Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Jangan memberi harapan


__ADS_3

Tiga bulan berjalan begitu cepat begitu pun dengan kedekatanku dengan Barra sudah cukup erat sampai rasanya berat jika tiba-tiba ia menghilang begitu saja.


Kikkk...


suara sepeda motor yang tiga bulan ini sudah tak asing lain yah pemilik sepeda motor itu tak lain ialah Barra.


"Rinnn..ayo...,"teriak Barra dari luar tanpa turun dari sepeda motornya.


"Okeyyy Barra gua ke luar," teriakku dalam rumah.


"mah...pah...Riana berangkat, "lanjutku sambil mencium punggung tangan mereka walaupun terburu-buru.


"Silahkan...tuan putri...," Ujar Barra yang mengubah posisi tas gendongnya ke arah depan.


"Enggak papah gak usah dirubah tasnya ke belakangin aja," ujarku.


"Enggaklah biar tuan putri nyaman hehe,"jawabnya asal.


"yaudah deh gimana lu aja,"


Bel istirahat pun menggema ke seluruh penjuru sekolah menandakan bahwa tak lama lagi kantin akan di buat ramai oleh seluruh siswa.


"Rin..makan di taman yuk sambil belajar ,"ujar Barra yang tiba-tiba muncul dihadapan ku dan Bella.


" Alah..lu Barra sambil belajar apa belajar sambil pacaran kali ,"sungut Bella asal.

__ADS_1


"apa sih Bella....,"sambar ku yang dibuat malu oleh Bella.


Namun Barra tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya agar aku ikut dengannya.


"Oke..kita ke taman yah Bella lu mau ikut gak?,"ajak ku.


"enggak deh ...," jawabnya singkat.


Namun ketika kami berjalan sudah amat jauh tiba-tiba...


"Woy...kalo jadian jangan lupa PJ (Pajak Jadian)," Teriak Bella yang membuat seluruh penjuru sekolah mendengar.


Kami hanya tersenyum menanggapi sikap Bella .Walaupun sebenarnya malu dibuatnya.


Kami pun menghabiskan jam istirahat berdua entah habis untuk belajar atau tertawa.Barra terus membuat lolucon sepanjang jam istirahat tapi ia juga menyerap beberapa materi yang aku ajarkan padanya.


"Awhh..,"


Tiba-tiba telapak tanganku tergores bangku taman pada saat aku ingin mengambil buku karena terkejut dengan bel akhirnya aku terburu-buru sampai tak sadar tanganku tepat pada bagian tajam bangku tersebut.


Dengan refleks Barra langsung meraih telapak tanganku dan membasuh darah yang mengalir di sana dengan air minum miliknya.


"Awhhh...,"rengekku menahan perih.


"maaf...maaf," Ujar Barra sembari mengelus lembut dan meniup pelan telapak tangan ku sampai rasa perihnya hilang entah kemana.dan membuatku terbawa ke alam bawah sadarku.

__ADS_1


"Hei...Rin..Riana,"ujar Barra sembari melambai-lambaikan tangannya di depan mataku agar aku tersadar dari lamunan.


"Oh...iya kenapa,"Tanyaku polos.


"Gimana masih perih?,"


aku hanya menggelengkan kepala dan menatapnya lekat,tanpa sadar tanganku sudah dibalut flashter yang mana sudah terdapat gambar emoticon senyum di sana.


Kok ada emoticonnya sih ,"tanyaku.


"baru sadar bu,"jawab Barra sambil mencolek hidungku usil lalu menggenggam tanganku sambil berjalan bergandengan.


"Riana Jangan baper...," gumam ku yang sibuk menguatkan diri agar tidak jatuh hati kepada Barra karena ia terkenal buaya di seluruh penjuru sekolah.Tapi,entahlah rasanya ingin selalu bersamanya.


Kami bergandengan tangan sampai masuk kelas membuat seluruh penghuni kelas melihat kami sinis.


"uhuuyy ada yang jadian nih,"goda Bella.Yang di timbali beberapa siswa.


"iya nih cie...,"


"uhuyyy,"


Andai semua orang peka dengan wajahku,mungkin wajahku sudah seperti bunga mawar yang mekar memerah akibat perasaan malu dan senang beradu.


"Enggak kok kita enggak ada hubungan apa-apa, "Ujar Barra yang membuat semua orang terdiam yang mana mereka paham perasaan ku ketika Barra melontarkan pengakuan seperti itu.

__ADS_1


Aku langsung melepaskan genggamannya begitu saja dan bergegas duduk di bangkuku, rasanya sakit mendengar pengakuan Barra tadi. yang mana semua orang jelas melihatku girang ketika yang lain memojokkan ku dengan Barra, namun beda halnya dengan Barra dan itu membuatku malu dan sakit rasanya.


...****************...


__ADS_2