SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
PINDAH


__ADS_3

Siang ini Tayana dan Renzah berada di kos setelah menyelesaikan perkuliahan hari ini. Mereka sedang sibuk packing barang-barang yang akan dibawa pindah ke Villa.


"Kulkas kita bawa apa enggak ya?," tanya Tayana.


"Gak usah, cukup bawa baju-baju aja. Anggap aja kita sedekah,"


Di tengah-tengah kesibukan mereka packing barang, Tayana tiba-tiba teringat kehidupan yang nyaris berubah seratus delapan puluh derajat.


"Gue gak nyangka, kehidupan gue bakal jadi kayak gini,"


"Hmm, gue juga masih gak nyangka kalau lo udah ketemu sama bonyok asli," sahut Renzah sambil memasukkan berkas-berkas penting ke dalam sebuah map.


"Besok healing yuk, gue mau buat mini vlog di youtube," ajak Tayana.


"Boleh, ajak anak-anak lain," usul Renzah.


"Oke,"


Setelah selesai packing semua barang, mereka pun berangkat ke Villa naik mobil yang sebelumnya di sediakan oleh Theo untuk mereka berpergian.


"Pak, kita mampir sebentar ke toko bunga ya," pinta Tayana kepada supirnya.


"Baik Nona," Jawabnya sopan.


"Mau ngapain," Tanya Renzah heran.


"Ke makam bokap," jawabnya singkat.


"Emangnya lo udah tau makamnya dimana?,"


"Udah, kemarin di kasih tahu sama orang kepercayaan Daddy," Renzah pun hanya ber o ria menanggapinya.


"Lo tunggu sini sebentar, gue gak lama kok,"


"Wokeh sip," Renzah pun mendengarkan lagu dari earphone nya.


"Mas bunga mawar merahnya satu ya," ucapnya sambil mengambil dompet yang ada di tasnya.


"Oke-," mata penjual bunga itu terkejut melihat Tayana.


"Yana-,"


Tayana yang mendengar namanya di sebut oleh suara yang familiar pun langsung menoleh.


"Cih, ternyata lo jadi penjual bunga sekarang," Cibirnya.


"Gak jadi deh gue beli bunga lo. Nih gue bayarin aja sekalian bunga lo satu toko," Ujarnya lalu pergi dari toko bunga itu.


"Tay, gue nyesel. Maafin gue Tay, gue juga gak jadi nikah sama dia," pekiknya memanggil-manggil Tayana namun tidak di gubris sedikit pun. Jangankan digubris, di toleh pun tidak.


"Sialan, gue bakal dapetin lo balik dengan cara apapun itu," Batin Aldi menyunggingkan senyumnya.


...............


Jderr


"Lo kenapa dah, datang-datang main banting pintu mobil,"


"Ayo jalan pak, kita ke makam di jalan xxx ya,"


"Baik Nona," Supir pun melajukan mobil sesuai keinginan Tayana.


"Oh iya, bunganya mana?," Renzah celingak celinguk mencari bunga yang ingin Tayana beli.


"Ga jadi, nyesel gue mampir ke toko bunga tadi," Ia masih saja kesal melihat tampang Aldi yang memuakkan.

__ADS_1


"Kenapa sih," Renzah pun penasaran karena melihat mimik muka Tayana yang langsung berubah.


"Lo tau, penjual bunganya si Aldi anjir,"


"WHAT," pekik Renzah tak percaya.


"Turun banget harga diri tu orang," Lanjut Renzah.


"Hmm, bikin mood gue hancur aja," tutur Tayana.


"Rugi lo mikirin orang gila," kesal Renzah. Tayana pun diam agar emosinya mereda.


"Sudah sampai Nona,"


Tanpa berkata apa pun lagi, mereka berdua pun turun dari mobil. Suatu keberuntungan bagi Tayana, karena di depan makam ada penjual bunga.


"Tuh buruan beli, gue tunggu disini," seru Renzah seraya menunjuk penjual bunga itu.


Setelah selesai membeli bunga, mereka pun memasuki makam dan langsung menemukan makam yang dicari.


"Assalamu'alaikum Dad, apa kabar," ucap Tayana setelah meletakkan satu bucket bunga mawar di atas pusara itu.


"Tenangin diri lo," Renzah mengusap pelan bahu Tayana yang mulai bergetar.


"Tayana gak pernah benci sama Daddy. Tayana selalu sayang sama Daddy. Tapi kenapa Daddy ninggalin Tayana," tuturnya dengan terisak-isak.


"Semoga Daddy tenang ya disana," Mereka pun meninggalkan makam.


...........


Terdapat empat orang pria yang sedang bersantai sambil diskusi di sebuah tempat yang bisa dibilang sebagai markas bagi perkumpulan geng motor mereka.


"Apa mereka sering ganggu lagi?," Tanya Harsen selaku ketua geng motor.


"Sejauh ini gak ada sih paketu," sahut Bagus.


Mereka belum mengetahui hubungan asmara ketua mereka. Makanya tidak ada yang meledek si kutub utara.


"Gimana kalau kita healing aja buat ngerayain ketentraman ini," usul Steven.


"Gaya lu hilang hiling, bahas inggris lu aja dibawah kkm," sungut Syehan.


"Bocil mending diem," sahut Steven.


"Oke kita healing besok," celetuk Harsen lalu pergi meninggalkan mereka semua.


Semua yang ada disana pun bersorak ria karena akan healing bersama. Kecuali Rayyan, ia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat sikap Harsen yang dingin.


................


Ponsel Harsen berdering membuat ia menepikan mobilnya sejenak.


"Hai baby," ucapnya tersenyum manis.


"Hmm, anak-anak juga besok pengen healing. Jadi kita gabung aja sama mereka gimana? Biar makin rame juga,"


"Oke, nanti aku kabarin ke mereka,"


"Dimana?," tanyanya.


"Sekarang kamu istirahat gih. Aku mau ke perusahaan sebentar untuk rapat direksi dengan pemilik saham,"


"Bye, see you soon babe," ia lalu menutup panggilan dan melajukan mobilnya.


............

__ADS_1


"Yes, akhirnya," pekik Tayana senang sambil melompat kegirangan diatas kasur king size nya.


"Bocil-bocil," gumam Renzah melihat tingkah Tayana.


"Wahai Yang mulia Ratu Tayana Anatasya. Alangkah eloknya jika anda tidak melompat-lompat di atas kasur ini. Kepala saya pusing Yang mulia," tuturnya berdrama seraya memegang kepalanya.


"Hehehe, gue seneng banget. Ternyata Harsen dan anggotanya juga berencana untuk healing,"


"Berarti kita sehati dong, uwuwww," lanjutnya seraya memeluk Renzah dengan erat.


"Dihh, sepemikiran iyaa. Bukan sehati dodol," cibir Renzah.


"Bodo amatlah, intinya mood gue kembali lagi yeeyy,"


Tok


Tok


Tok


"Permisi Nona, makan siang sudah siap," panggil pelayan.


"Iya bi, bentar lagi kami turun," sahut Tayana.


"Ayo makan, baru kita tidur dan besoknya liburan," ajak Tayana.


"Enak bener hidup lo. Noh, tugas-tugas lo pada numpuk. Kerjain biar cepat wisuda," tutur Renzah menunjuk meja belajarnya yang penuh dengan buku-buku.


"Astaga gue lupa. Yaudah deh, habis makan gue kerjain," bahunya merosot mengingat tugas yang tidak ada habisnya.


Mereka berdua pun turun menuju ruang makan untuk memberi keadilan kepada cacing-cacing mereka.


"Heh, akan ku binasakan putrimu Clarissa. Jangan kira aku diam saja melihat kalian bahagia," batin seseorang tertawa penuh kemenangan. Ia bersembunyi dibalik tembok melihat Tayana dan Renzah yang sedang menuruni anak tangga.


"Tay, perasaan gue gak enak deh," bisik Renzah kepada Tayana.


"Gue juga, kayak ada yang ngeganjel," jawabnya.


Ponselnya berdering membuat ia tersenyum sumringah menatap nama di layar ponselnya lalu bergegas mengangkatnya.


Terdengar nada cemas dari suara orang yang menelponnya.


"WHAT?," pekiknya.


"Iya Mom, tenang aja. Pantesan Ana sama Renzah punya feeling gak enak dari tadi," jawabnya.


"Siap Yang mulia," ucapnya memelankan suaranya agar tidak didengar para pelayan.


"Bye Mom, kirim salam sama Daddy," bisiknya ke ponsel lalu mematikannya.


"Fyuhh, untung aja," lirihnya.


"Kenapa?," tanya Renzah penasaran. Tayana pun membisikkan sesuatu ke telinga Renzah yang membuatnya melotot tak percaya.


"Sekarang kita mending go-food aja deh," bisik Renzah pula.


"Hmmm," gumam Tayana.


"Pelayan," panggil Tayana menepuk tangannya tiga kali.


"Siap Nona," sahut pelayan yang langsung datang menghampiri.


"Tolong semua makanannya disimpan ya. Saya ada urusan mendadak dengan teman saya," titahnya.


"Baik Nona," Ia lalu beranjak pergi dari hadapan Tayana dan Renzah, lalu menyimpan semua makanan di kulkas.

__ADS_1


"Sial," desis orang yang sedari tadi mengintip mereka. Karena kesal, ia pun memukul tembok dengan kerasnya hingga cucuran darah keluar dari kepalan tangannya.


__ADS_2