
Disebuah rumah yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, kini terdapat seorang pria yang sedang tertawa karena telah merencanakan sesuatu kepada targetnya.
"Mata harus dibalas mata," ucapnya lalu kembali tertawa seraya senyum psychopat terus tersungging dari balik bibirnya.
"Lo udah rebut kebahagiaan gue dari kecil. Dan sekarang lo kembali merenggut bokap gue," Lanjutnya kembali lalu melemparkan pisau kecil tepat didepan sebuah kertas foto dihadapannya.
"Sekarang lo bisa tertawa menikmati hidup sesuka lo. Setelah itu, bumm,"
"Habis lo," lanjutnya. Dan matanya menyorot tajam di bawah sinar lampu temaram.
.....................
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Dan sebuah mobil baru saja terparkir di depan kos minimalis.
"Thanks for today, aku senang banget hari ini,"
Tayana masih enggan keluar dari mobil, karena merasa hari ini masih terlalu singkat.
Harsen menyelipkan rambut Tayana ke belakang telinganya. Dan tersenyum hangat kepadanya.
"Gak ada kata terima kasih dalam sebuah hubungan. Dalam sebuah hubungan harus saling simbiosis mutualisme, saling menguntungkan," Harsen membingkai wajah Tayana dengan tangannya.
"Mulai hari ini, jangan pernah merasa sendiri lagi. Ada aku yang selalu berada di samping kamu. Dan masih banyak orang yang sayang sama kamu. Ingat satu hal, kapan pun dan dimana pun kamu merasa terancam, hubungin aku. Atau kamu boleh tambahin nomorku di panggilan darurat," Ucap Harsen.
"Entah kebaikan apa yang dilakuin orang tuaku sampai aku menuai karmanya dengan dapetin pasangan seperti kamu," Ucap Tayana lirih.
Hampir saja bibir mereka bersentuhan karena suasana yang mendukung. Tiba-tiba kaca mobil mereka di gedor berkali-kali.
"Woy, buruan keluar cepetan. Atau ban mobil lo gue kempesin," ucap seseorang dari balik kaca mobil mereka.
Membuat Harsen dan Tayana keluar dengan wajah dinginnya dan memutar bola mata malas melihat siapa yang telah mengganggu momen kebersamaannya bersama sang kekasih.
"Lo bawa anak gadis orang kagak pamit anjirr, gue mak nye," Lanjutnya dengan tangan yang sudah memegang sapu khas emak-emak mengeksekusi maling.
"Heh ngadi-ngadi lo," Ucap Tayana.
"Diem atau ini melayang,"
Wanita itu seperti ingin menelan sesuatu yang ada di hadapannya karena kesal melihat mereka berdua.
"Udah deh Zah, gue ada bawa makanan nih buat lo," Ucap Tayana yang membuat wanita itu terdiam dengan mata berbinar mendengar kata makanan.
"Nanti gue bakal ceritain semuanya," Bisiknya kepada Renzah.
__ADS_1
Renzah berdehem sebentar untuk menetralisir rasa malunya karena terciduk seorang Harsen tingkahnya yang berbeda setelah mendengar kata makanan.
"Oke kalian bisa lolos kali ini. Lain kali kalau pulang selarut ini, gue ga bakal ampunin kalian berdua,"
Setelah mengatakan itu, ia pun masuk ke dalam kos meninggalkan mereka berdua.
"Sumpah bukan temen gue loh ya," Ucap Tayana seraya menaikkan kedua tangannya karena malu melihat tingkah absurd Renzah.
"Hati-hati temenan sama dia,"
"Hah?," Alis Tayana mengerut ke atas mendengar ucapan Harsen.
"Hati-hati ketularan gilanya," lanjut Harsen kembali dan tertawa karena telah berhasil menjahili Tayana.
Tayana yang mendengarnya pun sontak melayangkan cubitan kecil di pinggangnya.
"Iih ngeselin banget sih. Udah buruan pulang gih, keburu larut malam,"
"Yaudah aku pamit ya sayang, kalau ada apa-apa hubungin aku," Pamit Harsen dan dijawab anggukan dari Tayana. Lalu masuk ke dalam mobilnya.
Setelah memastikan mobil Harsen sudah menghilang dari pandangan, Tayana bergegas memasuki kosnya karena sudah merasa lelah berada di luar seharian.
"Bravo, lo pergi seharian dan gak ngasih kabar sama sekali. Bahkan lo dimana gue gak tau," Ucap Renzah diselingi tepuk tangan yang terus menggema.
"Eh gue ada bawa banyak makanan nih. Ayo di makan dul-,"
"Gak usah alihin pembicaraan Tayana Anatasya. Gue lagi serius ini," Ucap Renzah dengan sorot mata tajam.
"Gue khawatir sama lo. Gue telfon, gak aktif sama sekali. Gue chat juga lo centang satu. Coba deh lo cek handphone lo, mungkin udah ada ribuan panggilan dan pesan dari gue," lanjutnya.
"Maafin gue zah, gua salah. Tadi handphone gue lowbet dan kita gak bawa power bank dan carger sama sekali. Awalnya gue gak tahu mau dibawa kemana sama dia. Kami awalnya pergi sarapan di taman dekat kos ini. Setelah itu, dia bawa gue ke pantai. Dan kami habisin waktu seharian di pantai," Sesalnya karena telah membuat sahabatnya khawatir.
"Pantai mana?," tanya Renzah masih dalam mode galaknya.
"Teluk kiluan," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
"Bentar-bentar, gue kok kayak pernah dengar sekilas nama pantai itu. Dan itu letaknya lumayan jauh, bahkan memakan waktu sekitar dua jam untuk kesana," Ucap Renzah dan kembali menelisik Tayana penuh intimidasi.
Tayana yang mendapat tatapan seperti itu lantas memejamkan matanya kaena sekarang Renzah sedang dalam mode senggol bacok.
"Tega lu anjir gak bawa gue. Denger-denger itu pantai indah banget kan. Lain kali ajak gue dong, gue juga pengen kesana ege,"
Tayana yang tidak mendengar omelan Renzah lagi spontan membuka matanya dan senyum terbit dari bibirnya.
__ADS_1
"Seriusan, lo pengen kesana?," Tanya Tayana antusias dan dibalas anggukan antusias juga dari Renzah.
"Oke minggu depan kita kesana. Lo tahu gak, disana ada atraksi paus dan lumba-lumba yang cantik banget. Tapi sayang, gue gak sempet jumpa penyu disana," Sesal Tayana.
"Oh iya, gue ada ambil foto dan video mereka tadi," Tayana kemudian membuka kamera yang tergantung bebas di lehernya. Dan menunjukkan slide demi slide foto dan video mereka ketika di pantai tadi.
Jangan tanyakan gimana reaksi Renzah, ia hanya bisa ber "wah" ria melihatnya.
"Udah sekarang lo habisin semua makanan ini. Gue mau mandi dulu, gerah banget badan gue," ujar Tayana dan bergegas untuk membersihkan badannya yang sudah lengket.
"Lo gak usah khawatir. Sebelum lo keluar dari kamar mandi, semua makanan ini bakal hilang sekejap mata," Ucap Renzah dengan semangat, karena dia sangat suka sesuatu yang berbau makanan.
...................
Hari senin merupakan hari yang sangat dibenci bagi semua pelajar. Karena harus kembali mengulang aktivitasnya yang terasa membosankan.
Saat ini Tayana dan Renzah sedang mengikuti kelas pagi. Dan kebetulan yang masuk dosen killer, jadi mereka mau tidak mau harus produktif di senin pagi ini.
Setelah mengikuti kelas, mereka kemudian beranjak pulang karena merasa tidak ada lagi yang harus di urus di kampus. Mereka berjalan di koridor sambil melempar candaan.
Tayana tiba-tiba merasakan sakit teramat sangat dibagian perutnya.
"Zah, gue ke toilet bentar ya. Tunggu sebentar, perut gue sakit banget,"
"Tanggung banget, udah kita langsung ke kos aja," ajak Renzah.
"Bentar doang, udah gak tahan nih," sahut Tayana langsung berlari ke arah toilet.
"Ck, tu anak dibilangin gak pernah denger," Renzah kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di sekitarnya untuk menunggu Tayana.
..................
Ketika sudah sampai di toilet, Tayana buru-buru berlari ke arah closet untuk menuntaskan hajatnya.
"Pantas sakit banget, ternyata gue lagi kedatangan tamu. Nyeri banget anjir," lirihnya sambil mengeluarkan pembalut dari dalam tasnya. Ia selalu menyediakan pembalut ketika tamu bulanannya semakin dekat.
Ketika telah menuntaskan hajatnya, ia langsung keluar dari dalam toilet dan bergegas untuk menghampiri Renzah yang sudah menunggunya.
Namun tiba-tiba mulutnya di bekap dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius dari arah belakang sehingga ia langsung pingsan seketika. Lalu dibawa langsung oleh pria tak dikenal ke dalam mobil yang sudah berada di sekitaran toilet. Kebetulan toilet yang dimasuki Tayana langsung mengarah ke jalan keluar lewat belakang kampus.
....................
Jangan jadi silent readers ya guys. Jangan lupa like dan subscribe ceritanya. Komentar dari kalian terkadang membuat mood author naik untuk update lebih giat. See you in the next chapter guys 🤗😉
__ADS_1