
"Barra...,"Teriak Naila dari kejauhan.
"Iya la,"
"Gua mau nanya soal kemarin,lu ngajak gua ke cafe dan katanya lu mau nembak gua, itu maksudnya gimana yah,"Jelasnya panjang lebar.
"e...e...maaf sebelumnya la, gua gak bermaksud mainin lu sih tapi sebenarnya gua cuman pengen bikin Riana cemburu,"Barra terus terang.
"Bikin Riana cemburu???,"ujar Naila terkejut.
"Wajar aja yah Bar,banyak cewek yang naruh harapan ke lu, ya... karena lu sendiri yang ngasih harapan,"lanjutnya lalu pergi meninggalkan Barra.
"la...la... maksud gua gak kaya gitu,"
"Gua tau sih ini salah gua tapi gimana gua cemburu liat Riana sama si Ervan itu tapi kenapa gua jadi cemburu buta gini yah,"gumam Barra.
Setelah masuk kelas dan pelajaran pun di mulai ada keajaiban yang muncul dari diri Barra yang biasanya ia enggan untuk mencatat pelajaran tapi sekarang ia sangat tekun mencatat bait demi bait yang guru tulis di papan board.
"Lu yakin Barra?nyatet pelajaran?,"Tanya Toni temen sebangku Barra.
Toni bertanya seperti itu karena ia heran, dari awal mulai sekolah Barra adalah salah satu murid yang rajin tidur dikelas jadi terlihat aneh saja jika sekarang Barra dengan tekun mencatat pelajaran.
"Iyalah kan catetannya buat Riana,"jawab Barra polos.
"Lu suka yah sama Riana?,"
"Apa sih enggaklah,"Ucap Barra tak karuan.
"Barra...Barra...udah sih jujur aja,"
"Enggak...enggak...,"
__ADS_1
"Itu apa ton,gua gak keliatan,"lanjut Barra mengalihkan pembicaraan.
"Mobilitas di Indonesia,"jawab Toni yang kemudian melanjutkan catatannya.
Setelah pulang sekolah Barra langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Riana.
Tok..tok...
"Masuk...,"suara Riana dan orang tuanya.
"Eh om,tante,"Barra sambil bersalaman.
"Riana mau kemana om,Tante?,"Lanjut Barra.
"Riana mau pulang Barra, karena kata dokter Riana sudah bisa pulang hari ini juga,"Jelas Ayah.
"kenapa?...lu gak mau gua sembuh,"Tanya Riana.
"Ya enggaklah,malah gua mau lu cepet sembuh dan bisa sekolah lagi,"ujar Barra.
"Wih... tumben lu nulis mana liat buku lu,"ledek Riana
"Nih,"Barra menyodorkan Bukunya.
Saat Riana mengecek isi buku Barra, Barra memang betul mencatat semua materi yang ada.
"Wih lu keren sih Barra,"Riana yang memberikan dua ibu jarinya kepada Barra.
"Iya dong gak sombong,"Ucap Barra dengan tersenyum Bangga.
Barra pun meminta izin kepada orang tua Riana agar Riana pulang bersamanya. Dengan alasan "Riana pasti butek selama 2 hari di rumah sakit aja," padahal itu hanya akal-akalan Barra saja agar bisa jalan berdua bersama Riana.
__ADS_1
Dan untungnya orang tua Riana mengizinkannya meskipun harus dengan beberapa rayuan dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu.
"Ya,udah kamu bawa motornya pelan-pelan awas aja anak Tante kalo sampe lecet,"warning dari mamah.
"Tuh inget Barra jangan sampe lecet," lanjut ayah sambil tersenyum.
"Siap calon mertua,"Ujar Barra sembari menirukan anak yang sedang menghormati bendera merah putih saat upacara.
Keadaan pun seketika berubah menjadi cair kami berbincang dan tertawa sampai akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang.
Di atas motor yang berisik ini Barra terus saja mengoceh.
"Ri...,"Panggil Barra.
"Apa??,"
"pegangan...,"perintah nya.
"Modus ya lu,"
"gak modus lah lu gak liat udah gelap,mau hujan ini gua gak mau yah kalo lu kenapa-kenapa lagi,"Ujar Barra yang tidak terdengar jelas.
"Apa???gua gak kedengaran,"Ujarku berbohong.
Barra pun menarik tanganku satu persatu agar melingkar di pinggangnya.
"Gua mau ngebut...tapi bakal hati-hati kok,"Teriak Barra.
Karena terkejut dengan kecepatan motor Barra yang tiba-tiba menjadi lebih cepat membuat Riana mau tidak mau mempererat pelukannya.
Dari kaca spion terlihat jelas bahwa dua orang itu tersenyum bahagia menyusuri jalanan berdua.
__ADS_1
"Rasanya dua seperti milik berdua ,"Teriak Barra.
...****************...