
Suasana sekolah masih cukup sepi mungkin karena Riana yang terlalu pagi berangkat ke sekolah,entah apa yang membuatnya serajin itu sehingga ia harus menunggu setengah jam kedatangan siswa lain.
"Woy ," Bella mengejutkan Riana yang berkutat dengan handphonenya.
Riana pun langsung mengecek jam tangannya, lalu ia pun tersadar bahwa ia telah duduk dikelas selama setengah jam.
"Lu lama banget sih Bella,"Ujar Riana.
Yang tak lama kemudian siswa lain pun saling bermunculan.
"Lama apanya pea?ada juga lu yang kepagian,"
Riana hanya mengangguk tak mendengarkan apa yang Bella katakan ia hanya fokus dengan handphonenya.
"Lu kenapa sih Rin?,"Bella pun mencoba bertanya.
"Lu sih ini gara-gara lu yah,"
"apa sih,"Bella pun merebut handphone Riana dari genggamannya.
"Wihhh... banyak nomor cowok baru nih,"ledek Bella.
"iya gara-gara lu,gua gak bisa tidur makanya pergi ke sekolah pagi banget," Ujar Riana yang kemudian merebut handphonenya kembali.
"Tapi gua lihat ganteng-ganteng deh fotonya, "Goda Bella.
"Ganteng fotonya,kita kan gak tau aslinya,gua gak suka Bella cara lu itu gak efektif, gak efesien, gak kondusif dan gak....apa yah??? em...em..gak strategis."
"Apa sih lu hahaha...gak strategis, emang lu mau jualan ?mau bikin stand? " Gelak tawa Bella.
"Intinya gua gak suka Bella,"rengek Riana
Riana pun terus merengek kepada Bella bak seorang anak kecil yang merengek meminta uang jajan pada ibunya.
Namun ketika Riana sedang merengek-rengek,Barra pun masuk ke kelas disusul oleh pak Surya di belakangnya sontak membuat Riana berhenti merengek, pak Surya adalah seorang guru yang akan mengisi mata pelajaran pertama hari ini. Jadi wajar saja jika ia tiba-tiba langsung berhenti merengek.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam pak,"Jawab siswa serentak.
pak Surya pun kemudian mengeluarkan beberapa buku paket tebal dari dalam tasnya, ia adalah seorang guru sejarah jadi wajar saja jika ia membawa itu semua.
Namun beda halnya dengan Riana, sedikit demi sedikit kelopak matanya tertutup, kelopak matanya nampak kelelahan untuk menahan rasa kantuknya.
Sedangkan Barra melemparkan segulung kertas ke arah Bella, tempat duduk Barra memang berdekatan dengan tempat duduk Riana dan Bella tepatnya Barra duduk dibelakang Riana.
Bella pun membuka gulungan kertas itu, setelah membaca tulisan di kertas itu Bella pun langsung membangun Riana.
"Rin...bangun...,"bisik Riana karena takut jika pak Surya mendengarnya.
"mm...mm...,"Riana masih saja menutup matanya.
"Nih ada surat dari Barra,katanya suruh bangunin lu,"bisik Bella ditelinga Riana.
Riana pun akhirnya terbangun dan langsung duduk tegak
"Mana?,"
__ADS_1
"Apa?,"
"Surat?,"
Bella pun memberikan segulung kertas yang tadi Barra berikan padanya.
"lu yakin ini dari Barra?,"
"iya Riana,"
Setelah mereka berdebat, tak lama mata pelajaran pertama pun usai disambung oleh guru kedua dikelas kami setelah guru tersebut menghabiskan 1 jam pembelajaran, akhirnya kami pun bisa keluar dan menyerbu kantin.
Begitupun Riana dan Bella, mereka dengan sigap mencari tempat duduk ternyaman untuk menghabiskan makanan mereka.
"Rin...,"Panggil Bella, ditengah Riana yang sedang lahap memakan makanan miliknya.
"Apo soh Bell?,"jawab Riana dengan mulut penuh makanan.
"Liat handphone lu dong,"
Riana hanya menyodorkan handphonenya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
Bella pun mulai berkutat dengan handphone milik Riana
"lu kenapa sih Bell? fokus banget?,"
'Lu kok gak respon cowok yang chat lu sih?,"Ujar Bella geram.
"Males gua,"
"Lu ya...mana nomornya gak di save lagi,"
"Wih... ada yang lagi banyak chat dari cowok nih,"Teriak Naila sembari merebut handphone milik Riana di tangan Bella.
"Apa sih lu Naila,"Ujar Bella yang berusaha mengambil kembali handphone milik Riana namun nihil Naila berhasil mempermainkan Bella.
"Itu handphone gua balikin gak?,"Tegas Riana yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Nih...,"Naila mengulurkan handphone Riana.
Namun pada saat Riana hendak mengambil handphonenya dengan sengaja Naila menjatuhkannya.
Bruk...prak...
Handphone Riana pun hancur lebur dibuatnya.
"lu apa-apaan sih,"Ujar Riana yang berulang kali mendorong Naila.
Siswa lain hanya bisa melihat semua kejadian itu tak ada yang seorang pun yang bisa menghentikan pertengkaran mereka.
"lu gak usah dorong-dorong ya,"Ujar Naila mendorong balik Riana.
"Lu yang kurang ajar, handphone gua hancur gara-gara lu,"Riana pun mendorong Naila dengan kencang karena emosinya sudah membara membuat Naila tersungkur.
Namun ketika Naila hendak membalas,ia berpura-pura kesakitan karena ada Barra di sana.
"Riana,"panggil Barra.
__ADS_1
Riana pun berkutat dengan kepingan handphone miliknya yang berserakan dilantai.
"Apa?lu mau belain Naila lagi hiks..hiks...belain aja, emang gua doang yang salah di dunia ini hiks...hiks...,"Ujar Riana yang menangis pilu membawa kepingan handphone miliknya lalu mendorong Barra yang ada di hadapannya.
"Rin...Rin...,"Bella pun mengejar Riana
"Jahat lu Naila,"Ujar Bella sebelum pergi.
Barra pun membantu Naila untuk bangkit.
"Lu gak kenapa-kenapa?,"
"gak lah,"Ujar Shasa ketus lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ini kenapa sih Nai...?,"Tanya Barra.
"gak kenapa-kenapa si Riana aja nih yang rusuh,"
Siswa lain terlihat tidak senang melihat Barra yang begitu perhatian terhadap Naila sedangkan Riana di biarkan begitu saja.
"Aneh yah si Barra dulu aja Deket sama Riana, sekarang sama anak baru gak jelas itu,"Cibir beberapa siswa.
"mentang-mentang ganteng kali,"lanjut yang lain.
"Apa sih,"Naila yang hendak membalas cibiran siswa lain pun di larang oleh Barra.
"Udah biarin aja,"Ujar Barra.
Setelah Barra mengantarkan Naila ke UKS Barra pun pergi meninggalkan Naila ia duduk di depan kelas dan terus termenung.
"Sebenernya apa sih yang terjadi,"Gumam Barra.
Barra pun menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi karena ketika ia melihat Riana yang menangis lalu siswa lain mencibirnya seperti ada yang janggal.
Doni yang hendak ke kelas pun bergegas menuju kelas namun di sana ia melihat Barra yang sedang duduk di depan kelas.
Karena Doni yang heran melihat Barra seperti orang kebingungan ia pun memutuskan untuk menghampiri Barra terlebih dahulu.
"Lu kenapa Bar?,"Doni duduk di samping Barra.
"Gini Don, gua bingung sama Naila dan Riana,"
"Oh... masalah tadi?gua ada kali ditempat kejadian,"Ujar Doni.
"Lu serius?,"
Doni pun menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Barra, Barra pun terkejut dengan kebenaran yang ada.
"Oh... berarti handphone Riana rusak itu gara-gara Naila dong,"
"Yupz betul,"Jawab Doni
"Gua duluan ya,"lanjut Doni
"Oke thanks bro,"
"Oke,"
__ADS_1
Barra pun terlihat marah besar kepada Naila dan merasa amat bersalah terhadap Riana.
...****************...