
"Riana...,"panggil Barra dari kejauhan menghampiri ku dan Bella.
" kita jadi kan pulang sekolah belajar di rumah lu,"lanjut Barra.
"ENGGAK, "jawabku refleks entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja mungkin aku masih marah pada Barra soal pengakuannya tadi di kelas.Namun bukankah itu hal yang tidak wajar siapa aku di hidup Barra. tapi entahlah aku tidak bisa mengontrol perasaanku saat ini.
"Kenapa?," Tanya Barra sembari memegang kedua bahuku dan membuat posisi kami berhadapan cukup dekat.
Dan sial matanya membuat pandanganku tidak bisa beralih membuatku terus menatapnya lekat.
"euhemmm...gua duluan udah di jemput,"ujar Bella yang akhirnya membuatku tersadar dari tatapan Barra.
"Bella...beneran duluan," Teriakku
"Iya...,"Teriak Bella yang jaraknya sudah cukup jauh dari posisi aku dan Barra.
Dan kini aku merasa kaku didepan Barra.
"yakin gak jadi?," ujar Barra.
"Iya ,"Jawabku singkat lalu pergi meninggalkan Barra begitu saja.
Namun Barra tetap diam di sana, mungkin Barra aneh melihat sikapku berubah padanya tapi entahlah aku hanya bisa mengikuti perasaanku saat ini.
__ADS_1
...****************...
Malam pun tiba rasanya ingin sekali berbaring di atas ranjang walaupun masih pukul 20.30 aku pun menjatuhkan tubuhku di atas rancang untuk melepas lelah setelah beberapa menit berbaring tiba-tiba pengakuan Barra lewat di pikiranku.
" kita gak ada hubungan apa-apa kok," kalimat itu terus menghantui pikiranku dan terus mengganggu tidurku.Padahal aku telah mencoba memejamkan mataku dan semua itu kalah dengan pikiranku yang masih sibuk berkutat dengan pengakuan Barra.
Kkring.....
Bunyi notifikasi telpon di handphoneku tiba-tiba berbunyi aku pun mulai mencoba menggapai handphoneku yang berada cukup jauh dari posisi ku tanpa mengubah posisi ku yang terlentang lepas.Namun ketika nama sang penelpon mulai terlihat jelas aku mulai memposisikan tubuhku menjadi duduk tegak.
"Iya hallo,"ujar ku menjawab panggilan dari sang penelpon.
sang penelpon ialah "Barra"yang entah kenapa aku tidak bisa menolak panggilan itu.
kalimat sayang sudah tak asing lagi di telingaku yang selalu Barra lontarkan saat kami berdua.Namun entahlah bagaimana mengartikannya sebagai gurauan atau sungguhan.Namun pengakuan Barra tadi di kelas sudah memberikan kepastian bahwa itu hanyalah gurauan.
"Apa sih? sayang, sayangan," ujar ku ketus.
"Kok tumben di koment udah gak mau di panggil sayang lagi yah?,"
Aku langsung menutup telpon sebelah pihak, rasanya tidak bisa jika harus menahan agar tidak terbawa perasaan mendengar setiap kalimat romantis yang keluar dari mulut Barra.Padahal sejujurnya aku bahagia setiap mulut Barra melontarkan kalimat-kalimat romantis kepadaku.Dan Barra lah laki-laki pertama yang membuatku jatuh hati namun aku enggan mengakui itu semua.
Dan sekarang aku sulit tidur karena terus memikirkan hal tadi saat aku menutup telpon sebelah pihak. Sekarang siapa yang harus aku salahkan.
__ADS_1
"arghhh ...,"aku pun menarik napas panjang mencoba menetralisir pikiranku.
...****************...
Jam telah menunjukan pukul 07.30
"mamah..kok gak bangunin kakak sih mah?,"Umpatku sambil sibuk mengalikan tali sepatu.
"udah kak, tapi kakak susah bangun mentang-mentang lagi menstruasi yah?,"ujar mamah yang sibuk menyiapkan makanan.
"nah,itu mah untung kakak lagi menstruasi jadinya gak perlu mengkodo shalat subuh,"
"Oh iya ngomong-ngomong papah sama adek kemana?,"sambungku.
"Udah berangkatlah, kan kamu biasanya sama pacar kamu upss sama temen kamu maksudnya,"
"ihh... mamah gimana ini kakak telat?,"ujar ku yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.
"ya.. udah kakak naik taxi yah mah,"lanjutku sambil bergegas berpamitan lalu memasukan sarapan dan bergegas berjalan ke pintu depan.
"mah....aku sama dia temen yah bukan pacaran ," Teriakku diambang pintu.
iya...,"Teriak mamah
__ADS_1
"Aneh banget Padahal gak papah sih pacaran juga," lanjut mamah berbicara sendiri, karena aku sudah tak terlihat lagi di ambang pintu.