
Dua bulan berjalan cukup cepat sampai tanpa aku sadari jarak ku dengan Barra kini mulai Renggang karena adanya Naila kehadiran cukup menggantikan posisiku namun Barra selalu saja membuatku nyaman dan membuat percaya bahwa dia akan selalu bersamaku namun faktanya meragukan.
"Hai...Riana,"Sapa Barra yang ditemani oleh Naila.
Pukul 07.30 aku baru sampai di sekolah dimana orang-orang sudah memenuhi isi kelas.Aku terlambat karena menunggu Barra sebenarnya rupanya ia sudah pergi dengan Naila.
"Gua kira lu udah berangkat duluan," Lanjut Barra.
Aku hanya diam dan duduk di kursiku.
Sampai akhirnya waktu pulang pun tiba.Dan tepat di ambang pintu sudah ada Barra yang setia menunggu ku.
"Ini untuk tuan putri,"Ujar Barra sembari menyodorkan es krim coklat kesukaanku.
Dan anehnya setiap perlakuan manis Barra selalu berhasil membuatku tersenyum kembali.
"Apa sih tuan putri...tuan putri...," ujar ku menahan senyum.
Kami berdua pun pulang bersama sampai ia pun mengajak ku untuk belajar bersama di mall.Cukup aneh tapi ini membuat mood ku lebih baik mungkin aku bisa shopping setelah belajar.
Aku dan Barra pun memilih mall terdekat tidak cukup lama belajar kami pun memutuskan untuk shopping namun di sebuah toko aku seperti mengenal seseorang.
__ADS_1
"Kak...kak Ervan Affandie kan?,"Tanya ku pada seseorang tersebut.
Ia pun melihat kebelakang dan seperti mengingat sesuatu setelah menatapku beberapa menit lalu.
"Riana Shabrina yah?," ujarnya menebak.
"Iya kak gimana kabarnya kak?,"
"Ya ampun Riana,"Ia langsung memelukku seperti menyampaikan kerinduan yang cukup lama.
"Gua baik-baik kok ," Lanjutnya sembari melepas pelukannya.
"Kalian saling kenal?,"Tanya Barra.
"kok bisa bareng sih Rin?,"Kak Ervan sembari menggelitiki perutku.
"kak jangan mulai doang," aku sedikit menjauhuntuk membuatnya berhenti menggelitiki ku.
"Ohhh,"Ucap Barra ketus.
"Gini nih gua ceritain yah," ujar kak Ervan yang langsung menceritakan tentang kedekatan kami dulu kepada Barra.
__ADS_1
Kak Ervan pun menceritakannya bahwa kami dulu sudah seperti kakak beradik pada saat SMP kami hanya beda 1 kelas namun pandangan orang-orang menyatakan bahwa kami berpacaran karena kedekatan kami yang cukup erat namun pada suatu ketika kak Ervan harus pindah sekolah Karena ayahnya dipindah kerjakan ke luar kota.Oleh sebab itu kami merasakan rindu yang cukup mendalam.
Namun setelah mendengar cerita dari kak Ervan, sikap dan raut wajah Barra seperti berubah seperti orangnya marah entah apa yang salah dengan ceritanya.
Kita pulang yuk Rin,"Ajak Barra.
"Kok cepet banget sih Barra..masih pengen main,"Ujarku manja.
"Ya udah sama kakak aja pulangnya," Tawar kak Ervan.
"Ya udah deh,"aku langsung menyetujuinya.
Namun beda halnya dengan Barra ia tiba-tiba berubah seperti harimau menyeramkan dan langsung meninggalkanku dan kak Ervan tanpa kata pamit.Namun aku tidak terlalu memikirkannya karena aku benar-benar rindu kak Ervan.
"Kenapa Rin pacar kamu?," Tanya kak Ervan yang membuatku tertawa kecil.
"Temen kali kak,"
"Temen apa demen?,"
"Gak tau ah kak Ervan,"Ujarku agar membuatnya tidak melihat aksi saltingku.
__ADS_1
Kami pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan percakapan di cafe lalu kami pun mencari cafe terdekat rasanya tak menyangka bisa bertemu dengan kak Ervan lagi.