
Dilain tempat, namun masih tetap berada di rumah sakit. Damian sedang mengumpati anggota yang di perintahkannya untuk membawa Harsen.
"Tinggal selangkah lagi, kita bisa membawa pangeran dari tempat bodoh ini. Tapi kalian tidak becus mengerjakan tugas dari Yang Mulia," Semua perawat yang di beri amanah tadi pun hanya bisa tertunduk menerima setiap umpatan yang keluar dari mulut Damian. Mereka semua hanya bisa mengucapkan kata maaf pada Damian. Namun tidak di gubris sama sekali. Ponsel Damian berdering, saat melihat siapa peneleponnya, mimik wajahnya berubah menjadi ketakutan.
"****, Yang Mulia menghubungiku. Apa yang harus ku katakan padanya," desisnya sambil mondar mandir di tempat itu. Mau tak mau, ia pun menerima panggilan itu.
"Salam Yang Mulia," sapanya hormat.
"Bagaimana disana?. Apa kalian berhasil membawa cucuku kembali ke istana?. Cepat katakan Damian, jangan hanya diam saja. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar kabarnya," sahut Yang Mulia Raja Anderson dengan antusias. Dan sayup-sayup terdengar suara Nayanika, putrinya menyuruhnya untuk menekan tombol loudspeaker.
"Kami gagal Yang Mulia, maafkan kami. Penjagaan disini terlalu ketat, ternyata pangeran merupakan ketua geng motor disini Yang Mulia. Dan semua anggotanya, kompak menjaganya selama pangeran di rawat di rumah sakit ini," sesalnya. Yang Mulia Raja Anderson terdiam mendengar penuturan Damian.
"Kembalilah," titah Yang Mulia Raja Anderson, lalu mematikan panggilannya.
Damian yang mendapat respon seperti itu dari Yang Mulia Raja Anderson pun hanya bisa tergugu di balik gelapnya malam itu. Ia merasa bersalah karena tidak berhasil membawa pangerannya kembali ke istana.
.........
Rayyan yang tiba duluan di rumah sakit dari anggota harder team pun langsung segera berlari menuju ruangan Harsen. Ia pun tak mempedulikan keberadaan Ravi dan Niko yang masih setia main game. Renzah yang memperingatinya untuk tidak masuk ke dalam ruangan Harsen pun tak di dengarnya.
"****," umpatnya karena melihat Harsen dan Tayana hampir berciuman.
"Ck, ketuk pintu dulu kek. Gagal kan," kesal Harsen. Jangan tanyakan bagaimana kabar Tayana, wajahnya sudah memerah karena malu.
"Sejak kapan lo sadar, kenapa gak langsung di pindahin ke ruang inap. Gue udah muak pake baju ini ya," gerutu Rayyan sambil menunjukkan baju khas menjenguk pasien di ruangan ICU. Harsen terkekeh mendengar gerutuan Rayyan.
"Sini duduk dekat gue," Rayyan menghampiri Harsen. Lalu Harsen pun menceritakan semua rencananya dari awal sampai drama rumah sakit ini terjadi. Rayyan bernafas lega setelah mendengar cerita Harsen.
"Lo harus bisa rahasiain ini semua. Karena kita belum tahu siapa aja pengkhianat yang ada di dalam harder team," Rayyan pun menganggukkan kepalanya.
"Jadi siapa pengkhianat yang udah menusuk kita dari belakang. Tangan gue udah gatel pengen habisin dia," Harsen membisikkan sesuatu pada Rayyan. Seketika matanya membulat kaget karena tak percaya bahwa orang itu yang telah mengkhianati mereka.
"Dan gue harap lo bisa kontrol emosi untuk saat ini. Karena gue gak mau kalau sampai ini semua gagal dan membuatnya curiga." Rayyan menganggukkan kepalanya. Ia pun menoleh pada Tayana yang bermain ponsel di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Cantik," batinnya. Harsen yang melihat arah pandang Rayyan pun mendecak.
"Ck, mata."
__ADS_1
"Posesif amat. Dahlah gue keluar dulu, puas-puasin dah disini bareng Tayana. Kasian dia nangis mulu semenjak lo koma," Mendengar namanya disebut, Tayana pun menoleh pada Rayyan dan tersenyum.
"Mulai sekarang gak usah senyum-senyum sama mereka," ucap Harsen setelah Rayyan menutup pintunya. Tayana menatap Harsen heran dan berdiri menghampirinya.
"Kenapa?," tanya Tayana heran.
"Nothing reason," Tayana tak menanggapinya lagi.
"Aku keluar dulu. Mau ngerjain tugas, kalau aku lama disini, nanti yang lainnya pada curiga." seru Tayana. Harsen mendecak malas karena harus berpura-pura masih koma setelah ini.
"Hmm, nanti malam kita call sampai pagi."
"Dih, ngatur. Tugas aku banyak, ga sempat."
"Gak ada bantahan. Ini statement, bukan question," Tayana memutar bola matanya malas.
"Hmm, ye lah." Harsen merentangkan kedua tangannya pada Tayana.
"Peluk," Tayana terkekeh melihat tingkah Harsen. Namun ia pun langsung memeluk Harsen. Setelah itu, ia pun keluar dari ruangan ICU itu.
"Kenapa muka lu?," tanyanya pada Renzah yang sudah menekuk wajahnya.
"Harsen masih belum sadar juga Tay?," tanya Steven yang dari tadi hanya melihat interaksi keduanya. Tayana menunduk mendengar pertanyaan Steven.
"Belum, masih seperti sebelumnya. Kita harus banyak berdoa biar Harsen cepat sadar," ucap Tayana sambil pura-pura menyeka air matanya.
"Lu jangan khawatir. Harsen itu kuat. Pasti besok dia bakal siuman," seru Syehan.
"Sial, dia malah terlihat imut seperti itu." Batin Rayyan.
..........
Beberapa pria tampak sedang bersulang bersama rekan-rekannya.
"Kita harus bersulang karena sudah berhasil mengalahkan cowok sialan itu," seru Baron sambil mengangkat gelasnya pada semua orang.
"Ya bro, lu benar. Dan geng motor sialan itu gak akan mengganggu kita lagi," celetuk Yoan, lalu ikut mengangkat gelasnya.
__ADS_1
"Lo kenapa diam aja," tanya Baron pada Karel, pria dengan setelan jaket hitam kesatuan mereka.
"Gue tadi ketemu sama seseorang," sahutnya. Baron menaikkan alis matanya sebelah.
"Gak biasanya lo kayak gini. Biasanya juga lo biasa aja kalau ketemu beberapa orang," Karel mendecak malas.
"Gue udah cari tahu semua tentang dia. Dan ternyata, you know what?,"
"Apa?." tanya mereka serempak.
"She's his mine," Paham dengan arah pembicaraan Karel, Baron pun menyunggingkan senyumnya.
"Interesting," serunya sambil memutar gelasnya.
"Lo jangan macam-macam sama dia. Karena sekarang dia target gue, dan gue bakal rebut dia dari Harsen," tegur Karel. Baron mendecih mendengarnya.
"Tumben, kerasukan setan apa lo. Biasanya juga lo cuek sama cewek mana pun,"
"Because she's different jerk,"
"Hmm gue gak peduli tentang cewek itu. Yang terpenting sekarang, musuh gue udah menyingkir dari jalan kita," Ia pun kembali mengangkat gelasnya.
"Bersulang," serunya pada semua rekan-rekannya.
..........
"Ma, besok kita harus segera melakukan plan kedua. Sudah cukup gadis itu berkeliaran selama ini dan terbebas dari genggaman kita," sahut seorang pria. Orang yang dipanggil Mama itu pun terkejut mendengar penuturan anaknya.
"Plan kedua?. Bukannya kemarin kamu sudah menerornya kembali?," Gantian, sekarang pria itu yang tampak keheranan.
"Aldi baru sekali kirim teror sama dia. Mama ngomong apa sih," Arunika pun terdiam.
"Mungkin banyak yang ingin menjatuhkan gadis itu. Makanya dia hidup dalam bahaya seperti ini," batinnya.
"Baiklah, kau kabari Mama. Kalau ingin melancarkan aksi kita," Aldi menganggukkan kepalanya.
"Mama harus pergi ke Vila itu sekarang. Jangan sampai orang-orang disana mencurigai Mama,"
__ADS_1
"Sudah cukup Arunika, kau seharusnya memberi contoh yang baik pada Aldi. Bukan malah semakin mendukungnya dalam kesesatan seperti ini," sahut Robert yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua.
"Kau tidak usah ikut campur dengan urusan kami. Kau urus saja tugasmu dari pria tak berguna itu," acuhnya lalu pergi meninggalkan kediaman mereka.