
Di ruangan bawah tanah, seorang pria sedang di eksekusi oleh seseorang. Nafasnya terengah-engah karena di hajar habis-habisan oleh orang itu.
"Apa tujuanmu menculiknya?," Tanya pria itu dengan mengelus pipi tawanannya menggunakan belati kesayangannya.
"Tentu saja untuk membunuhnya bodoh," Umpat tawanan itu. Nyalinya tidak pernah ciut sejak kemarin.
"Nyalimu boleh juga. Pasti kamu belum pernah berkenalan dengan belatiku ini kan?," Pria itu yang ternyata Robert mulai gencar mengarahkan belatinya ke wajah tawanannya ketika mendengar ucapannya. Langsung saja ia menghiasi wajah pria itu menggunakan belati kesayangannya. Hingga pria itu berteriak kesakitan karna Robert telah menggores belati itu secara vertikal dan horizontal di wajahnya.
"Jay, cepat kau ambil jeruk nipis di dapur. Aku ingin membuat wajah si bodoh ini lebih fresh sedikit," Titahnya kepada anggotanya. Wajahnya menyiratkan kebencian kepada tawanannya.
"Angga William, It's your name right? (Itu namamu bukan?). Kau sama saja dengan tua bangka itu. Sama-sama bodoh,"
Robert ternyata sudah mencari seluruh informasi mengenai Angga sebelumnya. Namun ia belum memberi tahu kepada Theo mengenai informasi tersebut. Ia masih menunggu waktu yang pas untuk mengungkapkannya kepada Tuannya.
"Arghhhh," Jeritan kesakitan terdengar dari bibir Angga ketika perasan jeruk nipis sudah mendarat di wajahnya. Robert yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum puas. Jeritan kesakitan dari Angga bagaikan lantunan lagu baginya.
"Sekarang cepat kau katakan. Siapa orang yang telah menyuruhmu untuk menculik Princess kami," Robert mencengkram wajah Angga kuat hingga terdongak menatap Robert yang berdiri di hadapannya.
"Ini sebagai bukti balas dendam atas apa yang sudah kalian lakukan pada Ayahku. Nyawa di balas nyawa, mata dibalas mata," Ucap pria itu.
"Heh! bodoh. Si tua bangka itu mati karena bunuh diri di ruangan ini. Kami belum sempat memberinya hadiah sepertimu sekarang ini. Ia sungguh tidak sabar sekali untuk bertemu dengan jalangnya yang sudah mati, cihh,"
Emosi Angga seketika mendidih mendengar itu. Ia paham arah pembicaraan itu kemana.
"Tutup mulutmu itu bodoh. Kau tidak tahu apa-apa tentangku," Pekik Angga.
"JANGAN BERTERIAK KEPADAKU SIALAN," Robert mmberikan tamparan yang keras di pipinya. Hingga ia pingsan seketika.
"Kalian urus orang bodoh ini. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi nanti," Selesai memberi perintah kepada anggotanya, ia langsung meninggalkan ruangan itu untuk melaporkan semuanya kepada Tuannya.
.................
Di pagi hari, dua orang gadis masih saja bergelung dengan selimut tebalnya. Tanpa mereka sadari, sedari tadi seorang pria paruh baya sedang menatap mereka penuh kasih sayang. Sesekali ia mengecup kening seorang gadis penuh kerinduan.
"Tunggu sebentar lagi sayang, kamu akan tahu semuanya," lirihnya lalu keluar dari kamar itu.
..............
Seorang wanita cantik dengan memakai pakaian casual nan elegan sudah berada di bandara bersama para bodyguard pilihannya. Langsung saja ia menaiki mobil menuju lokasi yang sudah diberi tahu oleh seseorang.
"Aku tidak sabar bertemu dengannya," gumamnya seraya menatap jalanan yang sudah lama ia rindukan.
.............
Di sebuah Bar, terdapat tiga orang pria yang sedang membujuk temannya untuk pulang. Ia sudah menenggak beberapa botol minuman sampai pagi.
"Sen, udah ayo kita pulang sekarang. Lo udah minum terlalu banyak,"
"Gue gak becus jagain dia Yan," Ia selalu meracaukan kalimat ini.
"Lo gak usah gila karena satu cewek Sen. Lagian dia juga gak pergi ninggalin lo," Sahut Steven.
"Nanti kita cari keberadaannya. Sekarang kita pulang dan istirahat. Kalau lo gak nurut, kita gak bakal pergi cari Tayana," Ancam Syehan.
Ucapan mereka bagai angin lalu bagi Harsen. Ia hanya terdiam menelungkupkan wajahnya di meja bar itu. Serempak ketiga orang itu saling pandang, dan langsung menyeret Harsen untuk pulang.
...................
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Theo sedang menyesap kopinya di belakang rumah yang mengarah ke taman bunga yang ia buat untuk putrinya. Ketenangannya terganggu mendengar suara bel rumah yang tak kunjung berhenti. Hingga tak berapa lama, seorang pelayan berlari ke arah pintu depan untuk membukakannya. Hingga menampilkan seorang wanita yang familiar bagi pelayan itu.
Pelayan itu terperanjat kaget melihat siapa yang datang. Baru saja ia ingin berucap, namun wanita itu meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Dimana Yang mulia?," Tanya Wanita itu dengan berbisik.
"Di taman belakang rumah Yang mulia Ratu," Jawab pelayan itu seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada wanita itu.
Tanpa membuang waktu, wanita itu langsung bergegas menuju belakang rumah yang dipandu pelayan itu. Setelah mengantarkan wanita itu, mereka semua pun meninggalkan wanita itu berdua dengan Theo.
"Wah-wah, bukannya mengajak putrimu untuk minum bersama. Kau malah menyendiri disini,"
Theo langsung membalikkan badannya ke arah sumber suara, dan terkejut melihatnya.
"Clarissa, ya ampun. Kau membuatku jantungan saja. Datang tidak memberi kabar seperti kangkung saja," Ucapnya seraya mengelus dadanya.
"Kangkung?," Tanya Clarissa heran.
"Iya, seperti ritual pemanggil arwah gitu," Sahutnya
"Jailangkung Theo, kau membuatku malu saja," Gemasnya lalu menghampiri Theo dan memeluknya erat.
"Aku ingin bertemu putriku," Lirihnya di pelukan Theo.
__ADS_1
"Ayo kita ke kamarnya. Pasti dia senang melihatmu disini," Ajak Theo dan menggenggam tangannya menuju kamar Tayana.
..................
"Astaga, udah hampir siang aja," gumam Tayana lalu perlahan mengucek kedua matanya.
"Zah, ayo bangun. Kita harus pulang hari ini juga. Nanti tugas kampus kita menumpuk," Tayana menepuk pelan pipi Renzah agar terjaga dari tidurnya.
"Hoamm, sumpah badan gue pegel-pegel semua," Keluhnya.
"Nanti kita kerok-kerokan," Ucap Tayana.
"Nah, ide bagus," Renzah pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Tayana membereskan tempat tidur itu dengan membelakangi pintu masuk.
Ceklek
Suara pintu di buka, namun tak dapat mengalihkan atensi Tayana akan hal itu. Ia membereskan tempat tidur itu sambil melamun.
"Good morning sayang,"
Ia merasa telah mendengar suara seseorang yang selama ini ia rindukan.
"Halah, paling cuma halusinasi gue doang," Acuhnya lalu melanjutkan kegiatannya membereskan tempat tidur itu.
Saat kecupan ringan telah berlabuh di pipinya, sontak ia terkejut bukan main dan langsung menoleh ke belakang.
"Mo-Momy," Rasanya ia tak sanggup berbicara lagi ketika melihat sosok wanita yang ada di hadapannya.
"Kemarilah sayang,"Ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya.
Tayana langsung masuk ke dalam pelukan hangat yang selama ini ia rindukan, dan menangis haru karenanya.
"Sstt jangan menangis sayang. Momy tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Maafin Momy ya," Tayana hanya bisa menganggukkan kepalanya merespon ucapan Momy nya.
"Apa kau sudah bertemu dengan Daddy?," Tanya Clarissa, lalu merenggangkan pelukannya untuk melihat wajah putri semata wayangnya.
"Daddy sudah meninggal Momy," Isak tangisnya masih saja terdengar ketika Clarissa membingkai wajah Tayana dengan tangannya.
Theo yang mendengar itu hanya bisa tertunduk sedih. Ia tidak sanggup mendengar kalimat yang keluar dari mulut anaknya.
"Duduk dulu, Momy akan menceritakan semuanya kepadamu,"
Mereka bertiga pun duduk diatas ranjang itu. Dengan Tayana yang berada di tengah-tengah mereka.
"Sebenarnya dia bukan Ayah kandung kamu nak," Setelah menghela nafas berkali-kali, akhirnya Clarissa mampu mengucapkan itu.
"Jangan bercanda Momy," Ucapnya dengan menatap lekat mata sang Ibu untuk mencari letak kebohongan. Namun nihil, ia tidak menemukannya.
"Momy tidak bohong sayang, kau bisa bertanya kepada pria yang ada di sampingmu,"
"Om Theo?," Tanyanya dan Clarissa pun menganggukkan kepalanya membenarkan ucapannya.
Flashback on
Sepasang kekasih sedang beradu argument di sebuah apartemen milik seorang wanita.
"Aku hamil Theo, huhuhu," Gadis itu tidak menyangka akan hamil di usianya yang masih tergolong muda. Ia seorang mahasiswi yang kuliah diluar negeri karena mendapat beasiswa dari kampusnya. Dan beruntung memiliki hubungan dengan seorang pangeran dari negara itu karena satu kampus dengannya.
"Aku akan bertanggung jawab sayang. Kau bersabarlah dahulu. Kita akan mengatakannya kepada Ibunda nanti malam," Ucapnya lalu merengkuh wanita itu penuh kasih sayang.
Tiba dimalam hari, mereka pun pergi menuju istana Theo. Disana mereka disambut baik oleh para pengawal dan anggota istana. Hingga mereka bertemu dengan Sang Ibunda Ratu, dan memberikan salam hormat kepadanya.
"Theo, siapa yang kau bawa ini?," Tanyanya penuh selidik dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Kekasihku Ibunda Ratu," Jawab Theo singkat
"Dan kami kesini ingin menyampaikan kabar gembira," Matanya berbinar-binar ketika mengatakan itu.
"Apa itu?. Cepat katakan," Titahnya.
"Ia sedang mengandung calon penerus kerajaan ini kelak Ibunda," Ucapnya seraya menatap dan menggenggam tangan Clarissa.
"Apa-apaan kau Theo. Kau sudah aku jodohkan dengan seorang putri dari kerajaan sebelah. Dan kau tidak bisa berhubungan dengan rakyat biasa. Itu tidak setara dengan keluarga bangsawan," Pekiknya. Ia terlalu syok mendengar semuanya.
"Clarissa yang mendengar itu pun langsung menundukkan kepalanya."
"Nasi sudah menjadi bubur Ibunda. Faktanya sekarang ini sudah mengalir darahku di tubuh anak yang sedang Clarissa kandung," Pungkasnya.
Ibunda Ratu yang tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut Putranya, langsung meninggalkan ruangan khusus anggota keluarga inti kerajaan.
Sepeninggalan Sang Ibunda Ratu, Clarissa pun meninggalkan Istana dengan perasaan campur aduk.
"Tunggu Clarissa, jangan pergi," Pinta Theo, namun tidak di gubrisnya.
Didalam kamar, Ibunda Ratu membisikkan sesuatu kepada tangan kanannya dan menyuruhnya segera pergi.
"Kalian tidak akan bisa bersatu. Dasar wanita murahan," Batinnya, ia tidak suka kepada Clarissa karena kasta mereka tidak sederajat.
__ADS_1
Keesokan harinya, hubungan mereka renggang. Clarissa mencoba untuk menghindari Theo. Sampai tiba suatu hari ketika ia sedang berjalan menuju apartemennya. Mulutnya di bekap oleh seseorang yang tak dikenal, lalu membawanya menggunakan mobil. Ia dibawa ke sebuah penginapan. Disana sudah ada seorang pria yang sudah menunggu di sebuah kamar. Penculik itu pun segera membopong Clarissa menuju kamar tersebut.
"Ingat, ini hanya sebatas dokumentasi saja. Tidak lebih,"
"Sekarang cepat buka pakaianmu dan pakaiannya agar semua ini selesai," Titah orang yang menculik Clarissa tadi.
Orang itu pun mempersiapkan kamera untuk memotret mereka berdua. Setelah semua selesai, Orang itu pun memotret mereka berdua dengan posisi yang sudah di atur agar seperti dua orang yang sedang tertidur bersama.
Singkat cerita, ternyata orang yang telah menjebak Clarissa sebelumnya adalah orang suruhan Ibunda Ratu. Ia lalu menunjukkan bukti foto itu kepada Theo.
"Kau bisa lihat bagaimana tingkah lakunya bukan," Cibir Sang Ibunda Ratu.
"Sangat tidak mencerminkan seorang wanita kelas atas," Lanjutnya.
"Tidak mungkin gadisku seperti ini," lirihnya seraya terus melihat foto itu dengan air mata berlinang.
"Ibunda sangat yakin kalau itu bukan anakmu Theo," Ia terus saja berusaha untuk menghasut anaknya agar tidak jatuh ke dalam pelukan gadis itu.
Theo pun hanya bisa terdiam mencerna perkataan Ibunya dan membenarkan ucapannya.
Setelah itu, ia pun mulai menjauh dari Clarissa dan tidak pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali. Clarissa pun terpuruk dengan hal itu, dan memilih untuk pulang ke tanah air.
Sesampainya di tanah air, ia pun bertemu dengan seorang pria yang sudah lama menyukainya. Sehingga ia memilih untuk menerima pria itu agar keluarganya tidak malu memiliki anak yang hamil di luar nikah.
Akhirnya ia menikah dan hidup bahagia sesaat bersama keluarga kecil yang ia bangun untuk anaknya.
Flashback off
...................
"Maafkan Daddy nak, sudah menelantarkanmu,"
Theo tidak berani menatap kedua mata Tayana. Ia terlalu malu melihatnya.
"Da-Daddy?,"
Diluar dugaan Theo, Tayana pun langsung menghamburkan diri ke pelukan Theo. Dan kedua Ayah dan anak itu pun berpelukan dengan erat satu sama lain.
Clarissa yang melihat itu pun tak kuasa menahan tangis. Mereka bertiga berpelukan seraya menangis bersama.
Renzah yang baru selesai membersihkan diri pun terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Kan, gue kecolongan info lagi," Batin Renzah, namun ia senang melihat pemandangan itu.
Karena posisi mereka membelakangi Renzah, itu membuat ia tidak mengenal siapa wanita yang ada disitu. Namun ia merasa tidak asing dengannya.
Setelah selesai menumpahkan semua beban dan kerinduan. Akhirnya mereka bertiga pun melepaskan pelukannya.
"Sekarang kau tidak sendiri sayang, ada Daddy yang selalu siap sedia untukmu," Theo pun menghujani wajah Tayana dengan kecupan gemas darinya.
"What? Daddy? Anjir Tayana jadi sugar baby omegot," pekik Renzah tertahan didalam batinnya.
"Ada Mommy juga," Ucap Clarissa dengan tangan yang tak berhenti mengelus kepala Tayana penuh sayang.
"Mommy? berarti tante Clarissa?," Batin Renzah.
"Tante,"Panggil Renzah dan membuat ketiga orang itu menoleh ke sumber suara.
"Nanti gue ceritain semuanya sama lo," Ucap Tayana dan mengedipkan sebelah matanya kepada Renzah.
"Kamu Renzah? Yang dulu sering ingusan itu kan?," Clarissa mencoba mengingat teman-teman Tayana dahulu.
Renzah pun mendelik mendengar ucapan Clarissa.
"Dih Tante, masa yang di ingat aibnya doang sih," Keluh Renzah bersungut-sungut.
"Hahahaha," Tawa mereka bertiga.
"Kamu gak mau nih peluk Tante?," godanya. Renzah pun menghamburkan diri ke dalam pelukan Clarissa.
"Terima kasih sudah berada di samping Tayana ya sayang," Bisiknya kepada Renzah.
"Sama-sama Tante,"Lirihnya.
Theo dan Tayana yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum saling pandang.
"Ayo kita sarapan bersama, sudah cukup berbincang-bincangnya," Ajak Theo.
"Bentar Dad, Ana cuci muka dulu," Pamitnya lalu mengacir ke kamar mandi.
"Ana?," Tanya Theo kepada Clarissa.
"Panggilan sayangku untuknya,"Jawabnya lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tayana yang sangat ia rindukan.
Akhirnya mereka bertiga pun meninggalkan Tayana menuju ruang makan dan membiarkannya menyusul. Pagi itu merupakan pagi yang indah bagi Tayana. Karena telah di pertemukan kembali dengan Ibunya. Senyum manis tak pernah hilang dari wajahnya.
"Ini mah, penculikan membawa berkah hihihi," Batin Tayana cekikikan.
__ADS_1