Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Kamu adalah luka pertama yang luar biasa


__ADS_3

Aku dan Barra memutuskan untuk pergi ke cafe datang secara masing-masing, keputusan itu aku setujui karena aku bisa memberikan surprise kepada Barra saat tiba di cafe nanti.


Jam menunjukan pukul 20.00


Namun aku datang lebih dulu daripada Barra sampai akhirnya aku pun harus menunggu.


Jarum jam telah menunjukan pukul 20.30


selama setengah jam aku menunggu Barra namun Barra tak kunjung datang, ia pun tidak dapat di hubungi.


Aku pun sudah pegal menunggunya entah berapa kali aku duduk lalu berdiri dilakukan berulang kali tanpa hentinya,


sampai aku pun duduk dilantai memeluk lututku lemas.


"Nunggu siapa mbak,"Tanya seorang pelayan.


"eh...lagi nunggu temen mbak,"


"Oh...kasian jg mbaknya nunggu lama,"


"gak papah kok mbak,"jawabku yang telah lemas tak berdaya.


"Barra...lu dimana...?,"Umpat ku kesal.


Karena Barra yang tak kunjung datang aku pun hendak meninggalkan cafe,


Namun tiba-tiba...


"Riana..."Suara Barra yang terdengar jauh di belakangku.

__ADS_1


Saat aku mendengar suara Barra bibirku refleks menarik lengkungan menggambarkan senyuman. Saat aku mencoba berbalik badan dan aku pun terkejut melihat Barra yang bergandengan dengan Naila .


Mereka pun langsung mendekatiku yang masih diam terpaku dengan pemandangan tersebut.


"Hai...Riana,"Sapa Naila.


"Rin...gua mau bilang sama lu",lanjut Barra.


Aku hanya terdiam.


"Gua mau nembak Naila,"Ujar Barra yang berhasil membuat terkejut.


"Lu kan temen gua, lu jadi saksi yah kalo gua serius sama Naila,"


Entah apa yang kini ada dipikiran ku rasanya perasaan dan pikiranku mulai beradu, kenapa hatiku tiba-tiba sesak dan sakit rasanya setelah beberapa jam menunggu Barra dengan berharap dia mengungkapkan perasaannya lalu memberi kabar bahagia rupanya ia datang hanya memberi luka.


Dan sekarang siapa yang salah? aku yang terlalu berharap atau Barra yang terlalu memberi harapan.


"Gua duluan yah," Aku yang langsung membalikan badan.


Namun Barra memegang lenganku


"Lu mau kemana gua kan belum nembak Naila," Ujarnya.


"Gua udah di suruh balik sama mamah Bar...,"Ujar ku bohong tanpa membalikan badan.


"Gua anter yah?,"


"Gak usah," aku pun melepaskan genggamannya lalu menghapus air mata yang jatuh di pipi yang mulai tidak bersahabat dan aku pun pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Langit pun seperti mengerti lalu hujan turun begitu deras membasahi seluruh tubuhku membuat gaun dan wajah yang tadi tampak indah kini berantakan dan hancur.


Tuhan...luka macam apa yang begitu sakit ini, rasanya tak sanggup untuk pura-pura tidak ada apa-apa. Lalu kenapa tuhan, kau buat aku mencintainya sedangkan kau buat ia mencintai orang lain.


Kini gemuruh hujan sudah tak aku hiraukan rasanya tubuh ini sudah tak sanggup menyusuri jalan.Aku pun terjatuh lemas di pinggiran jalan beberapa kendaraan berlalu seperti heran melihat ku.Namun setelah beberapa menit aku terduduk di jalanan aku mulai tidak sadarkan diri dan penglihatanku mulai gelap buram.


"Barra...kamu kenapa, "Ujar Naila yang bingung melihat Barra terus melamun.


"Eh..eh...gua nyamperin Riana dulu yah," Ujarnya lalu pergi meninggalkan Naila sendiri.


Barra pun langsung menerobos derasnya hujan tanpa memedulikan apapun.setelah beberapa menit menyusuri jalan Barra melihat seseorang yang terlentang di pinggir jalan.


Dan ia pun terus mendekat dan melihat bahwa orang tersebut ialah Riana.


"Riana.....,"Suara Barra seolah mengalahkan gemuruh hujan.


Barra pun dengan begitu khawatir memeluk Riana dan membawanya ke rumah sakit. Ia terus mengumpat menyalahkan dirinya.


"Rin...lu kenapa pulang sendiri?,"


"gua seharusnya gak ngebiarin lu pulang sendiri,"


"gua bego Rin...Maafin gua...,"Barra yang terus mengumpat dan merasa bersalah terus menyalahkan dirinya sendiri serta terus memukuli kepalanya.


Setelah beberapa jam di rumah sakit mamah dan ayah Riana pun tiba di sana Barra langsung menghampiri mamahnya sambil terus menangis.


"Mah...Riana mah...," Ujar Barra yang terus menangis.


Karena mamah yang terlalu khawatir dengan Riana ia tidak menghiraukan Barra.Namun ayah memilih untuk mencoba menenangkan Barra dan pada akhirnya ayah pun dapat membuatnya sedikit tenang dan menyuruhnya pulang karena orang tuanya pun pasti mengkhawatirkannya, lalu Barra pun dengan terpaksa harus pulang.

__ADS_1


Barra berpamitan dan meninggalkan Riana dan orang tuanya di rumah sakit


...****************...


__ADS_2