
Kami pun akhirnya memutuskan pulang pada pukul 12.00 a.m meskipun aku masih berpakaian baju tidur aku tidak pernah malu jika di samping Barra dan untung saja tadi pagi aku sempat mandi walaupun tidak mengganti baju.
Barra pun mengantarku sampai rumah dengan selamat.
"Mamah....,"Teriakku dengan terus tersenyum.
kenapa kak?kok pergi sama Barra lama banget," Tanya mamah.
"Ada deh,"aku masih saja tersenyum.
"kenapa sih dari tadi senyum-senyum mulu," mamah menghampiri dan melihat semua belanjaan yang ada di tanganku.
"kamu shopping? kok tumben belanjanya banyak banget,"Lanjut mamah.
"Dibeliin Barra dong mah," ujar ku dengan bangga.
Hari itu cukup menyenangkan bagiku aku pun memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Bella nanti malam.
"Mamah...kakak mandi dulu yah,"
"iya kak...udah deh jangan senyum mulu,"Mamah sembari mengelus kepalaku lembut.
"Emang gini... kalo lagi jatuh cinta,"lanjut mamah.
__ADS_1
"apa sih mah...," aku tersipu malu dibuatnya.
Malam pun tiba aku sudah tidak sabar menceritakan semuanya kepada Bella dari A sampai Z aku sampaikan padanya. namun di akhir kata Bella terkejut karena Barra ingin mengajakku makan malam spesial.
"Hah...makan malam spesial? di cafe?pake gaun cantik?,"pertanyaannya yang bertubi-tubi.
"Iya.... Bella...,"
"Ini sih jelas lu mau ditembak Riana, "Ujarnya mengejutkan.
"Em...m... masa sih," Aku sedikit tidak percaya dengan ucapannya.
Lalu Bella pun terus meyakinkanku bahwa Barra ingin menyampaikan perasaannya. aku amat senang mendengar itu semua, rasanya ingin cepat makan malam spesial dengan Barra.
waktu pulang pun tiba tidak biasa kak Ervan datang ke sekolahku dan ia pun membawa sebatang silverqueen di tangannya.
Kemudian yang lebih mengejutkan kak Ervan mengungkapan perasaannya kepadaku di depan banyak orang.Memang dulu aku pernah memiliki rasa kepadanya namun semenjak bertemu dengan Barra ras itu mulai pudar.
setelah beberapa menit kak Ervan mengungkapan perasaannya parkiran sekolah mulai terdengar ramai.
"Terima....Terima...,"Teriak beberapa siswa.
Seketika aku pun melihat ada Barra di kejauhan yang tidak lama pergi menjauh dari pusat keramaian itu, namun entahlah raut wajahnya seperti tidak bisa diartikan.
__ADS_1
Keadaan itu membuatku tak karuan mendengarkan keramaian yang berfokus kepada aku dan kak Ervan. Aku pun pergi tanpa berkata sepatah pun menyusul Barra yang mulai menghilang dari pandangan.
Akhirnya aku pun dapat menemukan Barra yang sedang duduk termenung di kursi taman.
"Hai...Barra ," Aku yang melambaikan tangan dari kejauhan menghampiri Barra.
Namun ia terus diam termenung tanpa memperdulikan kedatanganku.
"Kita jadi kan, makan malem nanti?,"Lanjut ku lalu duduk disampingnya.
Namun ia terus saja diam.
"Barra...Barra...kenapa sih?," Aku menggoyangkan tubuhnya agar ia mau membuka mulutnya yang sedari tadi sudah tertutup rapat.
"Nanti aja yah Rin,"Ujarnya dengan begitu singkat lalu pergi begitu saja.
"Rasanya sakit melihat sikap Barra yang begitu dingin, mengapa sikapnya mudah berubah seperti arah angin," Gumam ku.
Setelah beberapa menit berjalan tanpa aku sadari sudah ada kak Ervan tepat di depanku dengan es krim coklat ditangannya.
Kami pun mulai berbincang dan aku meminta maaf kepada kak Ervan karena meninggalkannya begitu saja tadi. Namun dia begitu dewasa di mataku sampai ia tidak sedikit pun marah atas kejadian tadi.
Kak Ervan menceritakan bahwa ia menyukaiku dan tidak ingin kehilanganku namun jika pilihanku tidak bisa menjadi pacarnya kami masih bisa menjadi seorang kakak beradik seperti layaknya keluarga ."And I like it".
__ADS_1
Namun berbeda dengan Barra yang perasaannya masih kelabu tidak dapat ditebak oleh siapapun.