Saya Tidak Peduli Pada Mu

Saya Tidak Peduli Pada Mu
Rasa takut tersendiri


__ADS_3

Barra pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan meminta maaf kepada Riana atas apa yang ia perbuat terhadapnya.


"Rin...,"Ujar Barra.


Riana tidak memperdulikan kehadiran Barra,ia terus berkutat dengan handphonenya yang saat ini sudah hancur berantakan.


"Rin...maafin gua yah,"lirih Barra.


Namun Riana hanya diam tidak sedikit pun menanggapi apa yang Barra ucapkan.


"Rin...lu beneran marah,"


"Gua traktir lu coklat sepuasnya, mau gak?,"


"mm...mm...atau traktir baso?mie ayam,"


"Rin...jawab dong,"


"pergi,"Jawab Riana ketus.


"Hah...apa? lu gak bisa menghargai orang apa?,"


"gua bilang pergi yah pergi...,"tegas Riana.


Bella pun tiba-tiba datang ke kelas dan duduk ditempat duduknya.


"Nih...Rin,lu nitip air botol kan,"Ujar Bella sembari menyodorkan sebotol air mineral.


"Makasih ,"Ujarnya.


"Barra ngapain lu di sini?bukannya lu kemarin marahin Riana?,"Sindir Bella.


"Gua mau minta maaf,"


"Lu harusnya sadar dong,kesalahan lu udah gak bisa dimaafin,"Ujar Bella kesal.


"Tapi Bell...,"


"Udah,Sono...Sono jangan gangguin temen gua lagi,"Usir Bella.


Barra pun mau tidak mau pergi dan duduk di bangkunya dengan tenang.


"Bella bener sih,harusnya gua malu sama perbuatan gua sendiri,"Gumam Barra.


mata pelajaran selanjutnya pun telah di mulai, dan berakhir setelah beberapa jam yang lalu.


Seluruh siswa pun pulang ke rumah masing-masing untuk melepaskan rasa lelah setelah seharian bersekolah.


Dan entah kenapa mobil ayah Riana sudah terparkir di depan sekolah.


"ayah...,"Riana pun bersalaman pada ayahnya.


"Kakak kenapa ?kok ayah telponin gak bisa,"Tanya ayah.


"Hehe iya yah, Handphone Riana jatuh tadi, soalnya lantai kantin licin yah tapi Riana malah gak hati-hati," Ujar Riana berbohong.


"Tapi kakak gak kenapa-kenapa kan?,"Ujar ayah sembari memutar balik tubuh Riana memastikan bahwa ia benar-benar tidak apa-apa.


Pada saat Riana dan ayahnya mengobrol Barra pun ada ditempat tersebut, sehingga ia pun dapat mendengar semua obrolan mereka.

__ADS_1


"Ya ampun Riana,handphone lu kan rusak sama Naila kenapa lu masih bohong aja," Gumam Barra sembari memarkiran sepeda motornya.


"Oh iya yah,ayah sendiri kok tumben bisa jemput kakak?,"Tanya Riana.


"Iya soalnya pekerjaan di kantor hari ini selesai lebih awal kak jadi bisa pulang cepat,makanya ayah tadi telpon kakak dulu biar kakak gak pulang duluan,eh ternyata nomornya gak bisa dihubungi,"Jelas ayah.


"Iya deh,maafin kakak ya...yah ,"


"Kakak gak salah,"


Li


Pada saat Barra hendak pulang,ia pun harus melewati Riana dan ayahnya,sehingga ia memutuskan untuk menyapa ayah Riana.


"Om duluan," Ujar Barra sembari mendorong motornya agar lebih ke depan.


"Eh Barra ya,"Ujar Om Herman.


"Eh iya om,"Rupanya Om Herman masih mengenal Barra,sehingga ia pun bersalaman terlebih dahulu kepada om Herman.


"Oh iya Barra,kamu hati-hati yah kalo lagi di kantin,soalnya kata Riana lantai kantin licin,Riana aja jatuh sampe hancur handphonenya,"Ujar Om Herman.


"Oh...Lantai kantin licin yah om?,"Ujar Barra sembari menatap ke arah Riana.


"iya...,"


"Iya kan Barra,lu tau kan?,"Riana memotong ucapan ayahnya dan membulatkan matanya agar Barra mengangguk.


Namun Barra masih saja terdiam membuat ayah Riana bingung.


"Iya kan Barra...," Tegas Riana membulatkan matanya.


"Hehe iya om licin,"Ujar Barra tersenyum.


"Oh iya ayo,"


"Kita duluan Barra,"Lanjut ayah Herman.


"Oh iya om,hati-hati om,"


Riana dan ayahnya pun pulang lebih dulu daripada Barra.


Setelah tiba di rumah dan setelah usai membersihkan tubuh Riana pun langsung turun ke bawah lalu mencari telpon rumah.


Ia pun mengetikan beberapa angka di sana lalu mencoba menghubungi Barra dan untungnya Riana masih mengingat nomor ponselnya.


"Halo siapa?,"Ujar Barra dibalik telpon.


"Riana,"


"Oh Riana,"Terdengar tawa Barra seringai.


"kangen ya,lu?,"Lanjut Barra.


"Najis," Sungut Riana.


"Gua cuman mau bilang kalo lu jangan berani-berani bilang ke keluarga gua kalo handphone gua hancur karena Naila!,"Perintah Riana.


"kenapa?,"

__ADS_1


"Udah sih gak usah nanya,"


"ya udah gua bilangin ke om Herman sama tante Ros kalo anaknya bohong,"ancam Barra.


"Iya...iya...gua kasih tahu nih,"


"Deketin dulu ponsel lu ke telinga, "


"buat?,"


"Udah nurut aja sih kan mau bisik-bisik, "


"apa cepetan?udah gua deketin nih,"


"BARRA BOLOTTT.....,"teriak Riana dibalik ponselnya.


Riana pun berhasil menjahili Barra.


"Wah...parah lu Rin,kuping gua sakit tau,"


Barra pun mendengar gelak tawa Riana di balik ponselnya yang hampir ia rindukan akhir-akhir ini.


"Gak papah kok,gua dijahilin sama lu asal denger lu ketawa hehe,"Gombal Barra.


"Apa sih lu?gak jelas,"Riana pun terdengar menghentikan tawanya.


"Gimana gua kasih tahu keluarga lu ya?,"Tanya Barra.


"Jangan...oke gua cerita nih,"


Riana pun menceritakan bahwa ia masih memiliki rasa takut tersendiri karena dulu ia sering dibully oleh banyak orang, hal itu membuat orang tuanya khawatir berlebihan kepadanya sampai mereka mengalami stres ringan, sehingga ia pun tidak ingin lagi membuat orang tuanya khawatir.


Akhirnya Barra mengerti rasa takut yang dialami Riana dan ia pun menyetujui permintaan Riana.


Pada malam ini keluarga Riana merencanakan makan malam di luar dan semua anggota keluarga pun menyepakatinya.


Mereka memilih restoran dengan nuansa jepang untuk kali ini karena restoran bernuansa jepang menjadi restoran yang jadi permintaan Alya adik dari Riana.anggota lain dengan senang menyetujuinya.


Setelah Riana dan keluarganya menghabiskan beberapa menit untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan akhirnya mereka pun berbincang-bincang.


Setelah usai berbincang mamah Riana pun memberikan handphone baru untuknya.


"Wah...buat kakak mah?,"Tanya Riana kegirangan.


"Iya kak,kata ayah handphone kakak rusak gara-gara jatuh di kantin ya udah mamah langsung beliin aja tadi,"


"Ah...mamah... ayah...,"


"iya kakak,"Jawab ayah dan mamah serentak.


"kakak janji akan lebih berhati-hati lagi,dan gak bakal ngerusak handphonenya lagi,"Ujar Riana tersenyum lebar.


"kalo masalah hati-hati sih harus kak,kan buat keselamatan kakak juga,"jelas ayah.


"hehe iya yah siap,"Jawab Riana sembari memberikan hormat kepada ayahnya bak seorang siswa yang sedang menghormati bendera merah putih.


Mereka semua pun tertawa melihat kelakuan Riana.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk segara pulang karena sudah terlalu larut malam.

__ADS_1


Setelah tiba di rumah semua orang pun langsung menuju kamarnya masing-masing untuk segera beristirahat namun beda halnya dengan Riana ia berkutat dengan handphone barunya ia memasukan beberapa nomor handphone yang menurutnya penting untuk segara di masukan.


...****************...


__ADS_2