
Setiba di rumah tepat setelah aku masuk rumah hujan datang begitu saja.
"Untung udah nyampe rumah ,"Ujar Barra.
"Baru nyampe rumah gua kali,"Ledekku.
"Gak papah,kan nanti rumah Lu rumah gua juga,"
"Ngaco Luh,"
Mamah pun menyambut kami dengan ramah.
"Eh kalian, untung kalian udah nyampe,"Ujar mamah.
"Anak Tante gak lecet kan Barra?,"lanjut mamah terkekeh.
"Lecet nih mah,"sambung Riana.
"Mana ada Tante, Riana Datang dengan selamat sentosa,
saya mengantarkan Riana sampai dalam rumah"
kami pun tertawa mendengar Barra yang begitu formal menyampaikan keadaan Riana kepada mamahnya.
Akhirnya Barra pun dapat mencairkan keadaan lagi sehingga mamah yang awalnya kesal dengan Barra perkara malam kemarin kini mereka sudah akur kembali.
Entahlah Barra memiliki taktik apa yang selalu dapat mencairkan suasana.
Setelah satu jam lebih menunggu hujan reda Barra pun memutuskan untuk pulang. Walaupun sebenarnya ia masih sangat ingin berada di rumah Riana.
Malam pun tiba...
Setelah Riana hendak tertidur di atas kasurnya yang sangat ia rindukan ini, terdengar notifikasi dari handphonenya.
Barra
"Lu udah tidur belum,"
Riana typing...
Barra
Menelpon....
Riana
"Hallo...,"
Barra
__ADS_1
"Hallo...
gimana Riana udah baikan kan badannya? terus lu lagi mau ngapain?,"
pertanyaan Barra yang bertubi-tubi.
Riana
"Iya udah baikan dan gua udah mau tidur,"
"Bisa gak sih nanya yan satu-satu?,"
Barra
"Bisa...bisa...cuman ini lagi kangen aja,"
Perbincangan via handphone yang awalnya tidak aneh ini
berhasil membuatku mengurungkan niat untuk tidur, juga berhasil membuatku senyum-senyum tak karuan.
Sampai akhirnya kami berdua tertidur dengan keadaan handphone yang masih menyala.
Pagi pun tiba...
"pagi Riana,"ujar Barra yang sudah nongkrong di depan halaman rumahku dengan sepeda motornya.
"Udah jangan banyak tanya ayo berangkat,"
"pamitan dulu dong sama calon mertua lu,"ledekku
"oh iya,"ujar Barra polos dan turun dari sepeda sportnya.
Kami pun akhirnya berangkat setelah berpamitan kepada orang tuaku.
Kebiasaan Barra yang selalu saja mengoceh di atas sepeda motor.
"Ri...gimana udah nyatet pelajaran dari gua?,"Tanya Barra.
"Belum lah,lu kan nelpon gua semalem jadinya gua belum nulis,"
"Alesan,lu aja pas gua telpon mau tidur bukan mau nyatet,"
"tau ah terserah lu,"
"oh iya gua mau ngomong,"
"udah...udah jangan ngomong gua mau ngebut,"
"padahal gua cuman mau bilang nanti gua mau dijemput sama kak Ervan,"gumam Riana
__ADS_1
Seketika Barra pun melajukan kecepatan sepeda motornya.
"Barra...,"Teriakku sambil memeluk Barra.
"gitu dong,"
"Dasar modus lu,"Ujarku dan memukul bahu Barra.
Setiba disekolah kami pun langsung masuk sehingga aku tak sempat memberitahukan Barra soal nanti aku akan pulang bersama kak Ervan.
Jam istirahat tiba...
"Barra gua mau ngomong,"ujar Riana.
"Nanti aja gua mau main basket dulu,"Teriaknya sambil berlari kelapangan.
"nanti kalo ngombrol sama lu gua ketagihan hehe,"ujar Barra yang kembali di ambang pintu lalu kembali berlari.
aku hanya tersenyum mendengar ucapan Barra tadi.
"udah baikan Rin sama si Barra,"Tanya Bella.
"udah kok,"
"Oh syukur deh,"
Aku dan Bella pun memutuskan untuk pergi ke kantin untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan minta diisi.
setelah beberapa menit duduk di meja kantin Naila pun menghampiri kami.
"Ri...gimana udah baikan?,"
"Udah kok Naila,"
"syukur deh,gua mau ngomong soal Barra berdua aja yah,"ujarnya sambil meminta Bella untuk pindah meja untuk beberapa menit.
Naila pun menceritakan bahwa Naila dan Barra pernah satu sekolah Naila menceritakan semua tentang Barra namun aku merasa semua yang di ceritakan Naila dari sisi buruk Barra saja.
"Jadi gua gak mau, kalo Barra ngasih harapan ke lu terus ninggalin lu gitu aja,"
"mending kaya gitu, kalo lebih parah? ngelakuin hal yang gak seharusnya terus malah ninggalin lu,"lanjut Naila.
"lu juga gak mau kan?,"lanjutnya kembali.
Aku hanya diam mencoba mencerna semua yang diceritakan oleh Naila.
"Iya sih ada benernya juga, tapi...entahlah Naila?,"gumamku
...****************...
__ADS_1