Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Barra berakhir tragis


__ADS_3

Matahari dari arah barat sudah menampakan dirinya dan begitu pun dengan Barra yang sudah menampakkan diri di halaman rumahku.


"Ri...lama banget deh lu, tumben?,"Ujar Barra.


"Iyalah,"Jawab Riana simpel.


Memang betul semenjak Riana mengenal sosok Barra ia lebih sering memperhatikan penampilannya.


"Wih...cantik lu," Gombal Barra.


"Apa sih lu?,"Balas Riana yang berusaha menutupi kesaltingannya.


"Salting yah lu...,"


"Gak lah,"Riana pun bergegas naik ka atas motor Barra karena ia tak mau mendengar Barra yang akan terus menggombalinya.


Setelah tiba di sekolah Barra memilih pergi ke tongkrongannya terlebih dahulu, lalu Riana sendiri memilih untuk langsung ke kelas.


Namun dipertengahan jalan


"Riana...,"Teriak Naila yang bergegas menghampiri Riana.


"Iya kenapa?,"


"Lu yah," Naila yang langsung mencengkram lenganku


.


"gua kan udah ngasih tahu lu tentang Barra jadi harusnya lu tuh jauh-jauh sama Barra,"Lanjutnya sinis.


"Tapi...,"


"Tapi apa?,"Naila yang langsung memotong pembicaraanku.


"Tapi Barra gak seperti yang lu pikirin",


"Alah sok tahu lu,"


"Lagi apa?,"Barra yang tiba-tiba merangkulku.


Berbarengan dengan datangnya Barra,Naila pun melepaskan cengkeramannya.


"Gak lagi ngapain-ngapain," Ujar Riana yang langsung mengajak Barra pergi.


"Ihhh shitt...,"Umpat Naila.


Kami berdua pun menyusuri koridor kelas bak seperti tuan putri dan pangeran yang terus bergandengan.


Setiba di kelas...


"Wih...udah jadian belum nih,"Sambar Bella.

__ADS_1


"Iya nih mana pajak jadian," lanjut beberapa siswa dikelas.


"iya nih...,"


Sekita kelas pun ramai.


Riana dan Barra pun menetralisasikan dirinya masing-masing karena mereka takut salah satu dari mereka tidak memiliki perasaan yang sama.


"Ki...ta... kita gak jadian kan yah Ri...," Ujar Barra.


"Kita cuman temen kan?,"lanjutnya.


"Gua berharap lu ngejawab kita temen tapi perasaan kita lebih dari temen,"Gumam Barra.


Riana yang masih terdiam mendengar pernyataan Barra yang tidak ia sangka,dari sekian banyak perlakuan Barra yang terlalu berlebihan kepadanya Barra hanya menganggap itu semua sebagai teman.


"Ayo Riana jawab," Gumam Barra.


"Iya kita temenan tapi nyatanya kita mu-su-han," Jawab Riana kesal dan menekan kalimat "musuhan".


"Lah...kok musuhan? parah banget nih anak yah,emang dia gak punya perasaan gitu ke gua," Gumam Barra kenal dengan jawaban Riana.


"Tuh kan kalian denger sendiri,"Lanjut Barra.


"Barra...kenapa lu gak ngomong sih? kalo lu anggap gua pacar,emang lu gak punya perasaan gitu ke gua." Gumam Riana berharap.


Karena kesal Riana pun langsung duduk di bangkunya begitu pun dengan Barra.Seisi kelas pun heran melihat tingkah laku mereka berdua.


'Iya,"Jawab Riana ketus.


"yakin?,"


"Gua gak mau suka sama cowok yang gak suka sama gua,"Jelas Riana yang terus melotot sinis melihat ke arah Barra.


"ya udahlah gua aneh ke kalian berdua,"


"Aneh gimana?,"


"Ya gitu deh,'


Akhirnya seorang guru pun memasuki kelas kami sehingga Riana dan Bella pun bisa berhenti berdebat.


Beberapa materi pelajaran sudah diterangkan dengan baik oleh pak Tono, namun karena Riana yang terus mengingat-ingat perkataan Barra tadi pagi membuat konsentrasinya berantakan sehingga semua materi yang telah dijelaskan berterbangan di otaknya. Tidak ada sedikit pun yang dicerna olehnya.


"Oke baik, sekarang coba Riana ke depan untuk menjawab soal nomor 1 silahkan...," Tiba-tiba pak Tono dengan lantangnya memanggil nama Riana.


"Ri...lu di panggil,"Ujar Bella.


"Oh...iya,"


"Bella...yang ini coba jelasin lagi,"Riana menyodorkan bukunya.

__ADS_1


"Riana...lu kenapa sih?biasanya gua yang nanya sekarang lu,"


"Riana ayo,"Ujar pak Tono mengingatkan.


"iya pak,"


"Udah cepetan," Ujar Riana kepada Bella.


Bella pun menjelaskan dengan ringkas untung saja otak Riana yang mudah mencerna langsung memahaminya, lalu ia pun bergegas maju ke depan untuk menjawab soal nomor satu.


"Berikan tepuk tangan untuk Riana!,Karena sudah tepat menjawab soal tersebut, "ujar pak Tono.


Suara tepuk tangan pun ramai memenuhi ruang kelas.


Setelah Riana duduk Bella pun langsung mengintrogasi Riana.


"Ri...lu kenapa sampe gak fokus tadi,gak biasanya loh? ,"Bella mengintrogasi.


"gak", jawab Riana santai.


"Jawab Ri...?,"


"Oke...oke...,"


Riana pun menjelaskan alasannya kenapa ia tidak fokus selama pembelajaran, ini semua di sebabkan karena ia yang terus mengingat-ingat perkataan Barra tadi pagi, ia mengungkapkan bahwa Kata " Cuman temen," yang tadi pagi dilontarkan oleh Barra terus mengganjal di hatinya.


"Fiks itu sih lu suka sama Barra,"Ujar Bella.


"Suttt...jangan kenceng-kenceng,"


"Kenapa Bella?,"panggil pak Tono.


"Tuh kan," Ujar Riana ketakutan.


"Siapa tadi kamu bilang?Barra bukan?,"lanjut pak Tono.


" Oh iya..pak Barra mau ngisi soal nomor 4 katanya,"Jawab Bella asal.


"Lah kok gua," Ujar Barra kebingungan.


"Parah lu Bel,"Lanjut Riana yang tahu persis bahwa pelajaran fisika memang musuh bagi Barra.


" Maaf...Ri...urgent,"Ucap Bella nyengir tanpa dosa.


"Bagus itu kan biasanya Barra gak suka ngerjain tugas, sekarang silahkan Barra maju,"ujar pak Tono.


"Baik pak," Barra yang terlihat pasrah.


Barra pun berakhir tragis karena salah mengisi soal, akhirnya pak Tono memberikan tugas khusus untuk Barra dan sebagai hukuman juga karena ia tidak suka mengerjakan tugas pak Tono, padahal bukan tugas pak Tono saja yang ia tinggalkan hampir semua mata pelajaran. Jadi hukuman itu ada baiknya juga untuk Barra agar tidak mengulanginya lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2