Savage

Savage
Para Megan


__ADS_3

“Ampun, jangan bunuh aku!” ucap yakuza memelas.


 


“Minta ampunlah pada Tuhanmu di neraka!” empat yakuza mati.


Suasana mulai mencekam di dalam gedung ketika terdengar bunyi langkah kaki.


Satu pintu terbuka dengan satu yakuza yang tengah bersembunyi. Beruntung. Mata Misaki mulai kesakitan, dia mengerang-ngerang. Sakit yang teramat sakit, membuat dia kehilangan kendali. Misaki mulai goyah seakan bumi tak mau mengimbangi tapak kakinya yang penuh dosa. Pintu ia tabrak, dinding, sampai dia tersungkur di lantai menahan rasa sakit. Kejadian ini digunakan yakuza tersebut untuk melarikan diri dari gedung itu. Misaki tak punya banyak kekuatan untuk menghentikannya, dan dengan terpaksa Misaki membebaskannya pergi.


Sakit yang diderita Misaki mulai reda, dan matanya kembali hitam. Kesadarannya mulai pulih. Dalam keadaan lemas, dia menopang dirinya pada dinding dan berdiri dengan terpogoh-pogoh. Kepalanya masih begitu berat dan pandangannya kabur, namun tak ada alasan untuk berdiam diri. Misaki menuju ke tempat mamanya dan Hiroshi terkulai lemas.


“Mama! Hiro!” Misaki mencapai mereka berdua dan menghubungi Mitsuha untuk segera menuju lokasi.


“Mitsu, bisakah kamu ke gedung tua dekat hutan? Mama dan Hiro tak sadarkan diri, aku tak bisa membawa mereka berdua. Aku mohon.” Dari balik telepon, Mitsuha terdengar panik dan segera menuju lokasi.


“Mama, mama bangun!” teriak Misaki.


Mata mamanya terlihat mulai terbuka. Misaki begitu takut akan kehilangan mamanya, orang yang paling berharga dalam hidupnya. Mendengar suara mamanya membuat Misaki menitihkan air mata bahagia sekaligus lega. Mamanya melirik ke arah Hiro yang masih tak sadarkan diri.


 


“Hiro! Hiro! Kumohon sadarlah,” Misaki memegang tangan Hiroshi, berharap kelopak mata yang tengah tertutup itu merekah lagi.


“Misaki, jangan teriak-teriak. Aku mendengarmu,” ucap Hiroshi.


“Syukurlah, kamu sadar. Mengapa kamu bisa terkapar seperti ini, padahal aku saja yang tertusuk tepat di jantung bisa normal kembali, kenapa kamu tidak?”


“Karena nyawaku tersisa sampai hari ini. Dari enam hari, kugunakan untuk time pause, maka memang benar sisa umurku sampai jam 12 malam.”


Hampir seluruh air mata yang membendung di kelopak mata mulai tumpah, tak dapat terelakkan sama sekali. Sesekali Misaki menghapus garis yang mulai menghiasi sketsa wajahnya, berusaha menghilangkan kesedihan yang tergambar jelas.


“Hiro, tolong beri tahu hal apa yang bisa membuat umurmu bertambah, aku mohon! Jangan biarkan aku mengejar para yakuza yang telah membuatmu seperti ini dan mengotori tanganku dengan darah mereka. Aku mohon! Aku tak ingin menjadi pembunuh lebih dari ini.”


“Syarat kekuatanku untuk mendapatkan umur tambahan adalah ..., bukanlah seluruh Megan memang harus membunuh seseorang untuk menambah umur? Aku tak apa jika aku harus pergi, Aki,” ujarnya.


Hiroshi berusaha menahan rasa sakitnya dan tersenyum pada Misaki tulus.

__ADS_1


“Kamu, sedang sekarat saja masih bisa tersenyum?”


Misaki meraih pisau yang tergeletak di dekatnya. Dia menggengamkannya di tangan Hiroshi dan menusuk jantungnya. Darah mengalir dari tubuhnya. Dia tersenyum lebar ketika mata Hiroshi terbuka lebar.


Dada Misaki mulai sesak memikirkan apakah keputusan yang dia ambil benar. Tak ada waktu untuk memikirkan konsekuensi benar atau salah. Hal terpenting bagi Misaki adalah kesembuhan Hiroshi.


“Te-nang saja, Hiro. Umurku masih banyak. Aku tak akan mati.”


Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Hiroshi dan menciumnya tepat saat jantungnya mati sementara.


“Aki?”


Misaki terpejam. Hiroshi menggoncang-goncangkan tubuhnya. Air mata mengalir membasahi pipi Hiroshi.


“Hentikan, Hiro. Kau membuatku pusing,” ujar Misaki ketika jantungnya kembali bekerja.


Hiroshi menghela napas lega dan memeluk Misaki erat. “Jangan lakukan hal gila lagi, Aki.”


Misaki tersenyum.


“Ba-bagaimana, Hiro? Apakah umurmu sudah bertambah?”


“Dia sudah sadar, aku sudah menghubungi Mitsuha untuk menjemput kita,” jelas Misaki dengan nada lega.


Hiroshi mengangguk. Perlahan dia mendekatkan mukanya ke arah Misaki, tak ada percakapan yang terjadi. Mereka hanya saling memandang dengan wajah merah merona. Perlahan Hiroshi lebih dekat lagi, “Terimakasih atas nyawa yang kamu berikan, Aki,” dalam sekejap Misaki dan Hiroshi berciuman. Awalnya Misaki menolak, tapi lama-lama dia pasrah dan menikmati ciuman pertamanya dengan cowok paling tampan di kampusnya.


“Wah, aku datangnya tidak tepat waktu, nih.”


“Mitsuha? Se-sejak kapan kamu berdiri di sana?”


Misaki kaget dengan kedatangan Mitsuha yang muncul secara tiba-tiba. Misaki mendorong Hiroshi dengan keras ke belakang. Mereka terlihat begitu malu.


“Bagaimana kalian malu ketika aku memergoki kalian, sedangkan mamanya Aki saja dari tadi memelototi kalian, lho.”


Hiroshi menoleh ke arah mamanya Misaki yang terlihat tengah asyik melihat anak satu-satunya akhirnya mulai bisa jatuh cinta. Masih duduk di kursi bekas tempat penyiksaan, dia berpangku tangan dan wajah berseringai. Bahagia, sudah pasti. Tergambar dengan jelas pada sketsa wanita paruh baya itu.


“Sudah, ayo kita segera pergi dari sini. Aku belum tau apa yang terjadi, jadi ini adalah tugas utamamu, Aki. Kamu harus menjelaskan sedetail mungkin,” tegas Mitsuha dengan wajah serius.

__ADS_1


“Mereka sudah pergi, ayo kita melapor ke ketua mengenai hal ini.” Dua orang yakuza yang berhasil lolos tengah bersembunyi di belakang gedung dan segera pergi.


Tak perlu waktu lama, gedung tersebut meledak dan hancur total.


“Su-suara apa itu?” Mitsuha terlihat bingung.


“Ledakan, aku dan Misaki yang menyiapkannya. Ternyata dugaanku benar, Misaki pasti akan membunuh orang setelah melihat mamanya terkapar,” ujar Hiroshi dengan muka mirip detektif.


Misaki merasa seluruh badannya remuk dan sulit digerakan. Sesampai di rumah, dia langsung menuju kamar dan tidur dengan pulas. Tak butuh waktu lama bagi Misaki mencapai dunia mimpi, satu-satunya petunjuk nyata dari kekuatan-kekuataan supranatural yang dia dapatkan.


“Di mana aku?”


“Selamat datang di perpustakaan Megan, di sinilah kamu akan mendapatkan seluruh pengetahuan yang kamu inginkan, calon pembunuh. Kamulah yang diciptakan dan ditakdirkan untuk menjadi Megan terkuat,” jelas seorang lelaki tinggi besar dengan jubah hitam.


Dari tongkat yang dibawa lelaki tersebut muncul sebuah cahaya dan menghasilkan gambaran tentang Megan terkuat terdahulu, Carius. Seorang pengembara asal Amerika.


“Pak, mengapa mataku sakit saat kugunakan skill show?”


“Setiap kamu membunuh manusia, level kekuatanmu bertambah. Ingat, Misaki. Kamu sudah membunuh lima nyawa manusia. Lihatlah ke cermin, perhatikan baik-baik sisa umur, level, skill, dan kekuatanmu. Sekarang lihatlah ke cermin,” seketika pandangan Misaki mulai kabur. Dia pun terbangun.


Misaki membuka matanya lebar-lebar. Degub jantungnya terdengar begitu keras, keringat mengucur deras saat dia terbangun dari mimpi aneh yang begitu terlihat nyata. Sesuai anjuran sang mimpi, Misaki bangkit menghadap ke cermin.


“Observasi!” Misaki menggunakan skill utamanya untuk melihat sisa umur yang dia punya dengan mata merah menyala.


Nama : Misaki Yagami


Sisa Umur : 30 hari


Keterangan : 4 nyawa hari ini, umur bertambah 4x7 hari


Skill baru : Terbang


Aktifasi : Flyboot


Level : 9


Misaki merinding ketika membaca keterangan ‘4 nyawa hari ini’. Tepat hari ini, dia menjadi pembuh brutal, empat nyawa melayang di tangannya. Diangkatnya kedua tangan dan ditatapnya dengan tatapan takut dan tak percaya dengan yang dia lakukan.

__ADS_1


“Aku seorang pembunuh!”


__ADS_2