
Tak biasanya pagi hari ini Barra tak menjemput ku pergi ke sekolah.Cukup aneh sampai aku pun tidak dapat menebak apa maunya.
"Barra...,"Teriakku sambil mengejarnya dari belakang.
" Hmm,"Barra terus berjalan tanpa memperdulikan ku.
Padahal aku ingin mengembalikan buku fisikanya yang tertinggal di rumahku kemarin.Namun Barra enggan untuk berhenti.
"Ya sudahlah aku kembalikan bukunya nanti pulang sekolah,"Gumam ku dan berhenti mengejar Barra.
Bel pun dibunyikan beberapa kali menandakan bahwa pembelajaran telah usai, beberapa siswa ricuh karena terburu-buru pulang. Begitu pun Barra, tak biasanya ia terburu-buru biasanya ia akan menungguku dan mengajakku pulang bersamanya, namun tidak untuk kali ini sehingga aku pun harus berdempetan dengan beberapa siswa yang terburu-buru agar bisa mengembalikan buku Fisika Barra karena jika tidak di kembalikan hari ini, besok ada fisika dijadwal pembelajaran.
"Barra....," Teriakku yang sudah cukup kencang namun nihil tidak membuat Barra sedikit pun menoleh.Entah tidak terdengar atau bagaimana namun beberapa siswa yang berjalan sejajar dengan Barra sempat menoleh ke arahku.
Bruks.....
"Awhhhh....,"Aku tiba-tiba tertabrak dan terjatuh begitu kencang sampai refleks mengeluarkan suara yang cukup kencang membuat beberapa siswa membalikkan badannya dan menghampiriku.
"Rin...lutut lu berdarah,"Ujar salah satu siswa yang menunjuk ke arah lutut sebelah kananku.
__ADS_1
"iya Rin," sambung beberapa siswa.
"Ihhh serem...banyak banget darahnya,"
Terdengar ramai di telingaku beberapa siswa yang membicarakan kondisiku namun apalah daya aku hanya bisa terdiam dan lemas karena melihat darah di lututku.Darah memang musuh ku sejak kecil aku selalu merasa lemas dan pening ketika melihat darah bahkan bisa sampai pingsan.
Namun tiba-tiba ada orang yang langsung menggendongku dan membawaku ke ruang UKS namun sayangnya kepalaku terasa pening sampai tidak dapat melihat wajah seseorang itu dengan jelas.
Setelah beberapa menit akhirnya aku bisa merasakan rasa pening yang mulai hilang di kepala ku dan dapat melihat jelas Barra yang tertidur di kursi yang setia memegang tanganku.
"seperti suami yang menunggu istrinya terbangun," gumam ku aku pun terkekeh sendiri dengan pikiranku.
"Barra...,"aku pun mencoba membangunkannya dengan mengelus kepalanya lembut.
"Lu ya...kenapa tadi harus ngejar-ngejar gua hah?,"Umpat Barra yang terlihat kesal namun terlihat khawatir.
"Buat kembaliin ini ,"Aku hanya tersenyum dan menunjukkan buku fisikanya.
"itu kan bisa besok Riana...,"
__ADS_1
"Shutttt...,"Aku mencoba menutup mulut Barra dengan jari telunjukku.
"Gua tadi abis pening jadi jangan marah-marah dan jangan berisik," lanjut ku.
"Ya Udah ayo pulang...,"ujar Barra.
"Tapi gua pengen silverqueen yah...," ujar ku
Barra yang hendak berbicara pun terpotong karena aku langsung melanjutkan permintaanku.
" karena... lu udah ngediemin gua gak jelas dan gua gak nerima penolakan,"lanjutku dengan tegas.
"Harusnya gua deh yang dibeliin," ucapnya pelan sembari sibuk membereskan tasku.
"Hah...Apa?,"aku mencoba agar Barra mengulangi ucapannya.
"enggak...,"Jawabnya yang langsung menuntunku turun dari brankas sampai ketempat parkir di mana motor Barra berada.
Barra selalu membeli cokelat untukku karena ia tahu aku suka cokelat namun 2 hari ini ia tidak membelikan jenis cokelat apapun dan akhirnya aku bisa membuatnya membeli cokelat untukku.Karena rasa cokelat seperti berbeda jika Barra yang membelikan.
__ADS_1
"Jangan diemin gua lagi ya,Barra ," gumam ku dibelakang punggung Barra yang terus fokus melihat jalanan mengendarai motornya dengan telaten.
...****************...