
Malam ini Tayana tidak bisa tidur sama sekali. Sementara Renzah sudah tertidur pulas sejak satu jam yang lalu.
"Gue gak bisa biarin ini semua terjadi," batinnya lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakasnya, dan pergi duduk di balkon. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Pasti disana masih jam lima sore," tanpa pikir panjang, langsung saja ia menghubungi kedua orang tuanya dengan panggilan video untuk menghilangkan beban pikirannya.
"Hai Mom," sapanya dengan tersenyum manis namun mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hai nak, apa kabar hmm?,"
"Today so bad,"
"Why?," Tayana pun menceritakan apa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.
"Nanti Mommy bicarakan dengan Daddy kamu,"
"Emangnya Daddy kemana Mom?,"
"Daddy sedang sibuk mengurusi pengkhianat yang ada dalam kerajaan,"
"Pengkhianat?,"
"Iya sayang. Daddy dan Mommy disini juga sedang kelimpungan mengurus kerajaan. Karena hasutan dari seseorang kemarin, hampir saja semua rakyat melakukan pemberontakan atas kebijakan yang telah diambil oleh Daddy," Tayana merasa bersalah karena telah menambah beban orang tuanya yang telah banyak.
"Apa Ana harus kesana untuk membantu kalian?," Clarissa memikirkan masalah tahta kemarin. Lantas menggelengkan kepalanya tidak menyetujui ucapan anaknya.
"Jangan sayang, belum saatnya. Untuk sekarang kamu disana fokus dengan kuliah saja ya,"
"Oke Mom," jawabnya lesu.
"Ya sudah, besok Mommy hubungin lagi ya. Nanti malam akan ada tamu dari kerajaan lain yang berkunjung. Jadi Mommy dan anggota kerajaan lainnya harus mempersiapkan semuanya dengan baik. Jaga diri kamu disana ya sayang. we love you,"
"Love you more," Setelah panggilan selesai, Tayana menghembuskan nafas kasar dan berdiri di pinggir balkon melihat suasana malam yang sunyi. Para pengawal yang ditugaskan untuk selalu berpatroli di sekitar Vila sampai terkejut melihat Tayana.
"Astaga, saya kira hantu," bisik Roby pada rekannya.
"Huss, itu princess. Mungkin beliau sedang banyak pikiran makanya belum bisa tidur," Lalu mereka pun kembali melanjutkan patrolinya.
Setelah pikirannya tenang, ia kembali masuk ke dalam kamar lalu merebahkan diri di ranjang dan memejamkan matanya agar segera beristirahat.
...........
"Akhirnya datang juga, dimana pemimpin kalian yang sok jago itu hmm?," tanya seseorang dengan tersenyum sinis pada semua anggota harder team.
"Bukan urusan lo," celetuk Kavi.
"Apa dia gak berani datang memenuhi undangan gue?," tanyanya lalu tertawa terbahak-bahak yang di ikuti oleh semua anggotanya.
__ADS_1
"Berisik," celetuk Bagus.
"Mending langsung mulai aja deh acaranya. Muak gue liat muka calon-calon penghuni neraka disini," sahut anggota harder team lainnya.
"Wah, parah nih bos," pekik anggota Baron yang mengundang mereka untuk balapan dengan sahut-menyahut.
"Diam," teriaknya, membuat semua anggotanya terdiam seketika.
"Lomba balap ini, gak akan terlaksana kalau pemimpin kalian belum datang. Jadi nikmatin aja dulu pemandangan-pemandangan yang memanjakan mata kalian disini," Baron pun melenggang pergi dari hadapan mereka yang di ikuti oleh anggota-anggotanya.
"Cih, apanya yang memanjakan mata. Cuman ada wanita penghibur dan alkohol," cibir anggota harder team.
Tak berapa lama terdengar deruman motor sehingga mengalihkan atensi semua orang yng ada disitu. Terutama penonton yang hadir untuk menyaksikan balapan itu. Baron yang melihat itu pun menyunggingkan senyumnya. Karena orang yang di tunggu-tunggu sejak tadi datang juga.
"Welcome brodie," sapa Baron saat melihat Harsen, Rayyan, Steven, dan Syehan mendekat sambil bertepuk tangan sehingga memicu pekikan histeris dari para penonton dan anggota lainnya.
"Gak usah banyak bacot," seru Syehan.
"Calm down, mari kita nikmati malam ini dengan tenang. Malam masih panjang, jangan terburu-buru," Baron terus saja tersenyum dengan senyuman devilnya.
"Ambil wine satu botol," para wanita penghibur yang sudah dibayar untuk melayani mereka di arena balap pun mengambil sebotol wine dan langsung memberikannya pada Baron.
"Thanks baby," ucapnya lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Idih, itu bibir apa mulut bebek. Main nyosor-nyosor aje," celetuk salah satu anggota Harsen membuat mereka semua tertawa.
"Ya, tertawa saja sepuas kalian," acuh Baron lalu menyodorkan segelas wine pada Harsen untuk bersulang.
"Ayolah, seorang Harsen gak minum?. It's a f**king *****," cibirnya membuat emosi Harsen tersulut dan langsung meraih segelas wine itu lalu menenggaknya hingga tandas.
"Kebiasaan, gak bisa atur emosi," batin Rayyan sambil terus memperhatikan interaksi di depannya.
"Ini akal-akalan si Barongsai aja sih menurut gue," bisik Syehan pad Steven.
"Tumben otak lo encer," bisik Steven juga.
"Ah gak asik lo. Mainnya otak shaming,"
"Good, sekarang kita mulai acaranya," Baron menaiki podium yang ada disitu.
"Lomba ini hanya untuk gue dan Harsen. Jangan ada yang ikut-ikutan," Setelah mengatakan itu, ia pun menaiki motornya dan menghidupkan mesinnya lalu menyusul Harsen yang sedari tadi sudah stand by di garis start. Wanita yang ditugaskan untuk memegang bendera pun sudah siap di tempatnya untuk mulai menghitung.
Satu
Dua
Tiga
__ADS_1
Bendera diangkat menandakan pertandingan dimulai. Harsen lebih unggul dalam pertandingan kali ini. Ia terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Baron yang masih berada di putaran kedua.
"Kok gue ngerasa si Baron sengaja memperlambat laju motornya," celetuk Kavi dan di setujui oleh rekan-rekannya.
"Iya ya, gak biasanya," celetuk Steven.
"Gawat, Harsen dalam bahaya," bisik Rayyan pada Steven dan Syehan.
Benar saja, pada putaran ke lima, tiba-tiba saja sebuah mobil truk memasuki arena balap dan bergerak maju dengan kencang menuju Harsen. Harsen mencoba untuk menghentikan motornya, namun remnya blong seketika.
"****," umpat Harsen. Mau tak mau, ia melompat dari atas motor ke samping arena balap untuk menghindari kecelakaan.
"Lo udah ngelakuin yang gue suruh tadi kan?," Baron memakai earpiece dan berbicara dengan seseorang.
"Bagus, nanti gue transfer duit lo," Ia tersenyum puas menyaksikan sesuatu yang ada di hadapannya kali ini. Ia tidak tahu bahwa Harsen sudah menghindar dari sana.
"Mati lo, dan semua yang lo punya bakal gue milikin seutuhnya cih," Lalu menjauh dari arena balap.
Terdengar dentuman keras dari sana menyebabkan munculnya api karena ledakan dari tabrakan itu. Semua orang menghambur menyelamatkan diri masing-masing. Rayyan, Steven dan Syehan berusaha menembus keramaian itu agar bisa melihat kondisi Harsen.
"Kalian mau kemana woy. Menjauh, nanti apinya makin besar," pekik Bagus saat melihat Rayyan, Steven, dan Syehan malah mendekati arena balap. Merasa tidak di gubris, akhirnya ia pun menyusul mereka dan disusul oleh semua anggota harder team.
"SEN, LO DIMANA," teriak Rayyan dari pinggir kejadian. Sementara Harsen ada di seberang jalannya.
"Cepat telepon pemadam kebakaran sekarang juga, sebelum apinya semakin merambat ke pemukiman warga," seru Steven pada anggota harder team.
"Yan," panggil Syehan lalu menunjuk helm yang berada di bawah ban mobil truk itu. Mereka sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"I-ini gak mungkin Han, Harsen masih hidup!," Rayyan tak berani untuk menerima fakta bahwa Harsen telah tiada.
"Lo liat bagus-bagus Yan, disitu juga ada kemeja yang tadi dipakai Harsen," Air mata mereka semua luruh melihat tempat kejadian yang ada di depan mata mereka.
Tak berapa lama mobil pemadam kebakaran pun tiba, yang tersisa disana hanya para anggota harder team.
"Sebaiknya kalian menjauh terlebih dahulu. Biar kami padamkan apinya sebelum semakin memasuki pemukiman warga," ucap anggota pemadam kebakaran pada mereka yang langsung di turuti.
Kurang lebih sekitar setengah jam lamanya, akhirnya api pun padam. Dan pemadam kebakaran juga sudah meninggalkan lokasi kejadian. Truk itu ternyata kosong, dan dikendalikan menggunakan remote control.
"Yan, lo mau kemana?," tanya Syehan saat melihat Rayyan berdiri terburu-buru dan berjalan dengan cepat.
"Gue mau cari Harsen. Dia belum mati," ia masih saja kekeh karena tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
"To-to-tolong," terdengar suara orang minta tolong dengan nada lirih, membuat Steven terdiam seketika.
"Diam," kembali terdengar suara itu tapi ini lebih jelas. Mereka pun mengikuti sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka melihat Harsen yang sudah terluka di bagian siku dan juga kepala karena menghantam batu yang ada disana.
"HARSEN,"
__ADS_1
"BOS," Pekik mereka bersamaan lalu mendatangi Harsen.
"Cepat telepon ambulance sekarang juga," Setelah mobil ambulance datang, mereka pun menemani Harsen untuk dibawa ke rumah sakit agar dapat penanganan lanjut mengenai luka-lukanya.