
Di negara Eropa, tepatnya di sebuah kerajaan megah nan klasik. Terdapat empat orang sedang berbincang di ruangan khusus anggota keluarga kerajaan.
"Aku masih tidak terima jika pewaris tahta kerajaan adalah putri dari Theo Ibunda," Ucap wanita paruh baya yang berumuran sekitar empat puluh lima tahunan itu.
"Seorang wanita tidak cocok menjadi pewaris kerajaan. Putraku Althaf lebih pantas untuk menjadi seorang Raja. Bahkan ia lebih layak karena di darahnya mengalir murni darah bangsawan," Lanjutnya seraya meminum secangkir teh dengan anggun.
"Sudahlah Amber, kau tidak usah bermimpi ketinggian. Faktanya yang akan menjadi pewaris tahta kan putrinya Theo. Kau harus menerimanya," Sahut Brisa sambil terus memegang kipas kebanggaannya.
"Tutup mulutmu itu Amber. Kau tidak pantas mengucapkan kalimat itu. Sangat tidak mencerminkan seorang bangsawan. Dan kau tidak bisa mengukur pantas atau tidaknya seseorang dari gender," Ucap Ibunda Ratu yang bernama Emma itu.
"Kenapa sekarang Ibu berubah. Dulu Ibu orang pertama yang menolak kehadiran bayi itu," Celetuk Albert.
"Jaga batasan kalian. Theo adalah kakak kandung kalian. Dia bukanlah musuh di kerajaan ini. Suka tidak suka, mau tidak mau, kalian harus menerima kenyataan bahwa ia lah kandidat yang akan melahirkan pewaris tahta selanjutnya," Ucap Emma.
"Aku tidak ingin terjadinya perebutan tahta di antara kalian. Jika sampai itu terjadi, maka bersiaplah untuk melihat mayatku," lanjutnya lalu meninggalkan ruangan itu. Awalnya ia mengajak Putra-putrinya untuk bersantai sambil meminum teh. Namun perbincangan awal yang memicu amarahnya membuat moodnya seketika hilang untuk sekedar bersantai.
..............
Setelah acara barbequan, mereka semua pun menginap di Villa itu. Dan pagi ini di sebuah kamar, seorang gadis sedang terisak di dalam pelukan Mommy nya.
"Kenapa secepat itu Mom," Ucap Tayana masih sesenggukan.
"Daddy dan Mommy punya tanggung jawab yang besar sayang. Kami tidak bisa meninggalkan kerajaan terlalu lama," seru Theo mengelus kepala putrinya.
"Tapi aku masih butuh kalian disini," gumam Tayana.
"Setelah kau menyelesaikan pendidikanmu, Mommy dan Daddy akan menjemputmu untuk kembali ke istana. Kau akan mengemban tanggung jawabmu sebagai penerus Daddy nak," bujuk Clarissa.
Tayana pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu didalam pelukan Mommy nya.
"Tapi kalian harus janji untuk menemuiku setiap seminggu sekali," pinta Tayana dengan menautkan jari kelingkingnya di jari Mommy dan Daddy nya.
"Asal kau selalu bahagia disini, maka Daddy dan Mommy akan rutin mengunjungimu baby," Ucap Theo lalu mengecup kening Tayana lama.
Sedangkan di kamar sebelah, Renzah sedang sibuk mencari keberadaan Tayana yang menghilang di pagi hari itu. Awalnya ia tak sadar akan kehilangan Tayana, ia hanya sekedar bergerak pindah posisi. Namun ketika ia menepuk sebelahnya yang kosong, sontak kantuknya pun hilang.
__ADS_1
"Tay, lo di toilet?," Tanyanya memastikan. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia lalu memeriksa walk in closet yang ternyata juga kosong. Langsung saja ia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Tayana. Namun di pertengahan tangga, ia terdiam dan mulai berpikir.
"Aih gue bodoh banget sih, pengawal bokap Tayana kan banyak. Masa sih seorang Tayana masih bisa diculik," gumamnya.
"Syukur deh kalo lo nyadar," sahut seseorang yang membuatnya hampir terjungkal ke bawah kalau saja orang itu tidak menahannya.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Mereka masih betah berpandangan dengan posisi orang itu yang memegang pinggang ramping Renzah.
"Lo ngagetin gue aja tau gak," sungut Renzah menolak dada bidang pria itu setelah kesadarannya telah kembali.
"Lo aja yang kagetan, gue gak ada tuh ngagetin elu," Jawabnya.
"Lagian ngapain coba lo ngomong-ngomong sendiri di tangga. Kayak orang bego," Cibirnya.
"Dih, dasar cewek aneh," Umpatnya.
"Tapi kalau dilihat-lihat dia manis juga," batinnya.
"Ah gue mikir apaan sih,"gumamnya lalu menggelengkan kepalanya. Dan lanjut menuruni anak tangga untuk joging sebentar sebelum matahari makin naik.
............
Mereka semua sekarang berada di bandara untuk mengantarkan Orang tua Tayana. Bak anak ayam yang takut kehilangan induknya, ia terus bergelayutan manja di tangan orang tuanya.
"Saya percayakan Tayana pada kalian semua," Ucap Theo menatap mereka semua bergantian.
"Terutama kamu Harsen, jangan sampai kau menyakiti putriku. Kalau sekali saja kau menyakitinya, maka kau tidak akan menerima kesempatan kedua sekali pun," Ancamnya penuh peringatan dan membuat Harsen menelan ludahnya kasar.
"Om gak usah khawatir, saya gak akan menyakiti Tayana. Saya janji,"
__ADS_1
"Renzah, om sangat bangga sama kamu. Walaupun usiamu sama dengan Tayana, tapi kamu mampu menjadi sahabat sekaligus kakak bagi Tayana. Terima kasih banyak ya nak," Ucapnya tulus.
"Saya sudah menganggapnya sebagai Adik saya. Orang tua saya juga sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, dan bahkan menyuruh saya untuk terus menjaga Tayana," Ucapnya panjang lebar.
"Ada kami juga om, tan. Yang akan menjaga Tayana, kalian gak usah khawatir," Sahut Rayyan menenangkan kekhawatiran Orang tua Tayana.
"Tante dan om pamit ya, sudah waktunya boarding. Kalian jaga diri disini," ucap Clarissa seraya menatap lembut mereka satu persatu.
"Villa itu sekarang milik Tayana, jadi kalian juga bisa ikut tinggal disitu. Senyaman kalian aja ya," seru Theo.
"Siap om,"Jawab mereka serempak.
"Tay, mak bapak lo cuman mau ke negaranya aja. Bukan mau minggat sumpah," celetuk Syehan karena melihat Tayana yang sedari tadi diam seraya menunduk dan menggenggam erat tangan kedua orang tuanya.
"Ven, lihat kondisi. Mungkin dia gak mau jauh dari bonyoknya," bisik Steven.
"Iya ya anjir, selalu salah gue mah," bisiknya pula.
Dengan berat hati Tayana melepaskan pegangan tangannya. Dan melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya.
"Safe flight Dad, Mom," Suaranya sudah serak menahan tangis, namun tetap mencoba untuk tersenyum. Semua orang yang menyaksikannya tak kuasa menahan tangis termasuk Clarissa dan Theo. Namun mereka harus kuat agar tidak membuat Tayana semakin sedih.
Clarissa dan Theo terus berjalan menjauh dari Tayana dan menghilang untuk melakukan boarding.
"Huh, lo bisa Tay," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
"Lo gak sendiri, ada gue," sahut Renzah.
"Gue juga," sahut Harsen pula.
"Dan ada kita," celetuk Steven seraya merangkul pundak Syehan dan Rayyan. Lalu mereka semua pun saling merangkul untuk menguatkan Tayana.
"Kalau gitu kita sarapan dulu yuk. Tadi gue belum sempat sarapan karena Om dan Tante berangkatnya mendadak," ucap Syehan.
"Boleh, bubur ayam di taman yang pernah gue datangin sama Tayana kemarin enak. Gak jauh kok tempatnya dari sini," Seru Harsen.
__ADS_1
"Kuy lah, gue juga udah lapar," celetuk mereka satu persatu.