SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
MEMPERERAT IKATAN


__ADS_3

Seseorang sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang sudah dibagikan gadisnya. Ia di temani oleh tiga orang temannya yang sudah ingin mual karena orang itu membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Huek, gue mau muntah," Celetuk Steven menutup mulut dan memegangi perutnya.


"Lemah," sindir Syehan menyunggingkan senyum devilnya.


"Perlunya berkaca yagesya," Sahut Rayyan yang melihat mereka dari kaca spion. Posisi Syehan dan Steven sudah tidak terkondisikan lagi. Steven yang sudah mengeluarkan sebagian kepalanya ke jendela mobil dan Syehan yang sudah tercampak dari kursi penumpang. Mereka tidak memakai seat belt karena biasanya Harsen paling anti mengendarai mobil ugal-ugalan.


Flashback on


Setelah selesai sarapan,mereka bergegas untuk mencari keberadaan Tayana dan Renzah. Baru saja mereka memasuki mobil, ponsel Harsen berdering menampilkan nama My boo dengan emot love. Tanpa membuang waktu, Harsen langsung mengangkatnya dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Kamu dimana sekarang?,"


"Kamu baik-baik aja kan?,"


"Kenapa gak hubungin aku sih?,"


"Oke aku segera berangkat. Kamu tunggu ya. Bye sayang,"


"Siapa?," Tanya mereka bertiga serempak


"Tayana," Jawabnya singkat.


"Gue udah tau lokasinya sekarang," Sambungnya.


"Alhamdulillah,"Serempak mereka mengucapkan kalimat tahmid mendengar kabar itu.


Flashback off


.................


Mereka sudah sampai di lokasi yang sudah di share lock oleh Tayana sebelumnya. Dan sekarang mereka berada di depan rumah yang besar nan megah yang terletak di pinggiran kota.


"Seriusan ini lokasinya?," Tanya Rayyan memastikan.


"Hmm," Harsen hanya berdehem menjawab pertanyaan Rayyan dan menatap sekitar.


"Fix Tayana simpanan om-om nih," Celetuk Syehan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Harsen.


"Ngomong sekali lagi, lo bakal terbang ke langit," Sahut Steven cekikikan.


Harsen pun menghubungi Tayana untuk memastikan kebenarannya. Tak berapa lama, pintu terbuka menampilkan seorang pria berpakaian serba hitam.


"Silahkan masuk Tuan," Orang itu pun mempersilahkan Harsen dan teman-temannya untuk memasuki Villa itu.


Setelah memasuki Villa itu, mereka langsung di persilahkan untuk duduk di ruang tamu.


"Nona Tayana akan turun sebentar lagi. Saya permisi," Pamitnya.


"Terima kasih pak," Ucap mereka serempak.


"Biasanya nih ya, orang di culik di tempat yang terpencil, kumuh, dan rumahnya gak sebagus ini," celetuk Syehan mengeluarkan isi pikiran randomnya.


Ketiganya hanya bisa menghela nafas pasrah melihat Syehan.


"Salah lagi?," Tanyanya dengan tampang polos.

__ADS_1


"Tanya sama rumput yang bergoyang," Jawab Rayyan.


"Mana rumputnya," Ia berdiri melihat rumput yang ada di dekatnya.


"Sumpah bukan temen gue," Sahut Steven mengangkat kedua tangannya.


Di sela-sela obrolan mereka, muncul dua orang gadis menuruni sebuah tangga.


"Hai guys," Sapa mereka berdua.


Harsen langsung berdiri menghampiri gadisnya dan memeluknya dengan erat.


"Aku takut banget kamu ninggalin aku," gumam Harsen yang masih bisa di dengar Tayana.


"Ssst ga bakal," Tayana mengusap punggungnya menenangkannya.


"Ekhem-ekhem, seret banget tenggorokan gue," celetuk Renzah memegangi lehernya.


"Wah iya nih ekhem-ekhem," mereka semua pun kompak menggoda sepasang kekasih yang bermesraan tidak tahu tempat itu.


"Ck ganggu," Harsen pun melepaskan pelukannya dengan berat hati.


Mereka berdua pun menghampiri teman-temannya yang sudah duduk di ruang tamu.


"Gimana kabar lo Tay?," Tanya Rayyan membuka obrolan.


"Baik kak," Jawab Tayana sopan.


"Oh iya sampai lupa. Kita semua belum kenalan kan. Kenalin, gue Rayyan. Panggil Rayyan aja tanpa embel-embel kak," Mereka berdua pun saling menjabat tangan tanda perkenalan. Syehan dan Steven juga tak mau kalah. Syehan langsung mengambil tangan Tayana.


"Dih,"Cibir Steven.


"Hai Tay, gue Steven," Ucapnya melambaikan tangan tanpa menjabat tangan Tayana.


"Wah,senang banget bisa kenalan sama cowok famous di kampus," Sahut Tayana antusias.


"Kenalin, ini sahabat gue yang paling cantik. Namanya Renzah," Tayana pun merangkul Renzah. Dan ia pun tersenyum dan saling melambaikan tangan satu sama lain.


"Sekarang ceritain sama kita, gimana ceritanya sampai lo bisa sampai disini," Tanya Rayyan penasaran.


Akhirnya Renzah pun menceritakan awal mereka sampai Villa setelah kejadin penculikan kemarin.


"Dan ternyata yang nolongin gue bokap gue sendiri," Timpal Tayana. Ia pun menceritakan tentang semuanya kepada mereka. Kecuali tentang rahasia keluarga dan orang tuanya yang sesungguhnya.


"Sial,"gumam Harsen yang masih bisa didengar Tayana karena ia berada tepat di sampingnya.


"Kenapa?," Tanyanya heran.


"Ah enggak sayang. Gak ada apa-apa," Jawab Harsen.


"Kamu lagi gak sembunyiin sesuatu kan?,"


Harsen yang tidak bisa berbohong pun menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku udah bersikap gak sopan sama Ayah kamu," Sesalnya.


"Itu karena dia buat aku overthinking tau gak. Masa dia bilang kamu miliknya. Aku merasa gak adil aja sih, yang bertarung melawan penjahat itu aku. Dan dengan seenak jidatnya dia bilang kamu miliknya," sungut Harsen.

__ADS_1


"Otw gak dapat restu nih," goda Steven. Mereka pun tertawa melihat wajah Harsen yang terlihat panik.


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga. Terlihat sepasang pria dan wanita menuruninya dengan elegan dan penuh wibawa.


"Seru banget sih, lagi ngapain nih?," tanya Clarissa setelah mendudukkan bokongnya di salah satu sofa yang di ikuti oleh suaminya.


"Hehehe siang om, tante," ucap mereka semua kecuali Tayana dan Renzah. Mereka pun berdiri lalu mencium tangan sepasang suami istri itu dengan takzim menunjukkan hormat kepada orang tua.


"Sepertinya tadi feeling saya mengatakan kalau ada seseorang yang telah mengumpati saya. Tapi siapa ya," Celetuk Theo menatap mereka satu persatu. Sontak mereka semua pun menunjuk Harsen. Sedangkan yang ditunjuk hanya bisa terdiam keringat dingin.


"Ayolah Dad, aku tahu semua yang disini mata-matamu. Jangan goda dia lagi," Keluh Tayana. Theo pun terkekeh karena sudah berhasil membuat pria itu keringat dingin.


"Your name is Harsen right?," Tanya Theo.


"I-iya om," Jawabnya.


"Sial, baru kali ini gue merasa terintimidasi," Batinnya


"Kayaknya ini bukan Harsen anjir," bisik Steven kepada Rayyan.


"Ini mah bukan Harsen, tapi Harsenah hihihi," Mereka berdua pun berbisik sambil cekikikan. Membuat Syehan menoleh melihat mereka.


"Kemasukan mbak kunti lo pada," serunya.


"Wewe gombel," sungut Steven karena diganggu Syehan.


"Huss diam, lagi seru nih," Timpal Renzah sambil memakan cemilan yang sudah dibawakan oleh pelayan tadi.


"Lo kira lagi nonton bioskop," Sahut Rayyan melempar Renzah dengan bantal. Renzah yang tidak terima dilempar bantal pun membalasnya. Hingga akhirnya terjadi perang bantal antara mereka berdua. Semua orang melongo melihat tingkah mereka.


"Gue mencium aroma-aroma jodoh disini," celetuk Tayana. Keduanya pun berhenti dan menoleh ke arah Tayana dengan memicingkan matanya.


"2 in," sahut Syehan.


"3 in," sahut Steven


"Huss udah diem. Kalau dilanjutin bakal lanjut sampek 100 in," sungut Tayana. Mereka pun akhirnya tertawa bersama setelah itu.


"Ternyata bebas dari tugas kerajaan membuat kita bisa healing sejenak ya," ucap Theo sambil terus melihat tingkah Tayana dan teman-temannya Ia merasa setelah bertemu dengan putrinya, hidupnya semakin berwarna.


"Aku khawatir, anggota kerajaan tidak mau menerima putri kita menjadi pewaris tahta mu Theo," Clarissa teringat akan sifat para anggota kerajaan yang penuh ambisi untuk melengserkan kedudukan Theo.


"Aku yang akan menjaga putriku sekuat tenaga. Kau tidak usah khawatir sayang. Serahkan semuanya padaku,"


"Tadinya aku ingin mengintrogasi pemuda itu karena telah berani berhubungan dengan putriku. Tapi setelah aku amati, ternyata ia tulus mencintai putriku. Huh, aku sungguh menyesal tidak pernah menjadi cinta pertama bagi putriku," Sesak, itulah yang dirasakannya. Setiap kali melihat Tayana, selalu muncul perasaan bersalah.


"Kau tetap akan menjadi cinta pertamanya. Ayo kita menikmati hari-hari bersama putri kita dengan suka cita," Hibur Clarissa.


"Please attention guys," Clarissa menepukkan tangannya untuk mengalihkan atensi mereka.


"Karena sekarang kita lagi kumpul. Gimana kalau kita barbequan di taman belakang," Ajak Clarissa.


Akhirnya mereka pun menikmati siang itu dengan barbequan. Tawa canda mereka lontarkan untuk mencairkan suasana di siang hari yang terik itu. Tanpa di sadari, hari itu diantara mereka mulai tumbuh ikatan yang mempererat hubungan mereka semua.


...................


Happy Reading, maaf kalau gak jelas ya readers. Babay, see u on the next chapter 👋

__ADS_1


__ADS_2