
“Y-Yuki, Yuki itu artinya salju, ‘kan? Andai saja namaku Yuki, bukankah aku bisa mengalahkan dinginnya salju ini? Apa-apaan aku ini. Apanya yang istimewa dariku? Menyelamatkan orang yang aku cintai saja tidak mampu,” Hiroshi tertunduk malu.
Angin dari balik lubang-lubang itu berhasil menembus hangatnya kebersamaan mereka. Hiroshi, dialah angin dingin itu dan berhasil menggugah semangat kebersamaan mereka lagi.
“Hei, Hiro. Bukankah akan lebih baik jika kamu ikut denganku?” ujar Yukine.
Hiroshi mendongak. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Dia memeluk Yukine erat. Sementara rekannya yang lain memandang jijik.
“Eh? Apa? Ngapain kamu peluk-peluk?” kata Hiroshi malu. Dia membuang mukanya dari pandangan Yukine.
“Bukankah kita semua keluarga? Ayo kita cari Misaki bersama-sama,” Yukine tersenyum simpul. Dia menyodorkan tangannya, meraih Hiroshi.
“Yuki, kau harus dewasa dan rela patah hat– ” Yukine membungkam mulut Hitori yang lebih mirip keran bocor itu.
Hiroshi terhenyak. Dia menatap mata Yukine dengan pandangan curiga. Sementara kepala Hitori masih berada tepat di ketiak Yukine menjadi sasaran empuk ketakutannya.
“Sakit, Yuki!” ujar Hitori. Kepalanya sedari tadi dipukul-pukul karena kepanikannya.
“Anu, Hiro. Ki-kita masih teman, ‘kan?”
Hiroshi semakin mendekat. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sementara Yukine tertunduk dan menyipitkan matanya. Dia menarik kepalanya jauh-jauh, berusaha menghindari pukulan Hiroshi. Namun semua kejadian berlangsung tak lama. Yukine tak mendapat pukulan. Hiroshi meraih pundak Yukine.
“Yukine, ayo kita berangkat. Salju semakin tebal, aku khawatir dengan Misaki,” ujar Hiroshi. Dia melupakan perkataan Hitori begitu saja.
Mereka bergegas pergi, meninggalkan rekan lainnya.
“Kami pergi, ya. Kita akan membawa Misaki kembali,” ujar Hiroshi yakin.
“Ya, ya. Bawa adikku kembali. Lagi pula aku lebih mengandalkan Yukine. Kamu itu lemah, kamu yakin bisa menahan dinginnya salju?” ujar Yato.
Yato menyeringai, menatap Hiroshi dengan penuh dendam masa lalunya. Hiroshi tak mengacuhkannya. Dia terus bergerak maju dan bertekad akan menyelamatkan Misaki.
“Misaki, tunggu aku!”
Badai salju terus membesar, tubuh Hiroshi mulai kedinginan. Sementara Yukine terus maju dan menggunakan kekuatannya untuk melacak keberadaan Misaki. Hiroshi melihat kesungguhannya.
__ADS_1
“Aku tak boleh menyerah dan membiarkan dia merebut Misaki!” batinnya.
Hempasan bola-bola salju menabrak tubuh mereka, perlahan rasa lelah tak dapat dihindari. Yukine masih menggunakan kekuatannya saat tubuhnya lemah.
“Yuki, berhentilah menggunakan kekuatanmu. Tubuhmu terlalu lemah,” ujar Hiroshi.
Yukine tak mengindahkan ucapan Hiroshi.
“Ketemu! Hiroshi, di sebelah sana! Kita harus cepat,” Yukine menunjuk arah pohon sakura di balik bukit itu.
Hiroshi lari menuju lokasi dengan kecepatan kilat. “Yukine, akhirnya perjalanan kita tak sia-sia! Ayo, cepat Yuki –” Hiroshi menoleh ke belakang, Yukine terbaring lemah di antara salju yang menggunung.
“Yukine! Yuki!” Hiroshi kembali. Dia menggoncang-gongcangkan tubuh Yukine.
Perlahan dia membuka matanya. “Hiro, bergegaslah. Misaki dalam bahaya,” ujarnya.
Hiroshi tak bisa meninggalkan Yukine begitu saja. Dia mengendong Yukine agar sampai di tempat Misaki. Berat, namun tak seberat rasa sakit yang dirasakan Yukine saat melihat Hiroshi bersama Misaki.
“Kali ini, aku akan menghargai perasaanmu, Yuki. Hatimu sangat baik. Aku akan mempertemukan kalian. Aku tak ingin menjadi super hero di balik bayang-bayangmu!”
“Aduh, bagaimana ini? Mereka pingsan semua.”
“Hi-Hiroshi, kamu datang menyelamatkanku?” suara Misaki terdengar sayu.
“Lihatlah, dia yang berjuang keras untukmu. Makanya jadi orang jangan keras kepala,” ujar Hiroshi sembari mengelus-elus kepala Misaki.
Wajah Hiroshi terlihat bingung. Tak ada cara untuk pulang, kecuali Misaki bisa menggunakan kekuatan terbangnya. Namun kondisinya bahkan lebih buruk dari biasanya.
“Hiro, tikamlah jantungku.”
“Apa! Jangan gila!”
“Dengan kamu membunuhku, semua kekuatanku akan kamu miliki juga. Selamatkan kami,” jelas Misaki. “Lihatlah, observasi!” Misaki memperlihatkan sisa umurnya yang tinggal 20 hari, “aku tak akan mati,” terusnya.
Hiro tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala tanda menolak. Dia menatap mata Misaki sayu, napasnya menderu tak beraturan, mukanya pucat pasi. Sekujur tubuh Misaki dan Yukine sedingin es. Hiroshi harus melakukan sesuatu sebelum badai salju mengalahkan kesadaranya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Aki.” Hiroshi menusuk jantuk Misaki dengan pisau yang selalu melekat di sakunya.
Darah mengucur, keluar dari bekas tusukan tepat di jantung Misaki. Matanya perlahan menutup. Hiroshi lemas, dia melempar pisau yang menancap di jantung Misaki jauh-jauh. Kelopak matanya melelehkan bulir bening hangat.
“Aki, bertahanlah. Aku akan membawamu pulang. Jadi, aku mohon bertahanlah!”
Hiroshi memeluk tubuh Misaki erat-erat. Dia mencium keningnya penuh ketulusan. Dan seketika, tubuhnya mengeluarkan aura hitam pekat. Kekuatan Misaki berhasil merasuki tubuh Hiroshi.
“Terimakasih, Aki. Dengan kekuatan ini, aku bisa melindungimu.”
Hiroshi menggendong Yukine di belakang punggungnya dan membopong Misaki bersamaan.
“Skill flyboot!”
Hiroshi melesat, terbang ke udara. Dia kesulitan mengendalikan kekuatannya, namun akhirnya dia berhasil.
“Hiro! Misaki! Yuki!” senyum lega membalut wajah teman-teman mereka.
Yato yang masih terduduk di kursi seketika bangkit. “Wah wah, sudah jadi pahlawan sekarang, ya?”
“Sebenarnya, Misaki-lah pahlawannya. Dalam keadaan tak sadarkan diri sekalipun, dia tetap menyelamatkan kami. Tanpa dia, mungkin aku dan Yukine sudah mati. Dan tanpa Yuki, mungkin Misaki sudah mati membeku, sedangkan aku ...,”
“Tanpa kamu, Misaki dan Yukine mati kedingingan dan kelelahan. Berhentilah bersikap seakan kamu tak dapat melakukan apapun. Kamu itu kuat, kekuatanmu ada di sini, tekadmu yang kuat menyelamatkan teman-temanmu,” ujar Mitsuha sembari menunjuk dada Hiroshi.
Senyum Hiroshi kembali merekah. Dia melangkah, membaringkan tubuh Misaki dan Yukine agar mereka bisa istirahat. Hiroshi menatap Misaki dalam-dalam. Hatinya terasa hangat.
“Misaki, aku berjanji akan membantumu besok. Sembuhlah,” ujarnya.
Dia melangkahkan kakinya keluar. Di luar, dia mendapati teman-temannya menatap tajam. Hiroshi kaget sampai mundur beberapa langkah.
“Hiroshi, kamu tak macam-macam, ‘kan di bawah salju itu?” tanya Hitori, “aku khawatir kamu nekad, sebab kamu tahu Yukine suka Misaki.”
“Aku tak setega itu,” jawab Hiroshi singkat.
“Kalau begitu, bersiaplah! Kita akan beraksi setelah salju reda. Tentunya setelah Misaki dan Yukine sadar.”
__ADS_1