
Hari ini mereka semua kembali memasuki kampus. Dengan Tayana dan Renzah yang masuk kelas, dan Harsen bersama teman-temannya sedang mengejar dosen untuk melakukan bimbingan tentang skripsi mereka. Rayyan juga sudah masuk kampus karena kesehatan Mamanya semakin hari kian membaik, namun hari-harinya hanya berdiam diri di kamar membuat Rayyan dan Alea menjauhkan semua senjata tajam yang dapat melukai Mamanya. Mereka tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali.
Setelah selesai kelas pagi, Tayana dan Renzah pun berjalan beriringan menuju perpustakaan untuk mencari referensi dari tugas yang diberikan oleh dosen. Namun tiba-tiba ada seseorang memakai hodie menabraknya membuat ia hampir saja jatuh jika Renzah tidak menahannya.
"WOY, KALAU JALAN PAKAI MATA DONG," teriak Renzah namun tidak di gubris olehnya.
"Aw shh darah Zah," tangannya gemetar melihat bahwa terdapat goresan panjang di lengan kirinya membuat darah mengalir begitu saja.
"Kenapa bisa begini, tadi kan masih baik-baik aja," Renzah panik lalu mengambil sapu tangan yang ada di tasnya untuk mengikat lengan Tayana.
"Kayanya itu ulah orang tadi, lo gak sadar sama sekali?," tanya Renzah sambil terus menyeka darah yang ada di lengannya sebelum mengikatnya dengan sapu tangan. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam, hanya sebuah goresan saja.
"Gue gak terasa sama sekali. Cuman pas orang itu nabrak gue, gue ngerasa bahu gue kayak di suntik gitu,"
"Sekarang mereka udah semakin agresif Tay. Ini gak bisa di biarin, kita harus bertindak,"
"Sekarang kita ke uks aja dulu untuk obatin luka lo. Takutnya infeksi,"
Mereka berdua pun berbalik arah menuju ruang uks untuk membersihkan luka Tayana. Renzah dengan telaten membersihkan lukanya menggunakan alkohol lalu menuangkan obat merah kedalam kapas, dan mulai memberikannya di luka Tayana.
"Shhh pelan-pelan Zah, perih," ringisnya sambil meniup lukanya.
"Ini udah pelan, sekarang lo diem tiduran aja. Besok kita ke perpus,"
"Tapi tugas kita harus selesai dua hari lagi,"
"Aw aduh," pekiknya karena Renzah menekan lukanya.
"Makanya jangan banyak bacot. Mending diem dengerin gue," Renzah menatap Tayana penuh intimidasi membuat nyali Tayana menciut.
...........
__ADS_1
Saat ini kerajaan negara eropa sedang kacau. Telah terjadi pemberontakan dimana-mana. Dan Theo selaku Raja di negara itu pun turun tangan untuk melihat kondisi rakyatnya.
"Apa masalahmu sehingga kau tidak setuju dengan keputusanku ini?," tanya Theo kepada seorang wanita paruh baya yang sedang memegang sebuah makam yang ada halaman samping rumahnya.
"Kau telah membunuhnya," tuding wanita itu dengan mengacungkan pisau kepada Theo membuat semua pengawal maju melindungi Rajanya.
"Aku tidak membunuh siapa pun,"
"Kau kenal dengan pria ini ha?," pekiknya seraya menunjukkan bingkai foto yang berada diatas makam itu. Theo pun terkejut bukan main melihatnya.
"Renold?,"
"Ya, kau bahkan tau namanya. Tega sekali kau membunuh anakku. Padahal dia sama sekali tidak melakukan apa-apa, dia hormat sekali kepadamu. Namun apa balasanmu hah?, kau membunuhnya dengan kejam. Bahkan untuk melihat wajahnya yang terakhir kali pun aku tak bisa huhuhu," Wanita itu tiba-tiba meraung di hadapan Theo.
"Kembalikan anakku, aku tidak punya siapa pun lagi selain dia," Theo masih saja syok melihat fakta yang ada di hadapannya. Begitu pun asistennya.
"Maaf apa kondisinya utuh ketika di makamkan?," tanya Theo dengan hati-hati membuat wanita itu menatapnya tajam.
"Darren," teriaknya, emosinya tidak terkendali.
"Ya Yang Mulia,"
"Cepat kau cari tahu siapa yang telah membunuh Renold dengan kejam. Dalam waktu dua puluh empat jam kau harus menemukan orangnya," titahnya membuat wanita tadi terperanjat kaget.
"Apa maksudmu Yang Mulia," nada suaranya sedikit melunak mendengar penuturan Theo sebelumnya.
"Sebelumnya aku memberinya waktu satu minggu untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah atas tindakan yang dituduhkan kepadanya tempo hari. Namun aku tidak menyangka bahwa ia mengalami kejadian tragis ini," ungkap Theo membuat wanita tadi semakin menangis tersedu-sedu.
"Beri kami keadilan Yang Mulia. Aku tidak akan pernah bisa memafkan orang yang telah membunuh putraku,"
"Baiklah," ucap Theo lalu menghembuskan nafas kasar.
__ADS_1
"Darren, berikan uang kompensasi kepada wanita ini," Setelah mengatakan itu, ia pun pergi dari tempat itu ke tempat-tempat yang lain untuk melihat keadaan rakyat-rakyatnya.
Di tengah perjalanan, seorang nenek tua memanggilnya dari kejauhan.
"Yang Mulia," Theo dan para pengawalnya pun menghentikan langkahnya lalu berbalik menolehnya. Seketika Theo dan yang lainnya di kelilingi oleh masyarakat.
"Ada apa Nek, katakan semua keluh kesahmu,"
"Saya ingin bertanya mengenai kebijakanmu tentang benteng yang kau bangun di perbatasan Utara. Apa tujuanmu membangun itu?. Kau tidak tahu itu adalah jalur akses kami untuk keluar masuk wilayah utara dalam berniaga agar dagangan kami masuk ke wilayah sana," Theo mendengarkan secara seksama apa yang di ucapkan wanita tua itu.
"Tujuan saya yang pertama membangun benteng itu agar kalian para rakyatku tidak membayar pajak atas tindakan ilegal kalian yang telah keluar masuk perbatasan tanpa izin yang sah. Dan yang kedua, saya tidak ingin di kemudian hari terjadi perseteruan antara dua wilayah. Sehingga saya memutuskan untuk membangun benteng di perbatasan itu dan melebarkan beberapa wilayah di negara lain, agar kalian dapat berniaga sesuka hati kalian," tutur Theo membuat wanita tua itu meneteskan air matanya. Dan semua orang yang disana tampak manggut-manggut.
"Hidup Yang Mulia Raja Theodore Wilson," semua orang disana tampak mengelu-elukan nama Theo karena mereka telah salah paham atas kebijakan yang dibuat olehnya sebelumnya.
"Cukup, sekarang lanjutkan kegiatan kalian seperti semula. Saya permisi," Merasa semua tempat sudah di kunjungi, mereka pun kembali ke istana.
...............
"Tangan kamu kenapa?," tanya Harsen pada Tayana. Saat ini mereka semua sedang berada di cafe Bloody. Tayana pun menceritakan semuanya kepada mereka semua tentang kejadian yang dialaminya.
"Bangsat," umpat Harsen membuat Tayana mengelus bahunya menenangkannya.
"I'm okay, sekarang kita pesan makanan aja. Aku lapar," Tayana menampilkan pupy eyes nya. Membuat Harsen salah tingkah namun di tahan.
"Ck, yaudah buruan pesan," ujarnya lalu mengalihkan perhatiannya dengan membuka sosial medianya.
"Tay, lo capek ga sih. Selalu di teror mulu?," tanya Bagas.
"Capek?, mungkin udah habis dalam kamus gue bang. Udah kebal hehe,"
"Entah apapun masalahnya, semoga lo bisa melewatin semua ini dengan lapang dada," celetuk Ferdi membuat mereka semua meng Aamiin kannya.
__ADS_1
Setelah pesanan datang, mereka pun segera menikmati makan siang bersama dengan background kebucinan Harsen dan Tayana yang membuat Renzah dan anggota lainnya selalu menggoda mereka.