Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Tentang Barra


__ADS_3

Setiba di rumah aku langsung bergegas mandi,solat dan bersiap-siap mencari pakaian paling bagus yang aku miliki.Yang sontak membuat bi minah dibuat heran dengan sikapku.


"Non,mau keluar lagi yah?,"Tanya bi minah yang berdiri di ambang pintu.


"iya bi maaf yah Riana gak makan siang di rumah,soalnya ada temen yang ngajak makan diluar,"Jelas ku panjang lebar.


"Oh iya gak papah atuh non," Jawabnya.


"kalo boleh tau sama non Bella atau sama cowok non makannya?,"lanjutnya


"Sama cowok," jawabku dengan terus fokus memilih pakaian yang cocok untukku.


"Boleh bibi bantu non,"


Tawaran bi minah sontak membuat ku berpaling melihatnya.


"Yah bolehlah bi,sini...bantuin...Riana udah pusing bi,"ajak ku dengan wajah sedikit frustasi karena belum sempat menemukan pakaian yang cocok ditubuh ku.


Bi minah pun mulai membantuku dan menjelaskan dari " A sampai Z "dari katanya cowok sukanya kaya gini,sukanya kaya gitu, kalau aku cocoknya gini,cocoknya gitu.Tapi apa yang bi minah jelaskan itu sesuai dengan apa yang aku suka.Mungkin aku akui bi minah bukan hanya jago masak,beres-beres tapi juga jago dalam fashion anak muda seperti ku.


Setelah beberapa menit akhirnya kami menemukan pakaian yang cocok di tubuh ku.pakaian berwarna dark pink dengan garis putih yang melingkar di bagian pinggang.Dan aku pun dibantu bi minah memakai make up.Karena ini pertama kalinya aku menggunakan pakaian feminim seperti ini dan menggunakan make up.ia pun melepas kacamataku dan menyatakan bahwa semuanya sudah selesai.

__ADS_1


Aku pun berdiri di hadapan cermin yang memantulkan rupa tubuh serta wajahku,yang tidak dapat dipungkiri itu indah.


"Kok cantik yah bi," Puji ku.


"Emang non cantik non ,"jawabnya membuat ku melayang entah kemana.


"makasih yah bi,"


Tepat setelah lebih satu menit Barra datang menjemput ku.aku pun langsung turun menyusuri anak tangga.Aku pun membuka pintu dimana Barra sudah siap dan duduk di sepeda motornya.


"Riana...,"Ujarnya tanpa berkedip.


"Woy...kenapa?," Tanya ku sambil menggerakkan telapak tangan secara berulang kali agar membuat mata Barra berkedip.


"Lu cantik..," Lanjutnya.


Aku hanya tersenyum malu dibuatnya.


"Tapi boong,"Lanjutnya.


"Ih..lu tuh... ," Rengek ku sambil memukul berulang kali pundak Barra.

__ADS_1


"Iya lu cantik suer demi alex hehe,"jawabnya sambil menunjukan kedua jari yang membentuk huruf " V".


"Udah lah ayo,"Ajak ku.


"Jangan cemberut dong tuan putri,"


"Udah ah ayo,"jawabku dengan bibir yang sedikit tertarik dan melengkung menggoreskan senyuman tipis.


Setiba di cafe kami langsung memesan makanan dan setelah makanan tiba kami langsung menyantap makanan tersebut.Di sepanjang kami makan banyak yang kami bicarakan,sampai aku memberanikan diri bertanya tentang sikap Barra yang sering berubah-ubah.


"Barra gua boleh nanya enggak sih?," Tanyaku dengan begitu berhati-hati,aku hanya takut pertanyaan ku membuatnya tersinggung dan berubah sikap kepada ku.


"Tanya aja sih,"jawabnya.


"Lu..u.. kenapa...sering tiba-tiba berubah sikap kaya jahat,bandel,dan susah diatur gitu sih?," Tanyaku dengan intonasi yang cukup pelan agar pertanyaan ku tidak melesat dan membuatnya marah.


Namun siapa menyangka pertanyaan ku membuatnya berhenti menggerakkan tangannya yang sedari tadi fokus melahap makanan.Dan ia meletakkan kedua sendok nya di piring,membuatku sontak ketakutan.


"Oh enggak jadi deh nanyanya lanjut makan aja,"Ujar ku sambil berpura-pura sibuk menghabiskan makanan yang berada tepat di depan ku.


Namun ia mengulurkan tangannya agar menggapai tanganku dan ia pun menarik serta memegang tangan ku erat, memfokuskan pandangan ku dan pandangannya menjadi satu arah.

__ADS_1


Ia menceritakan tentang dirinya yang hidup bersama singel parent,bersama ayahnya ia hidup,ibunya meninggalkannya sejak kecil ketika ia menginjak umur 3 tahun.Namun kehadiran ayahnya tidak dapat mengantikan semuanya, karena ayahnya hanya sibuk dengan pekerjaannya.Didikan dari ayahnya memang cukup keras ia selalu dituntut untuk bisa mendapatkan nilai terbaik di sekolah.Namun sikap ayahnya yang terlalu keras dan pekerjaan yang membuatnya tidak mengenali anaknya sendiri,bahwa anaknya tidak suka dikekang, malah membuat anaknya menjadi pemberontak.


...****************...


__ADS_2