
Untungnya taksi yang Riana telah pesan datang lebih cepat sehingga ia pun bisa langsung pergi dari rumah Barra.
di sepanjang jalan Riana terus menangis sehingga supir taksi pun aneh melihatnya.
"Kenapa neng?,"
"Saya gak mau ditanya pak,"jawab Riana yang terus menangis.
Akhirnya supir tersebut pun memilih untuk diam dan tidak mengganggu Riana.
Setiba di rumah, Riana memilih untuk sembunyi-sembunyi masuk ke dalam rumah karena ia tidak ingin mamah dan ayahnya melihat ia menangis seperti itu.
Setelah masuk ke kamarnya ia pun bebas untuk menangis sejadi-jadinya.
...****************...
Setelah ayah Barra selesai memarah-marahinya,ia pun kembali keruang tamu.
"Bi,Riana kemana?,"Tanya Barra karena kebingungan melihat keadaan ruang tamu yang sudah sepi karena tidak ada Riana di sana.
"Tadi non Riana nangis tuan, dan pergi begitu saja, bibi gak sempet tanya karena ia terlihat buru-buru,"Jelas bi kasih.
"Apa Riana nangis?," Tanya Barra terkejut.
Barra pun langsung pergi ke depan rumahnya untuk memastikan masih ada Riana atau tidak.
Pikiran Barra pun mulai berantakan karena memikirkan kepergian Riana.
__ADS_1
"Apa mungkin, Riana mendengar percakapanku tadi dengan ayah,"Gumam Barra.
"Shitt..," Barra frustasi sembari mengacak rambutnya.
Sedangkan Riana terus menangis di kamarnya.
Ia tak tahu apa yang membuatnya semarah ini kepada Barra mungkin karena ia terlalu sering di buat kecewa olehnya.
Riana pun bangkit dari kasurnya lalu duduk di depan cermin rias, Ia menatap wajahnya lekat.
"Kenapa?kenapa gua gak pernah bahagia,"Ujar Riana kecewa.
"Apa karena gua jelek? hah?,"Ia seolah berbicara dengan dirinya sendiri.
Riana terus menangis dan menghapus kasar make up yang masih terukir cantik diwajahnya.
"Lu percuma Riana... dandan cantik,pake lipstik, bahkan mengukir alis pun percuma, Barra cuman manfaatin lu doang,"Umpatnya ia pun menyapu seluruh alat make up yang ada di atas meja dengan kedua tangannya sehingga jatuh berantakan.
prank..prank...
"Astagfirullah... non Riana," Bi minah terkejut dan langsung bergegas menyusuri anak tangga untuk melihat keadaannya.
Tok...tok...
"Non...non kenapa?," ujar bi minah di balik pintu kamar Riana yang terkunci.
"Non...,"
__ADS_1
"PERGI BI,RIANA GAK MAU DIGANGGU, "Riana yang terdengar
marah.
Namun dengan hebatnya bi minah ia terus membujuk Riana dan menenangkannya walaupun di balik pintu sehingga ia pun dapat membuat Riana membukakan pintu kamarnya.
Bi minah pun masuk dan langsung menghampiri riana yang terduduk di atas kasurnya. Bi minah berlutut duduk di lantai menggenggam tangan Riana dengan penuh belas kasih.
Riana pun meminta bi minah untuk duduk di sampingnya, kemudian ia langsung memeluk bi minah penuh kesedihan.
"Bi...Bara bi...,"Ujar Riana histeris.
Ia pun menceritakan semuanya kepada bi minah, ia merasa ini terlalu berat baginya jika ia tidak sama sekali menceritakan hal ini kepada siapapun ia membutuhkan sandaran.
Namun Riana tidak ingin jika orang tuanya mengetahui hal ini,ia tidak mau masalahnya dengan Barra merambat kepada keluarganya. Sehingga ia pun berencana untuk merahasiakan semua ini dari orang tuanya.
Dengan penuh kasih bi minah mencoba memahami kondisi Riana dan terus mencoba menenangkannya. Sampai Riana pun tertidur di paha Bi minah, lalu bi minah pun merubah posisi Riana agar tertidur dengan nyaman.
Bi minah pun berjanji kepada Riana, bahwa ia tidak akan membocorkan hal ini kepada keluarganya.
Setelah bi minah selesai membereskan pecahan-pecahan yang ada di kamar Riana, ia pun memutuskan untuk meninggalkan kamar Riana dan lanjut mengerjakan pekerjaannya.
Namun ketika bi Minah hendak membuka pintu.
"Bi...Barra jahat,"Ujar Riana mengigau.
Bi minah pun membalikkan wajahnya ke arah Riana memastikan bahwa Riana masih tertidur.
__ADS_1
"Ya ampun non, kasian non," Gumam Bi minah lalu pergi meninggalkan kamar Riana.
...****************...