Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
di bioskop


__ADS_3

pulang sekolah pun tiba...


Kak Ervan sudah menungguku di parkiran.


"Hai kak,"Sapa Riana.


" Hai...kita jadi kan nonton?,"Tanya kak Ervan.


"jadi kak,cuman Riana izin dulu yah,"


"gak usah kakak udah izin kok,"


"ya udah ayo...,"


Namun saat aku akan masuk ke dalam mobil kak Ervan Barra berteriak dari kejauhan.


"Riana ... tunggu...,"Teriak Barra.


"Apa?,"


"Lu mau kemana kok sama Ervan sih?,"Tanyanya sembari terus memegang pintu mobil.


"gua mau nonton sama kak Ervan,"jawab Riana.


"Kenapa gak bilang sama gak izin?,"


"gu..u..a...,"


"sutsss...gua masuk dulu baru lu ngomong,"Barra menutup mulutku lalu masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang.


"ih... lu ngapain sih ikut?dan apa lu bilang? gua gak bilang, dari tadi juga mau bilang sama lu tapi lu bilangnya nanti-nanti aja,terus ngapain gua harus izin sama lu?,"umpatku kesel dengan sikapnya.


"udah...udah gua maaf lu kok,tapi gua harus ikut,"jawab Barra dengan enaknya.


"siapa yang mau minta maaf sama lu,"Ledekku.


"udah ..udah kalian berantem aja deh,nanti jodoh loh,"ujar kak Ervan.


"enggak...,"jawab Barra dan Riana kompak.


"Aminnn....Amin..,"gumam Barra dan Riana


"ya udah ayo... gak papah Barra kalo mau ikut,"lanjut kak Ervan.

__ADS_1


"Tuh kak lu denger si Ervan aja ngizinin gua ikut,"ujar Barra.


"Terserah...,"jawabku kesal.


Kami pun memulai perjalanan


di pertengahan jalan kami melihat ada pasar malam di sana.


Riana pun meminta agar mereka bisa turun dan mencoba beberapa permainan.


kami memulai untuk mencoba kincir angin.


"gua di bawah aja lah,"ujar Barra.


"kenapa lu takut,"Tanya Riana.


"enggaklah,"


"Cemen banget lu,"lanjut Kak Ervan.


"Ya udah gua ikut,"


kami pun mulai masuk ke dalam satu sangkar kincir angin tersebut.


"ya udah gua gak mau debat,"jawab kak Ervan.


Kincir angin pun mulai di putarkan. ketika posisi kami mulai meninggi Barra mulai mempererat pegangannya di tanganku.


"Barra...lu kenapa sih?lepasin gak,"Ujarku


"gu..u..a.. ta...kut Ri sumpah,"jawab Barra yang terus


menunduk ketakutan.


"Cemen lu Bar,"Kak Ervan terkekeh.


"kak...kayanya Barra beneran takut deh, dia sampe keringetan kaya gini ,"Ujarku sembari mengusap keringat di kening Barra.


"Kita turun aja yah kak,"lanjutku.


"oke..deh,"


kami pun memutuskan untuk menaikinya hanya satu kali putaran, karena Barra sudah cukup ketakutan aku pun tak tega melihatnya seperti ini.

__ADS_1


Namun setelah turun Barra terus saja memeluk tanganku dengan erat.


"Woy...Barra udah turun kali lepasin tangan Riananya,"ujar kak Ervan.


"udah gak papah kak,kasian juga,"Ujarku.


kemudian kami pun melanjutkan perjalanan ke bioskop aku tak menyangka bahwa dua lelaki ini sepakat memilih film horor agar menakutiku.


film pun mulai diputar


alur cerita film ini sangat hebat tak dapat di tebak, sehingga seluruh alurnya benar-benar menguji adrenalinku.


Saat aku mencoba menutup mata dengan sigap Barra merangkulku begitu pun dengan kak Ervan.Seketika aku merasa seperti tuan putri yang sedang diperebutkan oleh dua pangeran tampan.


"Ervan kenapa lu ngikutin gua mulu sih?,"ujar Barra


"Ada juga lu yang ngikutin gua,"ujar kak Ervan.


"lu lah,"


"lu...,"


Namun lama kelamaan aku pun risih dibuatnya.


"STOP...,"Teriak Riana reflek berdiri menghentikan mereka.


mereka berdua pun kompak menutup mulut ku.


"sutsss .,"Barra dan kak Ervan kompak.


Sampai aku pun lupa bahwa kami sedang berada di sebuah bioskop. Yang mana membuat orang-orang langsung melihat ke arahku karena suara teriakan ku tadi.


"Tuh kan, kalian sih...,"


"Maaf...Maaf..,"ujar kami kompak sambil menundukkan kepala berulang kali.


Aku pun membawa mereka keluar dan mengajak mereka untuk pulang, karena rasanya malu jika kami tetap menonton.


"Kalian...kenapa sih kalian rebut Mulu?,"gerutu ku kesal.


"enggak kok,"jawab mereka santai.


"Tau ah ayo pulang,"Ujarku sambil berjalan mendahului mereka.

__ADS_1


__ADS_2