirinya. Namun semua yang terjadi merupakan kesalahan lelaki tua itu. Jika saja dia tidak berusaha membunuh mereka, pasti semua ini tak akan terjadi.
“Ah, itu dia jalan keluarnya. Syukurlah kita selamat, Mitsuha.”
__ADS_1
Hening. Mitsuha terdiam.
“Mitsuha?” Misaki mulai heran. Dia khawatir kejadian seperti tadi terulang lagi. Perlahan Misaki menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaan Mitsuha.
“Haishh ... bikin merinding. Aku kira dia hilang. Mitsu, kamu pasti capek sekali, ‘kan? Sampai tidur seperti ini.”
Misaki terus berjalan keluar dari hutan. Waktu mulai gelap. Dia langsung menuju mobil yang sedari siang terparkir di depan rumah kosong dan pulang ke rumah. Mama Misaki sudah menunggu mereka dengan wajah khawatir. Ketika mendengar deruan mobil, dia meluncur ke depan rumah menyambut anak semata wayangnya.
“Aki! Oh, Aki sayang. Kamu tidak apa-apa, ‘kan? Mama khawatir sekali.”
“Aki baik-baik saja, Ma. Mitsuha, mampir dulu sini!” teriak Misaki ke arah mobil Mitsuha.
Misaki melambaikan tangan.
“Aki, cepat bersihkan badanmu. Bau banget!” ketus mamanya.
Misaki mengangguk. Dia pergi ke kamar mandi dengan langkah kaki berat. Setiap kali memandang tangannya, dia mengingat pembunuhan yang beru saja dia lakukan.
__ADS_1
“Bagaimana ini, tanganku, tanganku. Kamu baru saja membunuh manusia, membunuh! Aku baru saja jadi pembunuh!”
Misaki ketakutan, dia terpuruk di kamar mandi, mencoba membenamkan dirinya di dalam air selama mungkin berharap dia bisa melupakan kejahatan yang dia lakukan. Tetapi semuanya sia-sia saja. Tak ada satu ingatan pun yang berhasil dia buang. Yang ada hanya bayang-bayang hitam menjelajahi tiap pikirannya.
Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Otaknya terus meronta-ronta, membuatnya depresi. Misaki menutup kupingnya rapat-rapat, berharap suara itu tak terdengar lagi.
Mata merah. Misaki berusaha membaca kembali sisa umurnya. Dia masih saja tak percaya dengan kekuatan supranatural yang dia miliki.
“Apa? Tiga belas hari? Bukankah harusnya sisa umurku enam hari?” Misaki heran. Bagaimana bisa umur bertambah dengan sendirinya?
Misaki mengingat apa saja yang dia lakukan dari kemarin sampai hari ini yang berpotensi menambah umur, namun jalan pikirannya buntu.
“Aarrgghh ... ayolah, berpikir sedikit jenius!”
Misaki terhentak. Dia ingat dengan mimpi yang pernah singgah di dalam tidurnya. Apabila membunuh seseorang, umurnya akan bertambah. Apakah itu benar-benar terjadi?
“Benar! Ingat, Misaki. Kamu baru saja membunuh satu manusia di hutan Okigahara. Itu artinya, umurmu bertambah, hahaha.”
__ADS_1
“Si-siapa kamu?”