SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
PEMBERONTAKAN


__ADS_3

Seorang Raja sedang berada di ruang sidang istana untuk menghakimi orang yang berani memberontak atas titah yang telah ia buat sebelumnya.


"Apa tanggapanmu atas tuduhan itu Renold?," Tanya Theo kepada tersangka.


"Sungguh itu tidak benar Yang Mulia. Hamba berani bersumpah, bahwa pemberontakan itu terjadi atas hasutan dari seseorang. Hamba melihatnya dengan mata kepala sendiri Yang Mulia," tuturnya dengan menangkupkan kedua tangannya memohon agar tidak dihukum atas tuduhan yang memberatkannya.


"Bohon Yang Mulia. Aku pernah melihatnya bertemu dengan seseorang secara sembunyi-sembunyi kemarin malam saat kerajaan masih dimandatkan kepada Darren ketika Yang Mulia tidak disini," Sahut Hugo selaku perdana menteri yang langsung berdiri menyampaikan pendapatnya.


Theo mengangkat satu tangannya menandakan tidak ada lagi yang boleh berbicara selain dirinya.


"Aku memberikanmu waktu satu minggu untuk membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah. Tapi setelah lewat dari satu minggu, kau juga tidak dapat membuktikannya. Maka kau harus dihukum dengan ketentuan yang ada," Pungkasnya.


Banyak pasang mata menatap Theo tidak suka karena keputusan yang telah diambil. Namun ia tidak peduli selagi mereka masih menjaga batasan.


"Terima kasih Yang Mulia," ucap pria itu membungkukkan badannya memberi hormat pada Theo dan orang-orang yang menghadiri sidang, lalu meninggalkan ruang sidang.


"Sekarang semua boleh bubar," titahnya lalu menuruni singgasananya. Lalu membisikkan sesuatu kepada Darren selaku orang kepercayaannya.


"Aku tidak akan membiarkan pria itu mendapatkan buktinya. Ia harus ku lenyapkan saat ini juga," batin seseorang menyeringai dengan niat busuknya.


.............


"Darren, kau cari tahu siapa pengkhianat yang telah berani menusukku dari belakang. Dalam waktu 24 jam, kau harus bisa menemukan orang itu," Saat ini Theo bersama Darren sedang berada di ruang rahasianya. Hanya ia, Darren, dan Clarissa yang tahu ruangan ini.


"Selama Yang Mulia pergi, kerajaan mulai tidak kondusif. Terjadi perkelahian dan pemberontakan dimana-mana. Para pengawal yang diperintahkan untuk berjaga di bagian utara tewas dengan cara yang tidak wajar. Kami sudah menyelidikinya, namun tidak ada sidik jari atau jejak yang tertinggal Yang Mulia," tuturnya panjang lebar menjelaskan semuanya.


Theo terdiam dengan pikiran menerawang siapa pengkhianat yang berani menentang perintahnya dan melakukan pemberontakan.


"Kumpulkan orang-orangmu. Malam ini kalian harus menemukan pengkhianat itu," Ia berusaha meredam emosinya agar tidak menjadi penyakit nantinya.


"Baik Yang Mulia, hamba pamit undur diri,"


"Ya, pergilah," Setelah kepergian Darren ia terus berusaha mencari jawaban di pikirannya tentang pengkhianat itu.


Tring


Tring


Tring


"Ya, halo," jawab Theo.


"Salam Yang Mulia, ada seseorang yang telah sengaja memberikan sesuatu kedalam makanan Princess," ucap seseorang yang saat ini sedang melakukan panggilan dengannya.


"APA?,"

__ADS_1


"Berani-beraninya. Sekarang cepat kau urus orang itu. Aku tidak perduli mau dia pria atau wanita. Selagi itu menyangkut keselamatan putriku, kau habisi dia," titahnya.


"Baik Yang Mulia," Theo pun mematikan panggilannya. Lalu beranjak menuju kamarnya untuk memberitahukan informasi yang baru diketahuinya kepada Clarissa.


"Kenapa kau tidak langsung menelepon Tayana. Aku khawatir ia sudah memakannya," Tangan Clarissa sampai gemetaran memegang ponsel itu.


"Halo sayang, jangan dimakan makanan yang tersedia di Vila ya," Ucapnya dengan suara gemetar.


"Orang kepercayaan Daddy mu tadi melapor bahwa ada seseorang yang telah memberi sesuatu kedalam makanan itu," lanjutnya.


"WHAT?," terdengar pekikan dari seberang ponsel membuat Clarissa seketika menjauhkan ponselnya karena kupingnya terasa sakit mendengarnya.


"Pantesan aja Ana sama Renzah ngerasa ada yang ngeganjel dari tadi," jawabnya.


"Kamu sekarang harus hati-hati ya nak. Semakin banyak yang tahu kalau kamu pewaris kerjaan, maka makin banyak yang ingin melenyapkanmu,"


"Mommy gak usah khawatir. Kan ada orang suruhan Daddy. Pasti mereka orang-orang yang sudah di seleksi secara ketat,"


"Baiklah, bye. See you in the next week baby," Ia pun mematikan panggilan dengan perasaan sedikit lega.


"Sudah kamu jangan risau. Aku pasti akan melindungi putriku," Theo merangkul Clarissa lalu mengusap-usap bahunya pelan.


..................


"Ciki-ciki udah, cokelat, permen, yupi-yupi, ice cream-," Tayana sedang mengabsen makanan-makanan yang telah ia susun didalam ransel khusu tempat makanan.


"Ya kita kan juga butuh makanan disana. Gak salah dong,"


"Iya gak ada yang salah. Tapi lihat makanan yang lo bawa. Semua kebanyakan makanan bocil cok," kesal Renzah.


"Dimana-mana nih ya. Kalau orang liburan, yang dibawa sepasang baju ganti, tenda, atau makanan berat gitu,"


"Nah ini kan gue bawa banyak makanan jadi berat dong," Ia tetap kekeh tak ingin disalahkan.


"Tau ah gelap," Acuhnya lalu melanjutkan kegiatannya.


"Soda kaleng, susu kaleng, saus, kecap,"Ia masih saja menghitung makanan yang ia bawa.


"Arghhhh," jerit Renzah frustasi.


............


"Gimana, masih ada yang tertinggal?," tanya Harsen kepada semua anggotanya yang sudah stand bye dengan sepeda motor masing-masing.


"Aman bos," sahut mereka serempak.

__ADS_1


"Tenda jangan lupa," ingat Harsen kepada mereka semua.


"Siap paketu," jawab mereka pula.


"Oke sekarang kita berangkat ke lokasi yang udah gue kasih tau semalam,"


"Ingat, jangan ada yang misah dari rombongan," lanjutnya.


Satu per satu motor sudah melaju meninggalkan Harsen, Syehan, Steven, dan Rayyan di depan markas.


"Gue nanti bareng Tayana, Rayyan bareng Renzah, dan kalian berdua boncengan aja biar bisa gantian," Harsen mengatur formasi agar semua nyaman dalam liburan kali ini.


"Huahh, gue ngantuk," Syehan masih terus menguap dan menempelkan kepalanya di jok motor dengan posisi menungging.


"Ven, lo ikat anak itu. Baru buang ke jurang biar bisa tidur," Seketika kantuk Syehan hilang mendengar ucapan Harsen.


"Tidur selamanya dong gue," sungutnya kesal.


"Lo kenapa diem aja Ray dari Tadi," tanya Steven.


"Gue cuman lagi mikirin cara untuk membuat penemuan gue berhasil seratus persen," jawabnya.


"Yakin cuman itu doang,"tanya Harsen menyelidik.


"Iya yaelah. Ayo buruan berangkat, nanti kita telat," ajaknya. Lalu mereka pun mulai melajukan motor masing-masing menuju Vila Tayana.


............


"Bedak lo jangan lupa Tay,"


"Aman," sahutnya sambil membaluri badannya dengan body lotion agar tidak tersengat sinar matahari.


"Kayaknya itu mereka deh," samar-samar Renzah mendengar suara deruman motor yang semakin mendekat.


"Ini kan di pinggir jalan Zah, kuping lo cas banget sih dengarnya,"


"Kuping gue kan normal. Gak budeg kayak kuping lo,"


"Yang sopan sama pewaris kerjaan," ancam Tayana.


"Halah mulut lo," Renzah pun mencomot bibir Tayana sehingga membuat lipstiknya berantakan lagi.


"RENZAAHHH," Pekiknya lalu mengejar Renzah habis-habisan.


"Daripada lo ngejar gue kayak gini, mending lo perbaikin itu lipstik lo. Nanti Harsen lihat lo kabur, tau rasa lo," Renzah mencoba mengalihkan perhatian Tayana di sela-sela aksi kejar-kejaran mereka.

__ADS_1


"Iya juga ya," Ia pun duduk di meja rias memoles kembali bibirnya dengan lipstik.


"Huff selamat," gumam Renzah sambil mengelus dadanya.


__ADS_2