
▫▫▫▫▫▫▫
Tok, tok, tok
Paket,
Paket,
"Sebentar," Sahut orang dari dalam sana.
Ceklek
"Paket dari siapa ya bang?. Saya gak ada pesan apa-apa," Tanya Renzah heran karena melihat Kurir membawa banyak kotak. Seingatnya ia tidak ada memesan apa-apa.
"Atas nama mbak Tayana bukan?," Tanya Kurir tanpa menjawab pertanyaan Renzah.
"Saya sahabatnya, ini memang kosannya. Dia pesan apa ya bang?," Renzah heran dan penasaran dengan Kurir yang tiba-tiba datang.
"Oh ini mbak, saya mau mengantar paket dari seseorang untuk mbak Tayana. Mohon tanda tangani mbak dan maaf bisa foto sebentar kan untuk tanda bukti penerima," Renzah hanya ber-oh ria serta mengangguk agar ia bisa cepat-cepat bertanya kepada Tayana.
"Tay, ada paket buat lo. Buruan buka gih, gue penasaran." Ucap Renzah dan memberi gunting kepada Tayana untuk membuka paket yang baru saja datang.
"Dari siapa Zah?," Tanya Tayana singkat yang membuat Renzah mengedikkan bahunya tanda ia tidak tahu. Hingga membuat Tayana juga ikut penasaran dibuatnya dan segera membukanya.
Isi dari paket-paket itu adalah kamera, Tripod, dan dua kotak cemilan serta makanan pokok sehat seperti bubur ayam kemasan, roti-rotian, susu, minuman bersoda kesukaan Tayana. Serta masih banyak lagi jenis-jenis makanan yang berada di dalamnya.
"Fix ini pengirimnya nyuruh lo buat jadi youtuber," ujar Renzah menebak karena fokusnya dari tadi ke arah kamera dan tripod.
"Menurut lo siapa yang udah ngirimin semua ini buat gue? Apa daddy gue?. Karena ia merasa bersalah, may be sama gue," Tebak Tayana karena hanya orang tuanya dan Renzah yang mengetahui minuman kesukaannya.
"Kalau memang iya, lo harus bersyukur karena ia masih peduli sama lo. Walaupun dengan sikapnya yang begitu." Ujar Renzah seraya menepuk bahunya pelan.
▫▫▫▫▫▫▫
__ADS_1
"Gue gak tau, perasaan apa ini. Yang gue rasa, gue gak tega ngeliat lo terpuruk. Gue pengen ngelindungin lo, tapi gue gengsi. Semoga aja lo suka sama pemberian gue. Gue cuman gak mau lo terus-terusan meratapi kesedihan lo," Ujar seseorang berdiri di dekat jendela menatap ramainya jalanan malam ini.
Jangan tanya dari mana ia mendapat alamatnya. Ia punya banyak koneksi dan mata-mata walaupun ia terkesan cuek kepada mangsanya.
▫▫▫▫▫▫▫
Pekatnya malam tak membuat beberapa orang berhenti menganiaya pria paruh baya yang sudah 2 hari menjadi incaran mereka.
"Cuih, saya akan tetap menyiksanya dan melampiaskan kekesalan saya kepada ibunya." Ujar pria itu meludahkan darah yang keluar dari bibirnya yang sobek akibat tonjokan salah satu dari mereka.
"Biadab!!! kamu tidak tau siapa dia sebenarnya. Jangan coba-coba sentuh dia kalau kau masih ingin hidup," Pekik salah satu dari mereka yang dapat dilihat bahwa ia ketua dari sekelompok orang itu.
"Jordan, kau video semua ini untuk di kirimkan kepada Tuan. Dan untuk kalian, beri dia pelajaran sampai ia tidak berani menyentuh seujung kuku pun Princess kita." Ujarnya kemudian berlalu pergi dari tempat itu.
▫▫▫▫▫▫
Hari berganti hari, kini Tayana sudah siap melakukan aktivitasnya seperti biasa karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bangkit menghadapi semua masalahnya, bukan lari dari masalah. Seperti yang diperintah hati dan otaknya selama ini.
"Wow, seorang Tayana udah comeback lagi ni guys," Teriak Vivi teman seruangannya di kampus. Hingga membuat atensi semua orang teralihkan mendengar suara heboh Vivi.
"Doi gue tuh, jangan pada berisik. Kasian ayang beb gue dengar suara cempreng kalian," Ucap Kevin seraya menyugar rambutnya dan berjalan ke kursinya berniat memberikan kursinya itu untuk Tayana duduki.
"Lo disini aja Tay," Lanjutnya.
"Husss, berisik lo pada." Ucap Renzah yang sedari tadi diam mendengarkan ocehan teman-temannya. Sedangkan Tayana masih diam dan memilih memperhatikan interaksi teman-temannya sambil mengulum senyum hingga menampilkan lesung pipit yang membuatnya semakin manis jika di pandang. Eaakk
"Huuu PMS lo?," Tanya Rian sewot sambil mengikat rambut gondrongnya.
Sekarang mereka berada di kampus, menunggu dosen datang memberikan kultum-kultum yang dipastikan akan membuat para Mahasiswanya menahan ngantuk. Dan bisa di pastikan juga, kultum-kultum dari dosen itu hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
"Pagi semua," Ucap Sofyan selaku dosen mereka hari ini.
"Pagi pak," Jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian hari ini?. Masih semangat semua?," Tanyanya dengan memegang kedua sisi meja dan menatap satu persatu Mahasiswanya.
"Masih pak," Sahut mereka serempak pula.
"Kamu sudah datang Tayana Anatasya?. Masih kuat kan mengulang semester depan di mata kuliah saya?," Tanyanya santai lalu duduk di kursinya dengan menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Su-sudah pak. In Syaa Allah kuat pak," Jawab Tayana gugup. Gimana tidak gugup, ia tidak masuk kuliah sudah hampir seminggu hingga semua mata kuliahnya terbengkalai dan berakhir mengulang di mata kuliah dosen ini. Bisa dihitung, sudah 4 kali ia tidak masuk di kelas Pak Sofyan.
"Bagus, Oke kita lanjut mata kuliah kita hari ini mengenai Hipotesis." Ujarnya seraya menjelaskan mengenai mata kuliahnya hari ini.
▫▫▫▫▫▫▫
"Huapahhh, lo suka sama tu cewek." Teriak Syehan menatap Harsen tak percaya.
"Mulut lo bisa diam apa enggak nih, ember bener." Sahut Rayyan dengan melempar Syehan menggunakan gorengan yang ada di tangannya. Yang di tangkap sempurna oleh Syehan.
"Gue terkejut ogeb," ujarnya sambil memakan gorengan itu.
"Gue cabut," Ucap Harsen singkat lalu mengambil kunci motornya dan beranjak dari kantin itu.
"Mampus lo," Cibir Steven kepada Syehan. Sedangkan Syehan sudah mati kutu karena melihat Harsen langsung pergi setelah mendengar ucapan Syehan.
▫▫▫▫▫▫▫
"Zah, ke Danau yuk." Saat ini mereka berdua sedang duduk santai di taman kampus, menatap orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing di kampus itu.
"Danau mana? Danau Toba?," Sahut Renzah menoleh menghadap Tayana, mengalihkan atensinya yang sedari tadi membaca buku yang berisi kata-kata bijak dari eyang **.Habibie.
"Boleh tuh, dah lama juga gue gak refreshing. Gue pengen teriak sekuat-kuatnya supaya hati gue lega sikit. Gue udah berusaha profesional menjalankan aktivitas gue tanpa kepikiran masalah-masalah gue. Tapi gak bisa Zah," Tak terasa matanya kembali berkaca-kaca mengingat kondisinya yang berantakan akibat dari pisahnya orang tuanya.
"Huh, yaudah kalau lo mau refreshing. Nanti gue temenin kemana pun mau lo biar Tayana yang gue kenal dulu kembali lagi," Ucap Renzah tersenyum hangat dengan menggenggam tangan Tayana.
"Thanks my best," ucap Tayana memeluk Renzah erat.
__ADS_1
"Mata kuliah kita udah selesai kan? Pulang yuk," Ajak Tayana.
"Ho-oh, udah selesai. Kuy lah," Menyimpan buku yang dari tadi ia baca ke totebagnya, lalu meninggalkan taman itu.