
Saat mengikuti kelas di siang hari ini, tak terasa mata Tayana mengantuk karena penjelasan dari dosen yang membosankan. Akhirnya ia pun tertidur dengan menopang kepalanya di tangan.
"Harsen," pekiknya sehingga membuat satu ruangan terkejut mendengar suaranya. Saat tidur di ruangan pun ia bermimpi tentang Harsen.
"Anjir," pekik Renzah tertahan karena pas berada di sampingnya.
"Suara siapa itu?," tanya dosen. Semua orang di ruangan itu langsung menunjuk ke arah Tayana.
"Siapa nama kamu?,"
"Tayana Bu," Dosen itu pun mengambil buku absennya, lalu melingkari nama Tayana. Ia pun bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri Tayana.
"Ada apa denganmu?. Kenapa kamu berteriak di ruangan ini hmm?,"
"Maaf Bu, saya kurang fokus,"
"Kurang fokus, atau dari tadi kamu tidak mendengarkan penjelasan saya?," tuding Dosen itu. Tayana menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menundukkan pandangannya. Tak berani menatap dosen itu.
"Coba jelaskan apa yang baru saja saya jelaskan di depan sana," Tayana hanya terdiam mendengar perintah dari Dosennya. Karena ia sama sekali tidak menyimak materi yang di sampaikan olehnya.
"Ck, kamu saya hukum untuk membuat proposal mengenai semua materi yang ada di silabus. Dan batas pengumpulannya besok siang. Kalau kamu tidak menyelesaikannya, maka siap-siap saja menerima nilai E di mata kuliah saya," Setelah mengatakan itu, Dosen itu kembali ke mejanya dan melanjutkan materi yang tertunda tadi. Renzah mengelus pundak Tayana untuk menyemangatinya.
"It's oke, nanti gue bantuin," bisik Renzah, sehingga membuat senyum Tayana terbit.
...........
Seorang pria dengan mengenakan pakaian formal mendatangi sebuah rumah sakit. Di tangan sebelah kanannya sedang menenteng sebuah tas yang berisi dokumen seseorang, lalu ia pun mendatangi resepsionis.
"Selamat siang Bapak, ada yang bisa kami bantu?," tanya mereka ramah.
"Siang, saya ingin memindahkan pasien atas nama Harsen Anandra ke rumah sakit lain,"
"Baik, saya cek data atas nama pasien Harsen Anandra dahulu ya Pak," Pria tadi hanya berdehem menjawabnya.
"Maaf pak, dari data yang saya lihat. Saat ini pasien tersebut belum boleh di pindahkan kemana-mana. Karena kondisinya belum cukup stabil. Pasien mengalami koma hingga harus membutuhkan perawatan yang intensif di ruangan ICU." Pria tadi tampak menggeram mendengar ucapan resepsionis itu.
"Dimana ruangan direktur rumah sakit ini?. Saya ingin langsung meminta persetujuannya,"
"Maaf Bapak, tapi ini sudah menjadi kebijakan di rumah sakit ini," Pria itu langsung pergi begitu saja, lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Segera kirimkan anggotaku dari kerajaan untuk membantu perpindahan pangeran. Dan jangan lupa untuk membawa segala perlengkapan yang di butuhkan,"
..........
Lima orang pria tampak masih setia berada di depan ruangan Harsen. Mereka berdiri berbaris melihat kondisi Harsen dari celah kaca pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Kalian gak mau pulang dulu?," tanya Rayyan yang dijawab gelengan oleh mereka.
"Kenapa sih Harsen lama banget sadarnya?. Emang sekeras itu ya benturannya?," sahut Syehan.
"Ya lo pikir sendiri aja bego. Gak mungkin Harsen sampai koma kayak gini kalau benturannya masih dalam tahap aman," seru Kavi.
"Iya juga ya," Syehan menghela nafas panjang.
"Ven, kok lo diem aja dari tadi?," tanya Bagus.
"Gue gak sanggup lihat sahabat kita kayak gini. Demi apapun gue bakal habisin si Baron dengan kedua tangan gue sendiri," Steven melihat tangannya sendiri dan tampak mengepal kedua tangannya. Rayyan merangkul Steven yang ada di sampingnya.
"Lo gak sendiri,"
"Oh iya, dari semalam kita belum ada mandi," celetuk Syehan.
"Kalau gitu kita gantian aja jaga Harsen disini," Mereka tampak berat hati menyetujui ucapan Rayyan. Namun tidak mungkin pula jika mereka semua tetap disini. Tanpa pulang ke rumah mengabari keluarga mereka.
"Oke, gue sama Bagus duluan balik. Nanti sore kita balik kesini. Kalian jangan lupa hubungin anak-anak yang lain untuk bergantian menjaga," sahut Kavi yang diangguki oleh mereka bertiga. Lalu Kavi dan Bagus pun pergi dari rumah sakit.
"Lo gak mau balik Han?," tanya Steven.
"Gak, gue mandi di rumah sakit ini aja,"
"Udah gue pesan online tadi," Steven hanya ber oh ria mendengarnya.
"Terus lo kenapa gak balik?," tanya Rayyan balik pada Steven.
"Malas," jawabnya singkat.
............
"Apa kita beri tahu princess Tayana mengenai kondisi Harsen saat ini?," celetuk salah satu bodyguard pribadi Tayana.
"Belum saatnya. Nanti princess Tayana tidak bisa mengontrol emosinya,"
"Apa yang kalian maksud hah?," sahut Tayana tiba-tiba datang saat mendengar percakapan mereka yang menyebut nama Harsen.
"Apa yang terjadi dengan Harsen?," tanyanya penuh selidik. Mereka semua bungkam dan enggan menjawab pertanyaan Tayana.
"Jawab atau kalian mati hari ini juga," Mereka semua menelan saliva susah payah mendengar ancaman Tayana.
"Calm down Tay. Lo gak boleh kayak gini," tegur Renzah.
"Sekarang cepat jelaskan semuanya," titah Tayana. Dengan paksa mereka pun menceritakan semua yang mereka ketahui tentang Harsen. Mulai dari awal tragedi, sampai kondisi Harsen yang belum sadarkan diri saat ini. Tangis Tayana tak dapat di bendung. Dengkulnya lemas mendengar kabar buruk itu.
__ADS_1
"Dimana?,"
"Di Rumah Sakit harapan Bunda princess,"
"Cepat kalian antarkan saya kesana sekarang juga."
.............
Derap langkah bersahut-sahutan terdengar memenuhi koridor rumah sakit itu. Tayana dan Renzah berlari menuju ruangan Harsen setelah bertanya pada pihak resepsionis. Mata Syehan membulat melihat kedatangan Tayana. Ia menyenggol lengan Rayyan dan Steven.
"Apa sih Han?," kesal Steven.
"Ta-Tayana disana," Ia menunjuk ke arah Tayana yang masih berada di ujung koridor ruangan Harsen. Sontak jantung mereka bertiga berdegup kencang.
"Kenapa kalian sembunyikan kabar ini dari gue hah?," cecar Tayana pada mereka semua.
"Sorry Tay, kita gak bermaksud untuk sembunyiin ini semua dari lo," ucap Rayyan. Tayana hanya diam melihat mereka satu persatu secara bergantian, lalu langsung memasuki ruangan Harsen setelah memakai baju khusus menjenguk pasien di ruangan ICU.
"Hiks, sayang bangun. Kenapa bisa kayak gini sih, hiks," Isak tangis Tayana terdengar di ruangan itu. Tanpa Tayana sadari, air mata Harsen terjatuh dari pelupuk matanya.
"Aku marah ya. Kalau kamu gak bangun juga,"
"Jangan tinggalin aku sayang. Aku gak bisa, hiks," Ia menghapus air matanya dengan kasar. Lalu menggenggam tangan Harsen dan mencium punggung tangan Harsen.
"Kamu harus janji sama aku. Kalau kamu bakal siuman," Tayana melihat air mata Harsen menetes kembali. Senyumnya mengembang melihatnya.
"Aku anggap air mata itu sebagai jawaban kamu. Baiklah, hari ini kamu boleh istirahat sepuasnya. Tapi besok, mata kamu yang indah ini, harus sudah terbuka. Aku rindu melihat bola mata kamu yang berwarna biru itu, hiks. Bola mata yang selalu menatapku dengan keteduhan dan kehangatan,"
"Kalau gitu aku keluar dulu ya. Love you Harsen Anandra," Tayana mengecup kening Harsen lama, lalu melepaskan genggaman tangannya dan keluar dari ruangan itu.
"Tay, gimana keadaan Harsen?," tanya Renzah.
"Masih belum sadar," Renzah tampak menghela nafas mendengarnya.
"Besok pasti Harsen udah sadar. Semangat oke,"
"Hmm,"
"Tay, maafin kita ya karena udah sembunyiin semua ini dari lo," ucap Syehan.
"Iya Tay, kita semua ngelakuin ini karena khawatir sama lo. Takut beban pikiran lo makin banyak." Sambung Steven.
"Beban?. Jujur gue gak pernah anggap sesuatu yang berkaitan dengan kalian semua itu beban,"
"Tapi percuma juga kalau terus bahas yang udah berlalu. Sekarang kita fokus berdoa untuk kesehatan Harsen aja," sambung Tayana yang diangguki oleh mereka semua.
__ADS_1