
Disaat Tayana bersama Harsen dan teman-teman yang lain, tiba-tiba seseorang memotong pembicaraan mereka.
"Nanti malam kami akan mulai mengirimkan teror ke Vila. Dan kalian harus berekspresi se natural mungkin," ucap Rayyan yang membuat Tayana dan Renzah mengangguk paham.
"Jangan lupa pakai anting ini. Ini merupakan earpiece yang gue desain agar tidak mencurigakan yang lainnya," Rayyan memberikan dua pasang earpiece dalam bentuk anting kepada Tayana dan Renzah.
"Maaf gue potong dulu pembicaraan kita. Gue baru dapat info kalau geng motor sebelah nantangin kita buat balapan malam ini,"
"Cancel," Bukan Harsen yang menjawab, namun Tayana. Ia tidak suka hal-hal yang berbau dengan balapan.
"As you wish," Harsen pun memberi tahu anggotanya untuk menolak ajakan pria itu seraya mengkodenya. Ia yang paham pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Oke jadi intinya, jangan lupa dengan tugas kalian semua. Nanti malam kami akan datang ke Vila dan membuat coretan dengan noda darah di kaca meja rias Tayana. Agar semakin natural,"
"Oke sip," jawab mereka semua.
"Malam ini gimana kalau kita nginap disini," usul Syehan tiba-tiba membuat semua anggota mengumpat tertahan. Steven menoyor kepala Syehan.
"Lo bego apa gesrek sih. Gimana rencana bakal berhasil kalau mereka nginap disini," Ingin rasanya Steven mencekik leher Syehan saat ini juga.
"Syehan anjing," umpat Harsen dalam hati seraya menatap Syehan dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang terkepal.
"Ganteng doang otak minus anjir," batin yang lainnya.
"Resiko punya kawan polos," batin Rayyan sambil mengusap wajahnya kasar.
"F**k buat lo," batin Steven lalu mengacungkan jari tengahnya pada Syehan diam-diam membuatnya melototkan matanya pada Steven.
"Ini pada ngapain dah ngeliatin gue semua," batin Syehan.
"Kalau gitu kita pamit," ucap Renzah
"Biar aku anter,"
"Biar gue anter,"
Harsen dan Rayyan hampir mengucapkannya secara bersamaan.
"Kayanya couple bucin bakal nambah lagi guys," teriak Vincent salah satu anggota harder team. Sehingga mereka semua bersiul menggoda Harsen dan Rayyan.
"Astaga, tahan diri lo Yan," batin Rayyan lalu mengusap wajahnya kasar dan perlakuannya itu tak luput dari pandangan Harsen.
"Kenapa lo?," tanya Harsen to the point.
"Gak apa-apa. Zah ayo gue anterin pulang,"
"Oke, guys kita balik ya. See you soon," Ia dan Rayyan pun berjalan mendahului Tayana dan Harsen. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan anggota harder team, Tayana mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga membentuk huruf V lalu mengacungkannya pada mereka semua dengan kode eye to eye. Membuat mereka semua kompak menelan saliva dengan susah payah. Harsen yang mengetahuinya pun langsung menggenggam tangan Tayana lalu membawanya keluar dari markas itu.
"Nakal banget sih," Harsen mengacak-acak rambutnya gemas sebelum memasangkan helm di kepalanya.
"Iih jangan di berantakin," gerutu Tayana sampai membuat Harsen mengigit pipinya karena gemas.
"HARSEN," pekiknya.
"Ndalem sayang," jawab Harsen dengan suara deep voice nya.
"Dih apaan sih," Tayana berusaha sok cuek karena menahan baper.
"Kalau mau senyum, senyum aja sayang,"
"Arghhhh," pekik Tayana sambil menutup wajahnya menggunakan helm yang ia buka kembali.
...........
"Huh, hampir aja gue ketangkep," seorang pria sedang berada di balkon kamarnya sambil menyesap sebatang rokok setelah selesai mandi.
"Sudah Papa bilang untuk jangan mengusik keluarga mereka. Kenapa kau keras kepala sekali hah," Pria paruh baya tampak menyusul putranya ke kamar setelah mengetahui bahwa putranya berada disana.
"Sebaiknya Papa gak usah ikut campur. Ini urusanku dan dia," Hubungan keduanya memang tak pernah akur. Sehingga jika berbicara selalu menimbulkan ketegangan diantara keduanya. Pria paruh baya itu sampai tidak bisa berkata-kata di depan putranya.
"Matilah kau," umpat pria paruh baya itu karena emosinya mulai memuncak. Lalu pergi meninggalkan kamar putranya. Setelah kepergian Ayahnya, ia pun menghubungi seorang wanita.
"Gimana kondisi disana Ma?," tanyanya setelah sambungan itu terhubung.
"APA?," pekiknya lalu mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
"Nikmatilah kebahagiaanmu yang sesaat itu sayang. Dan tak lama lagi, kau akan menjadi milikku selamanya," batinnya sambil tersenyum devil.
__ADS_1
...........
"Malam ini jam delapan malam kita lancarkan aksi," Rayyan kembali mengingatkan mereka agar tidak lupa.
"Oke," jawab mereka berdua. Lalu segera memasuki Vila.
"Nanti malam setelah rencana kita selesai, jangan lupa datang ke arena balap," Rayyan menjawab dengan deheman. Lalu mereka berdua pun melajukan motornya meninggalkan Vila itu.
.............
Setelah selesai membersihkan diri, Tayana dan Renzah pun membaringkan diri di ranjang. Menatap langit-langit kamar itu dalam diam dengan isi kepala yang banyak.
"Zah, seandainya gue pulang ke kerajaan gimana?,"
"Secepat itu?,"
"Hmm," jawab Tayana singkat.
"Kalau di pikir-pikir gue capek juga di teror-teror gini,"
"Otak lo korslet nih. Udah jangan terlalu di pikirin. Sekarang fokus hadapin apa yang ada di depan lo. Jangan pikirkan yang lain-lain lagi,"
"Kalau gue ke kerajaan, lo ikut ya," pinta Tayana sambil memeluknya dari samping.
"Terus keluarga gue mau lo kemanain hah. Ini aja gue udah di telepon mulu karena gak balik-balik ke rumah,"
"Oh iya, gimana kalau besok kita ke rumah lo,"
"Jauh, gak usah aneh-aneh deh. Besok ada jam pak Sofyan loh," ingat Renzah yang membuat Tayana muram.
"Yah, padahal gue udah excited banget mau ke rumah lo. Disana tuh udaranya masih segar, jadi teringat waktu kita masih tetanggaan dulu hehehe,"
"Bulan depan aja deh, pas liburan semester," usul Renzah.
"Janji ya," Tayana menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Renzah.
"Iya bawel," Renzah mencubit hidung Tayana sehingga membuatnya meringis.
Dering ponsel Tayana mengejutkan mereka berdua.
"Ya sayang," jawab Tayana.
"Oh udah dibawah, sekarang salah satu harus naik ke balkon kamar dari halaman samping. Kebetulan disitu ada tangga,"
"Oke kita tunggu," Sambungan telepon pun terputus.
"Mereka udah dibawah. Gue tunggu disini aja, biar mereka tahu letak kamar kita," ucap Renzah pada Tayana
"Aman cok,"
............
"Maaf nona, ada teman-teman nona Tayana di depan," ucap pelayan saat melihat Renzah turun menapaki anak tangga.
"Suruh mereka masuk," titahnya lalu berdehem untuk memulai drama mereka.
"Mau minum apa?," tanya Renzah pada Harsen, Rayyan, Syehan, dan Steven. Saat mereka sudah duduk di ruang tamu. Kebetulan hanya mereka yang datang malam itu, karena semua anggota sedang mewakili Harsen di arena balap.
"Gue teh susu telor," sahut Syehan.
"Lo kira di warung kopi," cibir Steven.
"Udah air mineral aja semua," ucap Harsen. Lalu Renzah pun memerintahkan pelayan untuk mengambil air mineral.
"Dimana Tayana," tanya Harsen basa-basi, karena saat ini mereka semua sedang di kelilingi para bodyguard suruhan Daddy Tayana.
"Ada di kamar, baru selesai mandi," kilah Renzah.
.........
Sedangkan di kamar Tayana, Bagus lah yang mendapat tugas untuk mencoret kaca meja rias Tayana.
"Lo dapat darah dari mana anjir," tanya Tayana saat Bagus sedang menulis kaca itu.
"Ini bukan darah, gak tau gue apaan. Si Rayyan yang bawa ini tadi,"
"Itu skincare-skincare gue, di pinggirin dulu gak sih,"
__ADS_1
"Udah diem, kita gak punya banyak waktu. Nanti gue lompat dari sini biar semua bodyguard lo yakin kalau ada penyusup kesini.
"Lah terus nanti kalau lo ketangkep gimana?,"
"Tenang aja, si Kavi udah di depan nungguin gue,"
"Sekarang lo siap-siap teriak yang kenceng. Gue cabut, bye bu bos," Ia pun menuruni tangga lalu berlari dari halaman samping.
Rayyan bersama yang lainnya hampir tertawa mendengar percakapan Tayana dan Bagus dari earpiece yang mereka kenakan juga.
"Siapa disana?," Bodyguard Tayana pun mengejarnya namun ia sudah menaiki motor Kavi dan pergi dari sana.
...........
Tiba-tiba terdengar teriakan Tayana dari dalam kamar, sehingga membuat semua orang di Vila kaget. Para bodyguard pun langsung bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Tayana. Sedangkan Tayana sudah meringkuk di ujung ruangan, karena histeris melihat kacanya sudah dipenuhi noda darah yang berisi ancaman bahwa ia akan mati. Para pelayan juga sibuk mencari tahu apa yang telah terjadi di kamar nona mereka.
"Ya ampun Tay, lo kenapa," Renzah berlari memeluk Tayana.
"Anjay keren cok," bisik Renzah membuatnya terkekeh pelan.
"Ada apa princess, apa yang terjadi," tanya salah satu bodyguard.
"Ta-tadi saya pas selesai mandi, saya langsung masuk ke walk in closet. Setelah itu saya sudah melihat noda darah itu di meja rias huhuhu," Harsen pun mendekati Tayana dan mendekapnya, membuat Renzah berdiri menjauh dari mereka.
"Bagus, anak itu sudah mulai melancarkan aksi keduanya," batin Arunika tersenyum senang.
"Robert, kau cari tau siapa pelaku ini semua," titah Gery salah satu bodyguard khusus Tayana.
"Minum dulu," Steven menyodorkan segelas air pada Tayana.
"Pelayan, cepat bersihkan semua kekacauan ini," Pelayan pun bergegas mengambil alat untuk membersihkan kaca itu. Gery pun mendekati Tayana yang masih saja duduk meringkuk di ujung ruangan itu.
"Good job princess," bisiknya lalu tersenyum dan berdiri. Tayana dan Harsen saling pandang namun mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Sekarang kalian keluar, biar kami interogasi Tayana dulu," titah Renzah pada semua pelayan.
"Dan kalian, tetap disini," titahnya pada bodyguard khusus Tayana.
Setelah semua pergi, Tayana pun mencecar mereka dengan banyak pertanyaan.
"Kalian sudah tahu?,"
"Sudah princess," jawab mereka serempak.
"Tahu dari mana?," Tanya Tayana menelisik mereka semua.
"Kalian mata-matain saya?," tuding Tayana.
"Sebenarnya kami meletakkan alat penyadap suara di ponsel princess," Tayana pun mengambil ponsel dan membolak-balikkan ponselnya namun ia tidak menemukan apa pun. Rayyan pun merampas ponsel Tayana dan menelisik ponsel itu, lalu ia melihat sebuah benda kecil hampir tak terlihat di dekat kamera.
"Lancang, kapan kalian meletakkannya?," Tayana marah mendengar fakta bahwa selama ini percakapannya di dengar oleh bodyguard pribadinya.
"Maaf sebelumnya princess, tapi ini atas perintah dari Yang mulia Raja dan Ratu. Saya tidak bisa membantah perintah mereka,"
"Ini juga demi kebaikan lo sendiri Tay. Please, calm down oke," Renzah mengusap bahu Tayana untuk menenangkannya.
"Kenapa kalian tidak konfirmasi terlebih dahulu pada saya hah?," Tayana sampai memijat keningnya karena pusing dengan semua masalahnya.
"Kembali ke awal, semua ini atas perintah Yang mulia Raja dan Ratu princess,"
"Ngeri juga si Tayana kalau dalam mode serius," batin semua orang. Semua orang yang ada di kamar itu hanya diam melihat kemarahan Tayana.
"Sekarang kalian keluar. Jangan perlihatkan wajah kalian di depan saya dulu," semua bodyguard pun keluar setelah mengucapkan maaf.
Tayana duduk di tepi ranjangnya. Ia masih diam tidak membuka suara pada mereka semua.
"Terlepas dari kebocoran informasi pada mereka, kita udah berhasil. Lo jangan pesimis Tay," ucap Syehan sambil memegang bahu Tayana.
"Modus lu, gak usah pegang-pegang kan bisa," Harsen menepis tangan Syehan.
"Yaelah, masih mode sedih juga. Lo mah ngerusak suasana aja," keluhnya.
"Makasih udah bantuin gue," mendengar ucapan Tayana, mereka pun terdiam.
"Udah tugas kita buat selalu jagain kalian," Rayyan pun tersenyum manis padanya.
Malam itu, Tayana seperti orang bodoh yang berhasil di kelabuhi oleh pengawal pribadinya sendiri. Hingga setelah Harsen dan teman-temannya meninggalkan Vila, ia masih betah duduk di balkon menikmati angin malam.
__ADS_1