
Setelah bi Minah mengompres Riana,ia pun merasa lebih baikan dari sebelumnya. sehingga ia pun melepas kompresan yang melekat di keningnya.
Ia pun bangkit dari tempat tidur lalu mengambil sebuah buku kecil yang bertuliskan My diary serta mengambil sebuah pulpen hitam yang ada di meja belajarnya.
Setelah mendapatkan dua benda tersebut ia pun kembali ke tempat tidurnya lalu berbaring tengkurap, dan ia pun menulis bait demi bait kalimat dibuku tersebut.
Dear diary
Tuhan...
saya tak tahu sejak kapan saya mencintai Barra
dan saya pun tak tahu sejak kapan saya takut kehilangannya.
Engkau tahu kan tuhan....
selama ini saya tak pernah mencintai seorang laki-laki sedalam ini,lantas kenapa engkau membuat saya amat mencintainya.
Sampai tiba hari ini,hari dimana saya tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Barra,laki-laki yang saya cintai tidak mencintai saya,
ia hanya memanfaatkan saya tuhan...
lantas apa yang harus saya lakukan?...
__ADS_1
saya muak dengan kenyataan ini
Dulu saya sering dibuli akibat penampilan saya yang cupu
kerap dikenal sebagai wanita berkaca mata dengan rambut berkepang dua,pada saat itu saya adalah satu-satunya orang yang tidak peduli dengan penampilan,tidak peduli dengan perasaan dan tidak peduli dengan banyak hal.
Namun pada saat Barra datang di kehidupan saya, saya mencoba untuk peduli dengan penampilan,peduli dengan banyak hal, karena saya mencintainya, saya peduli dengan perasaan saya.
Dan saya sadar dibuli itu menyakitkan pada saat itu
namun kini yang saya rasakan jatuh cinta lebih menyakitkan dibandingkan semua hal itu, seharusnya saya tidak perlu repot-repot mempedulikan penampilan dan lain sebagainya,
jika akhirnya lebih menyakitkan daripada dibuli.
Saya tidak peduli ...
Saya tidak peduli...
Riana pun memenuhi buku diarynya dengan coretan-coretan kalimat yang ia rangkai sesuai isi hati dan pikirannya ,sembari mencucurkan air mata.
Riana seperti kesal tak karuan.
Namun tiba-tiba suara pintu diketuk berulang kali menyadarkannya.
"Masuk...,"
__ADS_1
"Rin...," Bella pun masuk dengan wajah yang sulit diartikan.
"Bel...,"
Bella pun langsung memeluk Riana yang sudah tak tahan membendung air matanya.
Hiks...hiks...
Bella pun ikut menangis ketika melihat Riana sehisteris itu.
Setelah beberapa menit berlalu mereka pun saling beradu cerita.
Riana bertanya kepada Bella kenapa pada saat ia hendak masuk ke kamar Riana ia menampakan wajah yang sulit diartikan.
Bella pun bercerita bahwa ia sudah tahu apa yang terjadi diantara Riana dan Barra, karena Barralah yang menceritakannya. Dan Barra pun hendak ke rumah Riana namun Bella melarangnya karena ia tahu jika Barra datang ke rumah Riana pada saat Riana masih kesal dengannya akan lebih merusak hubungan mereka.
"Lu inget kan Rin?lu pernah bilang ke gua kalo yang ngubah lu itu semuanya adalah Barra,karena itu gua sedih banget sampe gak tahu harus gimana pas liat lu tadi,"Jelas Bella.
"Gua gak mau kenal Barra lagi Bel,gua pengen kaya dulu" lagi,gak peduli dengan segala hal apapun.,"Ujar Riana y"ng terus menangis.
"Tapi,Rin....,"
"plis...Bel gua cuman pengen lu dukung kemauan gua,"Riana memotong omongan Bella.
Bella pun mendukung apa yang sudah dipilih oleh Riana karena ia bilang menjadi orang yang tidak peduli apapun itu menyenangkan ia dapat melakukan apapun tanpa memedulikan apapun.
__ADS_1