
Dari kejauhan terlihat Barra yang sedang memperhatikanku dan kak Ervan entah apa yang anak itu sedang lakukan namun ketika mataku bertabrakan dengan matanya ia malah mengalihkan wajah dan masuk kedalam kelas.
Hari ke 2 Barra masih menghindar dariku namun tadi pagi ia sikapnya mulai membaik mulai dari memperlakukan ku seperti tuan putri,mentraktir semua makanan kesukaanku dan mengajakku untuk makan malam spesial ini sangat membuatku amat bahagia.
Setelah beberapa jam berlalu waktu untuk pulang pun tiba.
Namun aku tidak melihat Barra saat itu,sedangkan diluar hujan begitu hebat dan ketika tadi istirahat aku menolak kak Ervan yang ingin menjemput.
"Ah...entahlah harus bagaimana,"Gumam ku.
Aku pun memberanikan diri menerobos hujan sampai ke depan gerbang namun tiba-tiba hujan seolah berhenti di atas kepalaku.Aku pun mendongakkan kepala ke atas lalu berhadapan dengan seseorang yang menutupi kepalaku dengan payung hitamnya. seseorang itu adalah Barra yang mana tatapan mata kami beradu dan saling menatap lekat.
"Kenapa sih gak nungguin? kan jadinya basah," Ujarnya sembari mengelus kepalaku lembut dan hangat rasanya.
"lu sih... tadi gak ada,"Jawabku sembari mencubit kecil perut Barra.
Posisi kami yang mulai terkikis semakin dekat karena derasnya hujan membuat kami refleks saling mendekat dengan posisi yang berhadapan.
"Lu yah...malah nyubit lagi gua cium yah," Ujar Barra asal.
__ADS_1
"Hah....,"aku yang terkejut refleks mundur kebelakang yang mana hampir terjatuh namun Barra dengan sigap menarik ku dan membuat posisi kami seperti 2 orang sedang berdansa di bawah derasnya hujan.
"Makanya jangan kabur...gua becanda kali," Bisik bara di telingaku yang cukup terkikis.
kami pun mulai memperbaiki posisi kami yang membuat khalayak banyak melihat dan akhirnya kami basah kuyup karena Payung yang kami gunakan tidak diposisikan dengan baik ketika Barra menarik ku agar tidak jatuh tadi.
"Kita pulang aja yuk,"Ujar ku memulai pembicaraan.
"Yakin hujan-hujanan?,"Tanya Barra mencari kebenaran.
"iya Barra...,"
"Yakin?," Barra terus mengulang kalimat itu berkali-kali sehingga membuatku kesal dibuatnya.
Barra pun terus mengejar ku dan terkadang menggelitik,
Pada saat itu hujan dan petir seperti bersaksi atas kebahagian kami rasanya tak seorang pun yang dapat menghentikan kebahagian tersebut.
Di atas motor yang dituruni banyak hujan aku memeluk erat Barra rasa dingin dari suhu hujan,kecepatan motor yang melaju serta rasa nyaman yang kini ada di benakku membuat semuanya menjadi satu membuatku terus mempererat pelukan.
__ADS_1
Namun setiba di rumah tubuhku seperti tidak karuan pusing,pilek,batuk menjadi satu sepertinya tubuhku akan tumbang. Namun aku ingat malam ini aku dan Barra berencana makan malam spesial aku tidak ingin rencana ini gagal kedua kalinya.
Jam telah menunjukan pukul 19.30
kami sudah merencanakan makan spesial tepat pada pukul 19.30 aku mencoba untuk tetap datang menemui Barra namun beberapa menit mamah masuk ke kamarku.
"Kakak jadi pergi sama Barra?,"Tanya mamah.
"Hmmm.....,"aku yang terus sibuk menghias wajah.
"kak...Kakak demam tau," ujar mamah sembari memegang keningku yang memang cukup panas.
"Tapi mah...,"Aku terus saja memaksa.
Namun mamah dan ayah lebih memaksaku agar aku beristirahat dan tidak pergi.
Aku pun mematuhi perkataan mereka setelah beberapa menit aku pun tertidur di waktu bersamaan Barra meneleponku memberikan kabar bahwa ia pun tidak pergi malam itu namun yang mengangkat panggilan Barra adalah mamah.
Sebelumnya mamah mengompres ku karena suhu tubuh yang terus meningkat dan aku yang terus menyebutkan nama Barra berulang kali. Karena Barra menelpon mamah pun memberi tahu bahwa aku terus memanggil nama Barra.
__ADS_1
Barra pun dengan sangat khawatir langsung ke rumahku dan sesekali membantu mengompres keningku.
Sebelum pulang ia menulis sebuah tulisan di kertas kecil yang di taruh di dekat pas foto,yang tertuliskan " Jangan sakit nanti gua rindu:),"