Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Kenapa bikin salting sih?...


__ADS_3

Kami pun akhirnya dapat menyelesaikannya UTS yang dilaksanakan satu minggu lebih.Pada minggu ini hasil UTS pun diumumkan di papan informasi yang terletak di depan kantor.seluruh siswa pun berbondong-bondong untuk melihat nilai UTS yang di pajang dengan jelas di sana.


"Ayo...liat nilai UTS yuk...,"ajak beberapa siswa.


"Ria...ayo liat nilai UTS ," Rengek Bella.


"Ayo.."jawabku antusias.


Hasilnya cukup memuaskan bagiku karena nama ku tertulis paling atas disana.Namun aku tidak melihat nama Barra tertulis di sana.


"Bar...nama lu mana?...," Dimas bertanya padanya.


"Mana gua tahu...,"


"Terus lu gak bakal nanya gitu?,"


Barra malah terus berjalan begitu saja melewati Dimas dengan angkuhnya.


"Dasar Barra...Barra...," Dimas pun menggelengkan kepalanya.


Aku pun dengan berani mendatangi Barra ke dalam kelas dengan hati yang cukup kesal dengan sikapnya tadi.


"Lu bisa enggak sih menghargai orang lain sedikit aja ?Dimas tuh peduli sama lu tapi lu malah cuekin dia kaya gitu," Tegas ku seakan-akan berteriak berbicara dengannya.


Seisi kelas pun terkejut dengan suara ku yang cukup kencang itu.Namun Barra masih saja diam dan so sibuk membuka-buka buku.

__ADS_1


"BARRA...LU DENGER ENGGAK SIH?," Tegas ku kembali sambil merebut buku yang sedari tadi ia mainkan.


"LU ENGGAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUA LU ENGGAK TAU MASALAH HIDUP GUA."Bentaknya.


Seisi kelas pun mulai terkejut dengan sikap Barra yang satu ini.Aku pun tak sanggup mendengar bentakan darinya rasanya ingin menangis karena ayah dan mamah pun tidak pernah memperlakukanku seperti ini.Aku terus menunduk dan Barra pun melihatku dengan iba,aku berlari meninggalkannya.


"PARAH LU BARRA...,"Tegur Bella padanya.


Bella pun mengejar sampai akhirnya ia menemukanku di roof top.roof top memang sudah menjadi tempat ternyaman untuk menangis mengeluarkan segala keluhan.


"Ria...lu enggak kenapa-kenapa kan?," Tanyanya.


"Gua pengen sendiri dulu yah,"jawabku tanpa menoleh kepadanya.


Bella selalu mengerti keadaanku suaranya pun sudah mulai tidak terdengar.


Tiba-tiba sebuah tangan yang indah dan tidak asing di mataku dijulurkan, serta sapu tangan berwarna biru di genggamannya.Sontak aku pun perlahan melihat pemilik tangan tersebut lalu mata ku dengannya bertabrakan ternyata pemilik tangan yang indah itu ialah "Barra."


"Ini,buat ngehapus air mata lu, "perintah Barra sambil duduk di sampingku.


"ngapain lu ke sini?," Tanya ku ketus.


"Minta maaflah,kan tadi gua punya salah sama lu,"jawabnya.


"Oh ternyata lu juga bisa ngebedain mana yang salah sama mana yang bener,"Ucapku tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.

__ADS_1


"Bisalah...," Jawabnya sambil meraih kedua tanganku.


"Apa sih? lepas ,"jawabku sambil mencoba melepaskan genggamannya.


"kalo minta maaf kan harus salaman, kaya lebaran gitu," jawabnya asal.


"Lebaran... lebaran... lebaran monyet kali lu,"jawabku ketus.


"lu dong monyetnya," Ucapnya cengengesan.


"lu niat gak sih buat minta maaf,"Tegas ku sambil


menghadapnya.


"Kan lu duluan yang ngelawak," Jawabnya sambil mengelus kepalaku dengan lembut.


Apa yang ia ucapkan sudah tidak fokus lagi aku dengarkan, rasanya luluh saat ia mengelus kepalaku dengan lembut.


"kenapa bikin salting sih ,"gumam ku.


"Kedengaran nggak ?,"Tanyanya tiba-tiba mengagetkan ku.


"APA ?...,"Jawabku sedikit terkejut.


"ngegas aja lu untuk bukan kopling,"Ucapnya random.

__ADS_1


Kami pun tertawa terbahak-bahak di sana. Sampai tidak terasa suara bel pun berbunyi, menandakan agar semua siswa masuk kedalam kelas untuk mengikuti mata pelajaran terakhir.


...****************...


__ADS_2