SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
PELAKU PEMBERONTAKAN


__ADS_3

"Darren, sekarang katakan apa yang kau dapat tentang kematian Renold, yang tidak wajar itu," titah Theo yang saat ini sedang berada di ruang sidang. Semua orang hadir disana terutama Ibu dari Renold yang ingin diberi keadilan.


"Baik Yang mulia," Ia membungkukkan setengah badannya pada semua orang memberi hormat.


"Mati aku," batin seseorang. Saat ini seorang wanita sedang panik di tempat duduknya. Ia terus meremas kedua tangannya untuk menetralisir rasa takutnya, peluh membanjiri wajahnya.


"Ada apa denganmu Amber?," tanya Ibu Ratu.


"Tidak apa-apa Ibu, aku hanya sedikit kurang enak badan," jawabnya gugup. Lalu Ibu Ratu kembali memfokuskan pandangannya ke aula ruang sidang.


"Sebelumnya saya mendapatkan bukti berupa sebuah anting berwarna merah muda dengan bandul bulan di gudang yang berisi bahan makanan pokok kerajaan Yang Mulia," sahut Darren membuat seseorang reflek memegang telinganya, dan baru menyadari bahwa anting kesayangannya telah hilang satu.


"Seorang wanita?," batin semua orang dengan heran.


"Tunjukkan padaku anting itu," pinta Theo. Dan saat ini anting itu sudah berada di telapak tangannya. Ia mengangkat anting itu tinggi sehingga semua orang dapat melihatnya.


"Aku seperti tidak asing dengan anting ini," batinnya terus menelisik anting itu. Hingga matanya seketika membulat terkejut mengingat siapa pemilik anting ini.


"AMBER, MAJU KAU. BERANINYA KAU MENUSUKKU DARI BELAKANG," teriak Theo dengan mata menghunus tajam ke arah Amber. Amber langsung ditarik oleh pengawal begitu saja tanpa ada rasa hormat. Semua orang tampak terkejut mengetahui fakta itu. Terutama Ibu Ratu, ia tak menyangka bahwa Putrinya berkhianat pada kerajaan. Clarissa juga sama sekali tidak menyangka iparnya tega berbuat demikian.


"Lepaskan Ibuku Yang Mulia," sahut Althaf yang saat itu juga terkejut melihat Ibunya sebagai tersangka.


"DIAM," titah Theo sehingga semua orang hanya diam melihat apa yang terjadi di depan mereka. Amber di dorong dengan kasar ke hadapan Theo dan membuatnya jatuh tersungkur. Althaf yang tidak tega melihat Ibunya di perlakukan seperti itu datang menghampiri dan merangkulnya.


"Jangan campuri urusanku Althaf. Kembali ke tempat dudukmu," Saat ini Theo sedang di liputi amarah yang luar biasa. Ia begitu kecewa karena telah di khianati oleh saudaranya sendiri.


"Padahal aku sudah mengingatkanmu Amber," gumam suaminya yang hanya bisa melihatnya dengan tatapan sendu.


"Apa yang kau lakukan Yang Mulia, aku tidak melakukan apa-apa," 


"Apa bukti ini tidak cukup kuat untuk menyudutkanmu kali ini hah?," pekik Theo. Membuat Amber menelan salivanya dengan kasar.


"Ya, itu memang milikku. Tapi aku tidak sengaja menjatuhkannya saat hendak mengecek bahan makanan kita," 


"Itu bukan tugasmu Amber. Masing-masing orang di kerajaan ini sudah memiliki tugasnya sendiri. Dan kau tidak bisa mencampurinya begitu saja," Amber terdiam. Ia tak tahu mau menjawab apalagi. 


Plak

__ADS_1


"Beraninya kau membunuhnya," Tanpa disangka-sangka, Ibu Renold maju ke hadapan Amber dan langsung menamparnya tanpa tedeng aling-aling. Amber yang ditampar tiba-tiba pun begitu terkejut, dan langsung memegang pipinya yang terasa panas dan kebas akibat tamparan itu.


"Kurang ajar," Amber ingin membalas perbuatan Ibu Renold. 


"Diam di tempat atau kau akan ku jatuhi hukuman mati," titah Theo membuatnya terpaku, dan suasana seketika semakin tegang.


"Aku ingin bertanya padamu Amber. Apa tujuanmu melakukan semua ini padaku?," Theo tidak menatapnya sama sekali. Ia sungguh malu karena anggota kerajaan berani melakukan tindakan tak terpuji seperti itu.


"A-aku tidak melakukannya," 


"Sekali lagi aku bertanya padamu. Kalau kau tidak menjawabnya dengan jujur, maka hari ini merupakan hari terakhirmu menghirup udara di dunia ini," Mendengar penuturan Theo. Amber berdecih dan menatap Theo dengan tajam.


"Apa kau tau apa tujuanku melakukan semua ini hah?,"


"Aku melakukan semua ini demi anakku. Dan aku tidak mau anakmu yang akan menjadi penerus tahta," Semua orang terkejut bukan main mendengar itu. Terutama Theo dan Clarissa, mereka bahkan belum melihat Putrinya. Namun kehadirannya sudah di tentang.


"Apa hubungannya?," tanya Theo dengan heran.


"Sedangkan Renold merupakan orang yang dituduh sebagai tersangka dalam aksi pemberontakan dan penyelundupan bahan makanan. Lantas hubungannya dengan Putriku apa Amber?," lanjut Theo.


"Jika kau berhasil membuat semua rakyat berpihak padamu, maka jalan putrimu untuk menjadi Seorang Ratu akan semakin mulus. Sedangkan di sisi lain, putraku Althaf lebih berhak menduduki tahta itu," Theo sampai menggelengkan kepalanya mendengar pengakuan Amber. Althaf juga terkejut mendengarnya. Demi dia, sang Ibu rela membunuh salah satu rakyat agar tujuannya tercapai.


"Sidang selesai, pengawal. Bawa Amber ke penjara bawah tanah sekarang juga," titahnya.


"Yang Mulia, bagaimana dengan keadilan untuk putraku," Ibu Renold tampak berlari menghampiri Theo.


"Putramu saat ini sudah terbukti tidak bersalah, kau tenang saja. Besok aku akan mengumumkan pada masyarakat bahwa Renold tidak bersalah dan terbebas dari hukuman. Aku akan berusaha untuk berlaku adil pada kalian semua," Ia bersama anggota kerajaan tampak meninggalkan ruang sidang dan kembali ke kamar masing-masing.


...............


"Congratulation sayang," pekik Tayana saat melihat Harsen sudah keluar dari ruangan seminar. Ia kemudian berlari menghampiri kekasihnya dan memeluknya.


"Jangan lari-lari," Harsen pun membalasnya tak kalah erat.


"Tay, by the way yang seminar bukan Harsen doang," celetuk Syehan dengan memonyongkan bibirnya.


"Dih sok imut lo," Steven mencomot mulut Syehan dengan tangannya.

__ADS_1


"Cih asin," 


"Hehe gue tadi habis ngupil sebelum seminar, maaf ye," Syehan pun memukul Steven menggunakan proposal yang ada di genggamannya.


"Congrats buat kalian semua. Semoga sukses kedepannya. Oh iya, kita ada sesuatu buat kalian semua," Renzah pun mengeluarkan sesuatu dari totebag yang ada di gengamannya sedari tadi, dan memberikan mereka hadiah.


"Yang ini khusus dari gue. Sorry kemarin kita gak sempat datang ke rumah sakit jengukin Nyokap lo," ucapnya saat memberikan hadiah pada Rayyan.


"Thanks bro, it's oke," sahut Rayyan seraya membolak-balik kado itu.


"Jadi penasaran sama isinya hahaha,"


"Iih nanti aja dibuka," 


"Buat aku mana?," tanya Harsen pada Tayana.


"Tadaa, ini spesial buat kamu hehe," Mereka semua pun memutar bola mata jengah melihat kebucinan mereka. Ingin rasanya mereka membeli tiket ke planet mars saat ini juga.


"Sungguh malang nasib kita Ven," celetuk Syehan seraya bersandar di bahu Steven.


"Nasib lo aja kali, jangan ajak-ajak gue," sinis Steven. Sehingga Syehan memukul lengannya.


"Lo gak bisa diajak drama anjir," 


"Udah ayo kita foto-foto dulu," ajak Renzah. Lalu mereka semua pun membentuk formasi untuk berfoto dengan posisi terbaik. Tayana berada di samping Harsen, Rayyan di samping Renzah. Sedangkan Syehan dan Steven berada di tengah-tengah kedua pasangan itu. Kamera dipegang oleh salah satu anggota Harder team.


"Huh, apes bener yang jadi jomblo," dengus Syehan.


"Chill bro, entar malem kita party hahaha," 


"Siap sedia?," tanya Bagus yang merupakan fotografer mereka.


"Gue hitung satu sampai tiga. Setelah itu ganti gaya," 


"Oke," sahut mereka semua. 


Setelah selesai mengabadikan momen itu, mereka pun pergi ke markas Harder team untuk membahas kembali mengenai strategi dalam menjebak peneror Tayana.

__ADS_1


__ADS_2