Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Perkara semalam


__ADS_3

Hening memenuhi ruangan yang kini aku tempati.Sedikit demi sedikit aku mencoba membukakan mata walaupun rasa pusing membuatnya susah untuk dibuka.


"Mah...,"Aku mencoba membuka mulut walaupun rasanya berat.


"Iya kak...," ujar mamah yang histeris.


Mamah terlihat cukup lelah dari matanya yang sudah mulai menghitam dan membengkak akibat menahan ngantuk atau mungkin sehabis menangis. Wajar saja dari tiga hari kebelakang aku baru bisa membukakan mata di hari ke-tiga ini, entah kenapa aku tak kunjung sadar selama itu.


"Mah...Riana dimana?",Tanyaku gemetar.


"Kamu di rumah sakit sayang,"jawabnya lirih.


"Aku kenapa?,"


"kamu pingsan semalem kak,dan Barra yang antarkan kamu kesini,"


Riana pun mulai mengingat kejadian semalam,yang membuatnya tersungkur dan tak sadarkan diri dijalanan.


"Mah... Riana benci Barra," ujarku meneteskan air mata.


"iya sayang...mamah tahu,"mamah pun mendekapku penuh kehangatan.


aku mulai menceritakan tentang kejadian semalam yang membuatku membenci Barra.


Dan sekarang yang memenuhi benakku hanya kebencian terhadap Barra.


Aku tak tahu kenapa seberharap ini aku padanya dan aku pun masih bertanya-tanya siapa yang sebenarnya salah aku yang terlalu berharap atau Barra yang terlalu memberi harapan.


Keesokan harinya...


Dimana matahari belum sedikit pun menampakkan wujudnya dari arah barat, Barra sudah di ruangan ku untuk menjenguk.


"Hah Barra??? udah di sini pagi-pagi gini,"gumam Riana.


"tapi hawanya berbeda... bukannya bahagia malah bikin gua enek yah,"Lanjutnya.


"Barra lu ngapain ke sini???,"Ujarku.


"Gua mau jenguk lu lah, kesayangan gua,"Ujarnya yang terus menyengir.


"Pergi gak lu,"Usirku


"gak mau,"


"pergi gak...,"

__ADS_1


"gak mauuuu,"


"PERGIII...,"Ujarku sambil mencoba menggapai apapun yang ada di atas meja untuk melempari Barra.


Namun dengan sigap ia menghampiri dan menghentikan tanganku agar tidak melemparkan barang-barang diatas meja tersebut. Yang membuat kami saling memaku satu sama lain.


Setelah beberapa menit...


"Tuh kan...Lu suka sama gua...sampe gak ngedip-ngedip,"kekeh Barra.


"Najis,"sungut Riana yang langsung memperbaiki posisinya.


"Kaya lu ngedip aja,"gerutu Riana pelan.


"Hah apa?,"Tanya Barra.


Riana hanya diam tidak ingin meresponnya.


"Apa?,"Ulangnya.


"Apa?apa?apa?,"Ujarnya berulang kali dan mendekatkan telinganya kepadaku.


"KAYA LU GAK NGEDIP AJA TULIII",Teriak Riana yang begitu menggelegar di telinga Barra.


Barra perlahan mendekatkan wajahnya


"Lu..u..jangan bales gua,"gerutu Riana yang terdengar tidak jelas karena tangan Barra yang menutupinya.


"Untung gua sayang,"Bisik Barra di telingaku.


Aku pun memutuskan menggigit tangan Barra agar terlepas dari mulutku dan membuatnya melepaskan genggamannya di tanganku.


"AW..AW..,"rengek Barra kesakitan.


"Tuh rasain yah lu,"Ledekku.


"Ayangnya aku kok galak yah sekarang,"Gombalnya.


"Ayang...ayang...,"ujarku


"Kaya Harimau maou...maou...,"Lanjutnya sambil meniru seekor harimau yang membuatku geli melihatnya.


"Gitu dong,senyum kan manis,"


"Gak nyangka... Barra, si kulkas tujuh pintu juga bisa bikin gua ketawa geli,"gumamku.

__ADS_1


"Jadi udah gak marah kan ke gua?,"


"enggak...,"Ujarku dengan terus tersenyum manis.


"Gua kupasin buah yah? gua suapin?,"


Riana hanya mengangguk menyetujuinya.


"Kenapa herannya setiap berantem sama Barra tuh gak bisa lama-lama yah,"gumamku.


Pada saat itu...aku pun bahagia berada di sampingnya. semoga sekarang, besok dan nanti akan terus seperti ini.


Tiba-tiba...


"Kakak ...,"panggil mamah di ambang pintu.


"mah, asyik mamah dateng,"Ujar Riana antusias.


"Barra kamu ngapain disini,"Tanya mamah.


"Kamu kayanya harus pulang deh,"


"mah...jangan kaya gitu,"


"Kamu yakin udah baikan sama Barra sayang?,"Tanya mamah untuk meyakinkan Riana.


"udah kok mah,"ujar Riana yang terus tersenyum.


Dan akhirnya mamah menyadari kehadiran Barra memberikan kebahagiaan untuk Riana sehingga mamah pun akhirnya membiarkan Barra menemani anaknya.


" Kalo Barra udah lama disini?,"Tanya mamah memulai kecanggungan.


"Udah lama mah,"jawabnya.


"Lama banget mah, matahari belum nongol aja nih anak udah disini,"lanjut Riana.


"Iya???,"mamah terkekeh


"hehe...iya mah biar lama gitu jenguknya, kan harus berangkat sekolah juga mah,"


Kami bertiga pun mulai berbincang dan tertawa gembira di sana.


Barra pun memutuskan untuk berpamitan karena harus pergi ke sekolah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2