
Keesokan harinya kondisi tubuhku tidak cukup membaik namun dari pagi buta Barra sudah berada di rumahku hanya untuk memberikan sarapan.
"Hello tuan putri,"ujarnya ketika aku baru saja membuka mata.
Aku sedikit terkejut dengan kedatangan Barra pasalnya ia datang begitu pagi dan wajahku pun terlalu natural tanpa make up sedikit pun.
"ayo makan...,"Ujarnya.
"Gua mimpi yah? kok lu udah ada di rumah gua sih? kan ini masih pagi,"ujar ku yang tidak percaya dengan kedatangan Barra.
Aku pun berusaha untuk memposisikan tubuh agar dapat duduk dan Barra pun langsung membantuku.
"Udah diem lu...jangan banyak omong,"
"nih minum dulu...,"lanjut Barra yang kemudian duduk di depanku.
"kalo gak mau...,"
"Oh...mau gua cubit apa cium?,"Tanya Barra histeris.
"A...a....a...," Barra pun mengulurkan sesendok bubur di depanku.
Aku pun mematuhinya sampai dapat menghabiskan semangkuk bubur tersebut.
Kemudian Barra pun harus pergi karena jam telah menunjukan pukul 07.30 ada 30 menit untuk Barra datang ke sekolah agar tidak terlambat.
Sebelum pergi ia mengelus kepalaku dengan lembut.
"Sembuh lu yah,"ujar Barra lalu pergi.
Rasanya tidak ingin jauh dari Barra ingin selalu di sampingnya selama-selamanya.
Setelah beberapa jam berbaring di kamar membuatku sedikit jenuh dan bosan. Sampai tiba-tiba terdengar suara di balik pintu kamar.
"Rin...Riana...,"Bella di ambang pintu dengan banyak makanan di tangannya.
"Bella..udah pulang sekolah?,"Tanyaku senang.
__ADS_1
"Sini...,"Aku meminta Bella untuk duduk di sampingku.
"Oke...,"Bella pun duduk di sampingku.
Aku dan Bella pun cerita panjang lebar dan Bella juga menceritakan tentang apa saja yang terjadi di sekolah satu hari ini.Ia pun membawakan buku catatan untuk ku.
Namun setelah berbincang banyak dengan Bella beberapa menit lalu, Barra datang ke rumah ku.
"Hai...,"Barra tersenyum diambang pintu.
"Sini...,"Aku memintanya untuk masuk.
"Nih gua bawah apa coba?...,"Barra menunjukkan segala sesuatu yang ia bawa dari mulai buah-buahan, cemilan,coklat dan yang lebih spesial dia mencatat pelajaran hanya untuk ku.
"Nih liat usaha gua...,"ia menunjukkan buku catatan nya yang dicatat dengan rapih.
"gimana udah mirip kan sama tulisan lu?,"lanjut nya.
"Terus?...Bella kan udah bawa buku catatan nya,"ujar ku heran.
"Bella kan bawa buku catatan nya tapi kalo gua catet pelajaran khusus buat lu jadi lu gak usah cape lagi buat nulis,"Jelasnya.
"Ya udah deh gua pamit yah ,"pamit Bella.
"kok gitu sih Bell...,"Tanyaku.
"Gak mau ganggu kalian,"ujar Bella dengan terkekeh.
"iya terganggu ,"sambung Barra.
"Barra....,"aku menatapnya kesal.
"gua becanda kali,"lanjut Barra.
kami bertiga pun tertawa sampai akhirnya Bella pun benar-benar pamit karena sudah mulai sore.Namun Barra masih saja sibuk menjelaskan materi-materi sekolah tadi yang sudah di jelaskan oleh pak guru.
Rasanya ingin selalu begini....
__ADS_1
Dekat dengan Barra adalah hal yang sangat bahagia.
Namun tiba-tiba
"Riana...,"suara yang jelas terdengar di ambang pintu.
"Kak Ervan..," aku pun mempersilahkan masuk padanya.
Barra pun langsung mengalihkan pandangannya ke ambang pintu.
"Oh...Lu ,"Barra tampak kesal.
Lalu Barra tiba-tiba langsung membereskan barang-barang nya ke dalam tas.
"Lu mau kemana?...,"aku menatapnya.
"Pulang lah udah sore,"jawabnya ketus.
Kesal rasanya jika Barra sudah begitu.
"Beneran mau pulang sekarang Barra...,"aku mencoba menahan ia agar tidak pergi.
"Hmmmm,"
"JAWAB BARRA...,"aku mencoba menarik lengannya agar ia mau menjawab.
"IYA RIANA...LU MAKSA BANGET SIH, KALO GUA MAU PULANG YA...MAU PULANG GAK USAH NANYA LAGI,"jawabnya dengan nada yang cukup tinggi.
Lalu ia pergi begitu saja.
"Udah Riana jangan di ambil hati dia lagi capek mungkin,"Kak Ervan mencoba menenangkan.
lalu ka Ervan pun duduk di sampingku lalu membiarkan pundaknya menjadi sandaran.
"Iya kak capek tapi kenapa sering berubah mood kaya gitu,"Gumam ku di balik pelukan kak Ervan.
Sebegitu misteriusnya Barra di mataku sampai aku tidak tahu alasan Barra tiba-tiba baik kepada ku dan alasan Barra tiba-tiba marah kepada ku.
__ADS_1
Kak Ervan pun menemani ku makan buah setelah beberapa jam karena hari mulai gelap kak Ervan pun memilih untuk pulang.
...****************...