Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Faktanya tak seindah yang ku kira


__ADS_3

Bel istirahat pun akhirnya dibunyikan


Seperti biasanya para siswa hilir mudik ke sebuah tempat yang kerap disapa dengan nama kantin. Di sana mereka dapat berburu jajan apapun untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


Namun berbeda dengan Barra yang sibuk berkutat dengan bukunya,Riana pun membelikan makanan untuknya.


"Hei...lagi sibuk amat?,"Ujar Riana.


"Tuh...gara-gara temen lu tuh si Bella, gua dapet tugas dari pak Tono,"jawab Barra kesal.


"Udah sih gak usah dipusingin tinggal di isi,lumayan kan buat gantiin nilai lu karena gak suka ngerjain tugas,"Jelas Riana.


"ya kalo lu enak, pinter tinggal ngisi,"


"lu juga pinter kok, kalo mau belajar,"


"Tau ah,"


Riana pun menawarkan pop mie dan es jeruk yang siap santap.


"Nih...makan dulu biar gak emosi,"


"Gua gak laper,"


"Yakin?,"


"Yakinlah,"


"udah lu tenang dulu dan nih makan," Riana pun merapihkan buku Barra ke dalam tasnya dan menyodorkan mie tadi.


"Aa....," lanjut Riana menyodorkan sesendok mie ke mulutnya.


Barra pun akhirnya memakan mie tersebut.


"Bocil...nurut,"ledek Riana.


"Udah...udah...gua aja sendiri,sini mienya,"Barra pun merasa malu dibuatnya.


Barra pun bergantian ingin menyuapi Riana dengan sesendok mie bak pesawat terbang. Namun ketika sendok itu sudah mendekati mulut Riana yang sudah terbuka, dengan jahil Barra membalikan arah sendok menuju mulutnya sendiri.


"Dasar,Barra....jahil yah lu,"Umpat Riana kesal.


Akhirnya Riana pun menggelitik perut Barra untuk membalas kejahilannya. Di dalam kelas mereka berdua pun tertawa lepas bak pengisi kelas seutuhnya.


Namun keasyikan mereka pun harus berakhir ketika bel masuk beberapa kali telah dibunyikan.


Begitu pun dengan siswa lain yang bergegas masuk ke dalam kelas.


Mata pelajaran pun diterangkan dengan jelas oleh pak bagas sampai tak terasa waktu pulang pun akhirnya tiba.

__ADS_1


Tettttt.....Tettt..


seluruh siswa pun ribut karena ingin keluar kelas lebih awal.


Riana pun memutuskan untuk menerobos orang-orang yang sedang memenuhi pintu kelas, karena ia ingin mengejar Barra yang sudah berada di luar kelas.


"Bar....Barra...,"Teriak Riana.


"Apa?,"jawab Barra yang kemudian menghentikan langkahnya.


"Gua mau bantu lu ngerjain tugas pak Tono,"


"Good," Respon Barra sembari mengelus acak upuk kepala Riana.


"Ahh...rasanya ingin terbang dielus kepala olehnya,"Gumam Riana.


"Ayo...,"lanjut Barra lalu merangkulku.


"Tapi kita ngerjainnya di rumah lu aja, sekalian gua kenalan sama bokap lu,"Ujar Riana.


"Jangan deh bokap gua hari ini gak ada," Jawab Barra yang terlihat aneh.


"Ya... gak papah ngerjain tugasnya tetep di rumah lu, kalo kenalan sama bokap bisa kapan-kapan," jawab Riana.


"Tapi...,"


"Oke... oke,"Barra pun meraih tangan Riana dan mengajaknya naik ke atas motor.


Mereka berdua pun akhirnya pergi ke rumah Barra.


Setelah tiba di rumah Barra, Riana sedikit terkejut melihat rumah Barra yang begitu besar seperti istana. Namun anehnya ia selalu menyembunyikan keberadaan rumahnya.


Ketika masuk dari pintu depan kami sudah di sambut ramah oleh seorang bibi yang Barra panggil dengan sebuah bi kasih.


"Sore tuan,"sapa bi kasih.


"Sore bi,"


"Sore non,"lanjut bi kasih.


"Sore juga bi,"


"Mau makan dulu gak?,"Tanya Barra.


"nanti aja masih kenyang,"


"Kita ngerjain tugasnya di kamar aja yah,"Ujar Barra.


"Gak mau,"Jawab Riana spontan.

__ADS_1


"kenapa?,"


"Takut lu macem-macem sama gua," jawab Riana polos.


"Ya ampun Riana...gua gini-gini juga moralnya mah tetep bae,"


"ya udah di ruang tamu aja,"Lanjut Barra yang lagi dan lagi mengelus upuk kepala ku.


"Oke...,"


Tak lama sebelum kami mulai mengerjakan tugas,ayah Barra pun pulang dari pekerjaannya.


"Ayah tumben udah pulang?,"Ujar Barra.


Ayahnya hanya diam tanpa merespon anaknya itu. Ayahnya memang berwajah sangar pantas saja kalo Barra itu takut kepadanya.


"Om ," Riana bersalaman kepada ayah Barra dan mencoba menetralisirkan dirinya dari ketakutan menghadapi ayah Barra.


"Oh,Riana yah,"Ujar ayah Barra.


"Iya om,"Riana mengangguk.


Rupanya ayah Barra pun bisa berbicara, wajahnya yang sangar membuatku berpendapat bahwa ia tidak suka basa basi.


Ayah Barra pun langsung ke kamarnya.


Kami pun akhirnya memutuskan untuk segera mengerjakan tugas.


Kami tidak terlalu serius mengerjakan tugas, sedikit ada tawa ria yang menghiasi kami berdua.


Namun tiba-tiba...


"BARRA...,"Teriak ayah Barra dari kamarnya.


Nampaknya ayah Barra benar-benar marah ketika mendengar kami tertawa.


" BARRA...KE SINI KAMU!...,"


"iya yah,"Barra yang kemudian langsung menghampiri ayahnya.


Setelah beberapa menit Barra belum saja kembali dari kamar ayahnya, yang membuat Riana tak enak karena mereka membuat kesalahan berdua dan Riana pun harusnya ikut di salahkan.


Dan akhirnya Riana pun memutuskan untuk menyusul Barra. Namun setelah Riana berhenti tepat di depan pintu kamar ayah Barra, terdengar bentakan-bentakan keras yang dilontarkan ayahnya.


"Barra...ayah kan udah bilang, tujuan kamu ngedeketin si Riana itu biar kamu bisa dapet nilai bagus di sekolah,bukan untuk sekedar berteman,bercanda,ketawa tapi buat manfaatin otaknya, dan kamu sendiri kan udah setuju,"Jelas Ayahnya.


Riana pun terkejut mendengar pernyataan bahwa Barra mendekati Riana hanya ingin memanfaatkannya. Hatinya hancur mendengar hal itu orang yang selama ini ia sayangi dan perjuangkan hanya memanfaatkannya.


Air matanya pun mulai tidak bersahabat mengalir sejadi-jadinya,Riana pun berlari pergi keluar dari rumah Barra.

__ADS_1


__ADS_2