
Syehan yang sedang tertidur, terganggu dengan dering ponsel yang ada di sakunya. Ia pun mengambil ponselnya dengan malas dan melihat si penelepon yang telah mengganggunya di pagi ini. Seketika rasa kantuknya hilang melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Gue harus jawab apa sama Tayana," Ia berdiri dan mondar-mandir. Lalu ia pun mengguncang tubuh Steven, sehingga membuatnya menyipitkan mata karena di bangunkan paksa oleh Syehan.
"Ven, tolongin gua please," ucap Syehan sambil terus menyadarkan Steven dari tidurnya.
"Hmm," Steven tak menggubris Syehan, ia kembali tertidur dan memperbaiki tidurnya, lalu melipat kedua tangannya di dada. Sampai ponsel Syehan tidak berdering lagi.
"Cih, gak guna banget lo jadi teman," cibirnya. Tak berapa lama kemudian, ponsel Syehan kembali berdering. Mau tak mau, ia harus menerima panggilan itu. Syehan berdehem sebentar untuk menetralisir rasa takutnya.
"Halo Tay ada apa, hoam," Syehan pura-pura menguap.
"Lo baru bangun tidur, maafin gue ya udah ganggu," sesal Tayana.
"Gak apa-apa. Ada perlu apa Tay,"
"Harsen dari tadi malam sampai pagi ini gak ada hubungin gue. Lo tahu gak dia dimana?,"
Pertanyaan yang di hindari olehnya terucap juga. Membuatnya ingin mengumpat saat itu juga. Bertepatan dengan itu, Rayyan kembali dari kantin dengan membawa beberapa bungkus sarapan dan air mineral untuk mereka semua. Sehingga membuat Syehah menghela nafas lega seketika.
"Siapa?," tanya Rayyan dengan bahasa isyarat. Syehan pun menunjukkan ponselnya pada Rayyan sehingga membuatnya terkejut dan melototkan matanya.
"Tekan speaker," bisik Rayyan nyaris tak bersuara.
"Halo, masih ada orang disana?," tanya Tayana.
"Oh sorry Tay, tadi nyokap gue datang ke kamar. Jadi panggilannya gue mute," alibinya.
"Oh oke. Jadi lo tahu gak dimana Harsen?," tanyanya sekali lagi.
"Gue gak tahu Tay. Kemarin malam setelah pulang dari Vila, kita langsung balik ke rumah masing-masing. Kebetulan gue di suruh pulang sama nyokap. Dan Harsen dapat telepon dari bokapnya untuk suruh dia balik juga," Rayyan mengkode Syehan untuk menjawab tidak tahu. Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Ya udah deh, kalau ada kabar tentang Harsen tolong kabarin gue ya," pinta Tayana.
"Siap princess," panggilan selesai sehingga membuat mereka berdua menghela nafas lega.
"Pyuh, selamat," seru mereka berdua. Lalu membangunkan Steven, Kavi dan Bagus untuk sarapan bersama-sama di depan ruangan Harsen. Sampai beberapa pengunjung rumah sakit yang sedang mengantri di depan meja resepsionis pun melihat mereka dengan pandangan aneh.
"Kompak banget ya mereka," celetuk Ibu-Ibu dari baris kelima.
"Iya, jarang-jarang loh ada teman yang kayak gitu," celetuk Ibu-Ibu yang ada di belakangnya.
"Halah paling mereka anak orang kaya yang gabut nongkrong di rumah sakit," sahut Ibu-Ibu yang ada di baris kedua.
"Julid bener bu, baris yang bener biar cepat selesai," tegur pihak resepsionis, lalu mereka semua pun terdiam.
..........
"Gimana?," tanya Renzah yang sedang memakai skincare paginya dan duduk di depan meja rias.
"Dia juga gak tahu," Tayana menghela nafas kasar.
"Mungkin dia lagi ada urusan pekerjaan yang urgent, dan gak sempat untuk kabarin lo,"
__ADS_1
"Hmm," jawab Tayana lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...........
Saat ini di kerajaan eropa sedang mengadakan jamuan kepada tamu kerajaan. Yang Mulia Raja dan Ratu beserta anggota kerajaan ikut menerima mereka dengan suka cita. Dan saat ini sedang makan malam bersama.
"Silahkan di nikmati Yang Mulia," ucap Yang Mulia Theo pada Raja dari negara tetangga yang begitu berjasa dalam kejayaan kerajaan eropa.
"Baik Yang Mulia. Tapi ini sungguh lezat sekali,"
"Tentu saja lezat, Yang Mulia Ratu dan Ibunda Ratu yang turun langsung memasaknya di dapur istana," tutur Yang Mulia Raja Theodore tamu-tamu itu memuji keahlian Yang Mulia Ratu dan Ibunda Ratu. Lalu memberikan hadiah berupa perhiasan karena sudah menyuguhkan makanan yang lezat.
Setelah acara makan malam, mereka pun pergi ke ruang sidang untuk membahas tujuan utama tamu-tamu mereka berkunjung.
"Ada perlu apa Yang Mulia Raja Anderson kemari," tanya Yang Mulia Theodore.
"Wah, Yang Mulia sangat tho the point sekali hahaha," mereka semua tertawa bersama mendengar candaan Raja tersebut.
"Baiklah, saya kemari ingin meminta bantuan Yang Mulia," Theo mengerutkan keningnya.
"Apa itu?," tanya Yang Mulia Raja Theodore.
"Kami mengalami kendala di bagian perdagangan rempah-rempah. Rempah yang seharusnya sudah di impor dari negara India, saat ini belum juga sampai. Sedangkan kami harus mengirimnya kembali ke negara Arab," Yang Mulia Theodore mengingat rempah-rempah yang ia pesan dari negara Indonesia.
"Berapa yang kau butuhkan Yang Mulia?," tanya Theodore.
"Sekitar tiga ratus karung Yang Mulia,"
"Kau jangan khawatir Yang Mulia, kami memiliki rempah-rempah yang di pesan dari negara Indonesia," Raja dan para anggota kerajaannya pun tersenyum senang mendengar penutran Yang Mulia Theodore.
"Tidak usah sungkan-sungkan. Kerajaan kita bersahabat, sudah seharusnya saling membantu,"
"Besok kami akan mengirimkan rempah-rempah itu ke kerajaan kalian,"
"Baik Yang Mulia,"
Malam itu setelah persidangan, mereka semua berkumpul sambil meminum wine untuk menutup malam itu. Lalu tamu-tamu itu pun menginap di kerajaan Eropa selama satu malam. Dan kembali melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya.
.............
"Apa?. Mengurus cucuku saja dia tidak becus," pekik seseorang setelah mendapat kabar bahwa cucunya saat ini sedang sakit.
"Apa tunggu kehilangan dulu seperti kehilanganmu baru dia sadar hah?,"
"Sabar Ayah. Mungkin dia tidak tahu keadaan anaknya saat ini," ucap putrinya.
"Pengawal," teriaknya.
"Siap Yang Mulia," jawab pengawal itu.
"Kau suruh Damian kesini sekarang juga," titahnya.
"Baik Yang Mulia. Hamba pamit undur diri dulu," Salamnya lalu membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Hmm," jawabnya. Lalu tak berapa lama kemudian, Damian seorang dokter khusus di kerajaan pun datang.
"Salam Yang Mulia, ada perlu apa repot-repot memanggil hamba,"
"Salam, Damian. Cepat kau urus kepindahan cucuku dari rumah sakit di negara X. Aku tidak ingin dia terluka seperti Ibunya dahulu," titahnya lalu memberikan selembar foto padanya.
"Baik Yang Mulia, laksanakan,"
"Sekarang kau boleh pergi," Damian pun pergi dari hadapan Raja dan Tuan puterinya.
"Ayah serius ingin membawanya kesini tanpa sepengetahuan Ayahnya?," tanya Putrinya memastikan.
"Ya," jawabnya singkat penuh tekanan.
...........
Di rumah sakit, keadaan Harsen masih seperti itu saja. Tidak ada perubahan sama sekali. Benturan di kepalanya terlalu kuat. Karena gelap di malam itu, Harsen tidak menyadari ada batu besar disana. Ia langsung saja melompat dari atas motornya.
"Harsen kenapa gak bangun-bangun ya. Nyaman banget tidurnya," seru Bagus yang melihatnya dari jendela.
"Kecapekan. Biarin aja dia istirahat," sahut Steven yang masih betah duduk di kursi tunggu depan ruangan Harsen.
"Ya gak kelamaan juga," celetuk Bagus.
"Kita kabarin om Andra gak tentang keadaan Harsen?," tanya Syehan tiba-tiba teringat dengan Ayah Harsen.
"Gak usah, sejak kapan sih dia perduli dengan Harsen," sahut Rayyan yang di setujui oleh mereka semua.
"Kita masih sanggup untuk jaga Harsen," sambungnya.
Mereka pun tak henti berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing untuk kesembuhan Harsen. Sedangkan di alam bawah sadarnya, Harsen sedang bermain di sebuah kerajaan yang sangat indah. Di sekelilingnya banyak bunga-bunga yang indah, membuatnya betah disana menatapnya.
"Kamu suka disini?," tanya seorang wanita yang ia kenali datang tiba-tiba menghampirinya.
"Mama," pekiknya lalu memeluk Ibunya dengan erat.
"Acen kangen sama Mama,"
"Mama juga kangen sama Acen," Wanita itu mencium pucuk kepala Harsen.
"Jadi selama ini Mama tinggal disini?,"
"Iya sayang, disana juga ada kakek kamu," jawabnya.
"Mau kesana?," tanya wanita itu membuat Harsen menganggukkan kepalanya antusias. Ia terlihat seperti bukan Harsen yang biasa dikenal. Harsen dibawah alam sadar, sifatnya lebih hangat dan ceria. Berbanding terbalik dengan Harsen biasa. Mereka berdua pun bergandengan tangan menuju kerajaan itu.
"Harsen, jangan tinggalin aku," tiba-tiba terdengar suara seorang gadis membuat Harsen menoleh.
"Ada apa sayang?," tanya wanita itu.
"Ada yang panggil Acen Ma," Wanita itu pun menoleh dan melihat seorang gadis cantik menangis di tempat Harsen duduk tadi.
"Dia siapa?," tanya wanita itu.
__ADS_1
"Harsen gak kenal Ma, tapi Harsen merasa punya ikatan sama dia,"
"Ya sudah, ayo kita kesana. Kakek sudah lama menunggumu," Akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan gadis yang duduk menangis di tempat itu sendirian.