
"Bagaimana perkembangan disana?," tanya seorang pria dari seberang telepon.
"Kondisi disini semakin tidak terkendali Yang Mulia,"
"Tidak terkendali bagaimana maksudmu,"
"Orang itu terlalu pintar menyembunyikan identitasnya. Sehingga server kami selalu mati jika menjangkau informasi mengenai orang itu Yang Mulia,"
"Saya tak mau tahu, jika dalam waktu seminggu ini kalian belum juga mendapatkan orang-orang yang telah meneror putri saya, maka kalian saya hukum sesuai dengan ketentuan kerajaan,"
Sambungan telepon pun terputus, membuat Robert selaku orang kepercayaan yang ditugaskan untuk menjaga Tayana menghembuskan nafas kasar.
"Jauh-jauh hari sudah aku peringatkan agar jangan pernah mengusik Yang Mulia, tapi kalian ceroboh sekali ck," gumamnya sambil menatap wallpaper ponselnya.
.............
Theo mondar-mandir di ruangan kerjanya. Perasaannya tidak tenang memikirkan tentang keselamatan putrinya hingga kepalanya terasa nyeri.
"Darren, ada yang tidak beres dari Robert. Biasanya ia tidak pernah kerja selambat ini. Ia satu-satunya pengawal yang aku percaya dengan kemampuannya yang mumpuni di kerajaan ini. Namun menjaga Putri mahkota saja ia tidak becus," Ia memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri.
"Silahkan di minum teh herbalnya Yang Mulia," Darren berinisiatif mengambilkan teh yang ada diatas meja karena melihat kondisi Rajanya yang kurang sehat.
"Terima kasih Darren," Theo pun kembali duduk di meja kerja dan meminumnya perlahan.
"Saya akan segera mencari tahu tentang penyebab semua kekacauan ini Yang Mulia,"
"Baiklah, kau boleh pergi,"
"Salam Yang Mulia," Darren sedikit membungkukkan badannya memberi salam kepada Yang Mulia Raja Theodore Wilson.
............
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang kesal karena panggilannya tidak digubris sama sekali.
"Sekali lagi. Kalau kau tidak mengangkat ponselmu,habis kau," gumamnya sambil menepalkan tangannya. Lalu kembali menekan nomor yang akan ia tuju.
"Ya halo Ma," sahut seseorang dari seberang sana dengan nada serak khas orang baru bangun tidur.
"Akhirnya kau angkat juga. Mama kira kau sudah mati tertangkap oleh orang-orang bodoh itu,"
"Mama ngomong apaan sih. Udah deh aku mau tidur dulu. Capek tadi malam lembur jual bunga di toko," sahutnya sambil menguap.
__ADS_1
"Dengar, gadis bodoh itu sudah mencurigaimu. Dan kau harus hati-hati lagi. Jangan sampai mereka berhasil menangkapmu,"
"Mama gak usah khawatir. Backingan kita kan kuat hmm," ucapnya sambil terkekeh.
"Sudah kau tidak usah banyak omong lagi. Cepat kau selesaikan semuanya dengan gadis bodoh itu. Mama tidak ingin bertele-tele lagi," bentaknya membuat orang yang berada di seberang sana menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Hmm," jawabnya malas.
"Arunika, kau sedang apa disana. Kita harus segera menyelesaikan semua pekerjaan ini," panggil salah satu pelayan yang bekerja di Vila itu.
"Nanti Mama telepon lagi, bye," Ia pun buru-buru mematikan ponselnya.
"Ah y-ya, aku sedang menelepon keluargaku," ucapnya gugup karena sudah dua kali ia terpergok oleh mereka.
"Yasudah sekarang tolong lanjutkan pekerjaan ini bersama Nina. Aku mau membersihkan taman belakang,"
"Baiklah,"
"Huh, seaindainya dulu aku membunuh Clarissa saja. Pasti sekarang aku sudah menjadi Ratu di kerajaan Theo," gumamnya sambil mencabut rumput di kebun belakang dengan kesal.
"Kau bicara sesuatu Arunika?," tanya Nina membuat Arunika menoleh menghadap Nina yang sudah melihatnya.
"Ti-tidak, aku tidak bicara apa-apa. Tadi aku hanya bilang kenapa rumput-rumput ini selalu memanjang ya. Padahal kan tiap minggu selalu di bersihkan," kilahnya.
"Ya kau benar,"
"Untung saja dia tidak mendengar semuanya, huh," batinnya.
..........
Harsen bersama teman-temannya saat ini berada di Vila Tayana. Mereka semua berkumpul disana termasuk Tayana dan Renzah sedang membahas tentang pelaku teror yang mengganggu Tayana.
"Bentar," sanggah Tayana ketika Harsen dan Steven sedang membahas tentang pelakunya. Ia menekan tombol yang ada dibawah meja, lalu tak berapa lama muncul sekat berwarna hitam mengelilingi ruang tamu itu. Sehingga mereka saat ini seperti sedang berada di sebuah ruangan rahasia.
"Anjir keren cok," Syehan dan yang lainnya terpukau dengan kecanggihan yang ada di Vila itu.
"Nah sekarang kita bisa bebas berbicara. Sekat ini juga sudah dibuat kedap suara. Karena gue dan Renzah mencurigai semua yang ada di Vila ini," Seru Tayana membuat mereka semua mengangguk paham.
"Jadi gini, sebelum sampai disini. Aku dan teman-teman yang lain melihat orang mencurigakan di luar Vila," Harsen membuka pembicaraan.
"Ciri-cirinya gimana?," tanya Tayana penasaran.
__ADS_1
"Tingginya kurang lebih sekitar seratus enam puluhan gitu, berkulit putih. Dan memakai baju serba hitam, memakai masker dan topi juga,"
"Bodyguard lo ada yang pakai pakaian kayak gitu?," tanya Renzah membuat Tayana berfikir.
"Seinget gue, orangnya bokap gak pakai masker dan hanya memakai baju formal yang udah diberikan sama Daddy secara langsung,"
"Nah, pas kita mau ngejar orang itu. Tiba-tiba saja Uncle Robert memanggil dan mengajak kami masuk dengan alasan bahwa Vila saat ini sedang melakukan pembersihan. Sehingga orang luar dilarang masuk begitu saja," sahut Steven.
"Menurut gue, Uncle Robert patut untuk di curigain sih," celetuk Syehan.
"Kalau menurut gue pribadi nih ya, mending kita selidikin semua orang yang ada di Vila ini. Kita ikutin alur permainan mereka, setelah itu kita akan membuat mereka terjebak dengan permainan sendiri," celetuk yang lainnya.
"Nah gue sepemikiran dengan Aidil," celetuk Kahvi.
"Caranya gimana untuk selidikin mereka semua?," tanya Renzah.
"Secara di Vila ini semua keamanan itu sangat ketat," Sambungnya. Tiba-tiba saja otak Tayana seperti ada lampu sampai membuat ia menjentikkan jarinya.
"Bicara soal keamanan. Dari segi keamanan, Vila ini termasuk sudah ketat dengan semua penjagaan di setiap sudut. Jadi gue sependapat sih sama kakak yang tadi untuk menyelidiki semua orang. Pastinya orang dalam sangat berpengaruh untuk melancarkan aksi si pelaku teror," tuturnya.
"Bagaimana kalau kita mulai dari teror juga," usul Renzah.
"Caranya?," tanya mereka semua hampir serempak.
"Kita pura-pura mengirim teror untuk Tayana lagi. Sampai orang itu merasa bahwa orang suruhannya yang telah memberikan teror itu kepada Tayana," Semua orang tampak berfikir mendengar saran dari Renzah.
"Tambahan dari gue, sebaiknya setiap sudut di vila ini di pasang alat penyadap suara beserta kamera kecil yang dipasang secara bersamaan tanpa diketahui oleh orang-orang yang berada di vila ini," celetuk yang lainnya pula.
"Ide bagus, jadi besok kita sudah bisa memulai aksi kita," Ucap Tayana.
"Intinya sekarang kamu harus berani sayang, jangan pernah takut sama apapun. Kecuali sama Tuhan," seru Harsen sambil mengelus kepala Tayana dan merangkul pinggangnya. Membuat mereka semua memutar bola malas.
"Hadehh, haredaeng uy,"
"Kipas mana kipas,"
"Bucin-bucin,"
"Dimana pun tempatnya, kesempatan bagus jangan pernah di biarkan hahahaha,"
Begitulah celetukan-celetukan mereka menggoda Harsen dan Tayana.
__ADS_1
"Bicara sekali lagi, besok mulut kalian pindah tempat," ucap Harsen santai sambil mengecup kening Tayana. Akhirnya mereka semua pun diam seketika membuat Renzah pun tertawa melihatnya.