
Setelah menempuh waktu sekitar 25 menit, Harsen, Rayyan dan Renzah akhirnya tiba di sebuah rumah yang tidak layak pakai dan jauh dari keramaian. Rumah itu berada di dalam hutan, bahkan sinyal juga tidak bisa di jangkau. Mereka menatap rumah itu dengan waspada. Karena khawatir ada jebakan yang sudah dibuat sebelumnya.
"Gue masuk dari pintu depan, dan kalian berdua dari pintu belakang," ucap Harsen.
"Bentar bro, kita gak bisa main masuk-masuk gitu aja. Kita belum tahu medannya gimana, dan kita harus mengatur strategi dulu untuk masuk ke dalam sana," sahut Rayyan.
"Lihat, sama sekali gak ada orang yang berjaga di luar rumah. Logikanya aja, seorang penculik gak punya komplotan," Sambung Renzah sembari menelisik keadaan rumah itu.
"Kita gak bisa tunggu lagi, didalam sana Tayana pasti sedang ketakutan,"
Harsen tidak bisa berpikir jernih mengingat kekasihnya didalam sana. Ingin rasanya ia langsung berlari ke dalam sana dan mencari keberadaan Tayana.
"Gue duluan yang masuk. Nanti gue bakalan alihin perhatian orang yang ada didalam sana. Dan kalian bisa mencari Tayana selagi gue ngalihin perhatian mereka," Ucap Harsen menyusun rencana.
"Gue juga bakal hidupin alarm tanda bahaya yang ada di jam tangan ini. Kalau keadaan gue terdesak didalam sana," Lanjut Harsen.
"Bagus deh, kalau lo lagi pakai jam tangan buatan gue," Seru Rayyan.
"Oke, lo hati-hati didalam sana. Kita awasin dari sini," Sambung Renzah yang langsung di angguki Harsen.
Harsen mulai berjalan menyusuri rumah itu. Ia melihat ada pintu dari samping rumah itu, lantas ia langsung membuka pintu itu dan ternyata pintu itu tidak di kunci. Langsung saja Harsen masuk ke dalam rumah itu.
Tiba-tiba seseorang mengejutkannya ketika ia sedang menelisik rumah tersebut.
"Wah wah, besar juga nyali lo buat masuk kesini," Seru orang itu.
"Gak usah banyak bacot, dimana Tayana lo sembunyikan?," Tanya Harsen dengan nada yang tidak bersahabat.
"Udah mati tu anak," Sahutnya tenang dengan melipat kedua tangannya didada.
Harsen yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya memutih. Orang itu yang melihat lawan bicaranya mulai terpancing emosi, lantas menepukkan tangannya tiga kali.
Tak berapa lama, muncul puluhan orang berbadan besar yang sudah siap untuk bertarung.
Harsen langsung mengklik tombol tanda bahaya yang ada di jam tangan itu tanpa sepengetahuan lawannya.
..............
"Gawat, Harsen lagi terdesak didalam sana," Seru Rayyan.
"Ayo cepetan kita masuk kesana," Renzah kemudian berlari menuju rumah itu.
"Gak bisa, lo tunggu didalam mobil aja," Rayyan kemudian mengejar Renzah dan menahan pergelangan tangannya.
"Percaya sama kami, Tayana bakal selamat," Ucapnya meyakinkan Renzah.
__ADS_1
"Tapi gue gak bisa berpangku tangan aja disini," lirih Renzah dengan air mata yang sudah luruh dari pelupuk matanya.
"Udah sekarang lo cepetan masuk ke dalam mobil sebelum orang-orang didalam sana tahu kalau ada cewek disini," Sambung Rayyan dan langsung di turuti Renzah.
.............
"Cih, lemah beraninya keroyokan," Ejek Harsen.
"By one sama gue kalau lo berani," lanjutnya. Harsen berusaha memancing amarah orang itu agar dapat mengalihkan perhatiannya, dan Rayyan dapat mencari Tayana dengan leluasa .
"Sombong lo, palingan juga ini bakal jadi hari terakhir lo melihat dunia ini," Ejek orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Angga.
Harsen yang mudah terpancing emosi langsung melayangkan bogeman mentah ke rahang Angga.
"Boleh juga pukulan lo," Sahutnya seraya meludah.
"Kalian tunggu apa lagi, habisin dia," Teriaknya kepada anggotanya.
Puluhan orang itu langsung menghajar Harsen dari berbagai penjuru. Hingga membuat Harsen sedikit kewalahan melayani mereka. Namun mengingat Tayana masih berada di tangan mereka, ia kemudian berusaha sekuat tenaga untuk melawan orang-orang itu.
Angga hanya menonton pertunjukan yang ada di hadapannya dengan menyeringai selayaknya menonton di arena tinju secara langsung. Ia mengambil sebuah kursi yang ada dirumah itu lalu duduk menyaksikan mereka.
Rayyan yang sudah memasuki rumah itu lantas terkejut karena situasi didalam tidak seperti diluar rumah yang kelihatan tenang seperti tidak ada orang. Ia yang melihat Harsen melawan puluhan orang langsung saja hendak bergegas menghampirinya. Namun ia teringat, bahwa ia harus mencari keberadaan Tayana.
"****," Umpatnya ketika salah satu orang dari komplotan itu menyadari kehadirannya. Dan langsung melayangkan pukulan ke arah Rayyan, yang langsung di tangkisnya. Hingga terjadi baku hantam juga antara Rayyan dengan orang itu.
.................
Setelah cukup lama berperang dengan pikirannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul mereka ke dalam rumah itu. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil itu, ia dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba memegang bahunya dari belakang. Langsung saja Renzah menyikut perut orang itu dan hendak berlari menjauh darinya.
"Yang mulia," Seru beberapa orang serentak. Dan membantunya.
"Aduh, tunggu nak. Saya bukan bagian dari mereka," Seru orang itu seraya memegang perutnya yang lumayan sakit karena ulah Renzah.
Renzah yang mendengar itu langsung membalikkan badannya dan melihat orang yang terlihat asing dimatanya.
"Maaf om gak sengaja. Saya lagi terburu-buru om, teman-teman saya dalam bahaya," Sahutnya.
"Kamu jangan kesana, bahaya. Biar saya dan anggota saya yang akan menyelamatkan teman-temanmu," ucapnya dan membuat Renzah terheran-heran.
"Ini Tayana jadi sugar baby apa gimana sih. Ini siapa woyy," Batin Renzah seraya menelisik penampilan casual orang itu.
"Nanti kamu akan tahu sendiri," Seakan paham dengan pikiran Renzah, orang itu langsung mengatakan hal itu.
"Ayo, kita harus segera masuk dan selamatkan anakku beserta teman-temannya," Titah orang itu kepada anggotanya.
__ADS_1
"Baik Yang mulia," Sahut mereka serempak dan bergegas memasuki rumah itu.
Renzah yang mendengar itu langsung menduga-duga tentang siapa orang yang dimaksud orang itu.
"Mungkin ini bokap Harsen atau Rayyan," Batinnya.
................
Suasana didalam rumah itu sudah tidak terdeskripsikan lagi. Barang-barang yang ada didalamnya sudah pada hancur tidak berbentuk. Pertarungan sengit masih saja terjadi. Harsen dan Rayyan yang menghadapi puluhan orang itu sudah mendapatkan beberapa luka memar dan goresan senjata tajam di beberapa bagian anggota tubuh mereka dari orang-orang itu.
"Awas dibelakang lo sen," Pekik Rayyan di sela-sela pertarungannya dengan salah satu komplotan itu. Ia melihat salah satu anak buah Angga ingin melayangkan balok ke kepala Harsen.
Harsen yang mendengar itu langsung menendang dada lawannya lalu berbalik arah menendang orang itu.
"Hey, lepaskan mereka semua," Seru seseorang dari arah pintu masuk yang mengalihkan atensi semua orang yang ada dirumah itu termasuk Angga.
"Kalian siapa?, main masuk ke rumah orang tanpa permisi," Sahut Angga menghampiri mereka. Dan penasaran karena wajah mereka tidak menunjukkan bahwa mereka warga pribumi.
"Berani masuk kesini, berarti kalian udah antar nyawa kalian secara cuma-cuma,"
"Kalian, hajar mereka juga," Tunjuknya ke arah anak buahnya. Sehingga kembali terjadi baku hantam yang sempat tertunda.
Pimpinan orang yang baru datang tadi langsung saja menyusuri rumah itu untuk mencari keberadaan Tayana. Hingga ia melihat satu ruangan yang terkunci, lalu ia langsung mendobrak pintu itu sekuat tenaga.
"Finally, i found his (Akhirnya aku menemukannya)," Lirih orang itu dengan mata berkaca-kaca ketika melihat seorang gadis sudah tidak sadarkan diri didalam ruangan itu dengan mulut yang ditutup rapat, hingga kedua tangan dan kaki yang terikat dengan posisi meringkuk di atas ubin yang dingin itu.
"Mereka akan membayar semua ini my Princess," Ujar orang itu lalu membebaskan Tayana dan menggendongnya keluar dari ruangan itu.
"Lepasin dia," Ucap seseorang secara tiba-tiba menghadang jalannya.
"Minggir," Seru orang yang menggendong Tayana.
"Anda mau bawa kemana kekasih saya?," Tanya Harsen dan tanpa sadar orang itu menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat.
"She's mine (Dia milikku)," Desis orang itu dan berlalu melewati Harsen begitu saja lalu keluar dari rumah itu.
Harsen yang mendengar itu membeku di tempat. Pikiran negatif mulai timbul di benaknya. Namun sepersekian detik kemudian, Harsen langsung berlari mengejar orang asing yang telah membawa Tayana pergi.
Jangan tanyakan bagaimana kondisi rumah itu setelah terjadinya pertarungan. Semua anak buah Angga mati terbunuh, serta Angga yang ditahan anggota orang yang membopong Tayana tadi dan membawanya ke suatu tempat. Serta Rayyan yang ikut menyusul Harsen mengejar Tayana yang dibawa orang asing. Namun mereka telat, Tayana dan Renzah telah dibawa masuk ke dalam mobil oleh orang itu beserta anggotanya.
"Sial, kita gagal," Sesal Harsen lalu terduduk begitu saja di halaman itu dengan kedua tangan menopang kepalanya.
Rayyan yang melihat itu langsung berlari ke arah mobil untuk mengejar mereka. Dan menghidupkan klakson mobil berkali-kali agar Harsen tersadar.
"Buruan sen, kita gak punya banyak waktu," Teriak Rayyan dan seketika membuat Harsen tersadar dari lamunannya lalu bergegas menaiki mobil masing-masing.
__ADS_1
.................
Happy Reading semuanya, Jangan lupa like, fav, komen dan vote cerita ini. Tolong dukung cerita ini supaya author makin semangat buat updatenya. Jangan jadi silent readers yaaa !!!😉🤗