SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
PEWARIS KERAJAAN


__ADS_3

Di sebuah apartemen, seorang pria masih betah menutup matanya. Tak berapa lama, mata pria itu perlahan mengerjap terbuka karena terganggu dengan sinar matahari pagi yang masuk dari celah ventilasi jendela kamar.


"Pusing banget kepala gue," Desisnya memegangi kepalanya yang terasa berat.


Tiba-tiba pintu terbuka membuatnya seketika menoleh.


"Nih, minum dulu biar badan lo enakan," Rayyan menyodorkan segelas air hangat campur lemon untuk menghilangkan rasa pengar yang di alami Harsen.


"Kenapa kita bisa ada di apartemen lo," Tanyanya setelah menenggak segelas air tadi sampai habis tak tersisa.


"Ya karena lo kobam bego," Sahut Rayyan menoyor kepala Harsen pelan.


"Kalau anter lo ke rumah kelamaan. Keburu lo mati di tengah jalan karena kobam," lanjutnya memutar bola matanya malas.


"Gue mau cari Tayana dulu," Ketika kesadarannya mulai terkumpul, ia langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Namun keinginannya itu hanya jadi angan-angannya saja.


Bruk


Ia terjatuh karena tersandung oleh sesuatu yang tidak ia lihat sebelumnya.


"****," Umpatnya tertahan dengan mata terpejam menahan sakit.


"Allahu Akbar, Ya Allah gue belum mau mati. Kenapa pagi-pagi udah di uji seberat ini sih," Sungut Syehan karena kebetulan ia dan Steven tidur di bawah karena ingin menemani Harsen tidur.


"Lo gak usah terlalu baik nampung tunawisma di apartemen ini," Seru Harsen seraya bangkit dan menuju kamar mandi.


Rayyan hanya tertawa melihat tingkah laku mereka yang membuat moodnya naik seketika.


"Wah si anjir, Ven-Ven bangun. Gue gak terima ya dibilang tunawisma sama si kutub itu," Tak terima dengan ucapan Harsen, Syehan pun membangunkan Steven dengan menggoyangkan tubuhnya secara brutal.


"Lo niat mau bangunin gue, atau mau buat gue mabok darat ha?," Steven pun langsung memiting kepala Syehan dengan kakinya hingga terjadilah pergelutan mereka.


Harsen yang sudah keluar dari kamar mandi pun menaikkan sebelah alisnya dan menatap Rayyan seolah bertanya kenapa. Dan Rayyan pun hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Ayo Sen, kita habisin aja makanan yang udah gue masak tadi," Ajak Rayyan yang di ikuti oleh Harsen. Meninggalkan Syehan dan Steven di kamar itu.


Kesadaran mereka mendadak terkumpul mendengar kata makanan. Hingga langsung melepas pitingan masing-masing dan menyusul Rayyan dan Harsen.


"Gini nih punya kawan minus akhlak. Temannya lagi bergelut bukannya di pisahin malah di tinggal makan," Sungut Syehan menghentakkan kakinya dan mulai mengambil lauk pauk yang sudah tersedia di atas meja makan.


"Dih, jijik gue liat lo," Steven pun menoyor kepalanya dari belakang dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Syehan.


"Makan atau kita tinggal," Desis Harsen menatap tajam keduanya.


"Hehehe, piece bro," Seru mereka berdua menunjukkan dua jari membentuk huruf V.


Mereka pun sarapan dengan tenang tanpa adanya perdebatan unfaedah dari Syehan dan Steven.


..................


Sedangkan di tempat lain terlihat satu keluarga sedang berbincang di taman belakang rumah menikmati pagi yang indah setelah selesai sarapan.

__ADS_1


"Udah lama gue Zah bayangin hal kayak gini," Bisik Tayana kepada Renzah.


Renzah pun hanya bisa tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya pelan.


"Kalian udah semester berapa nak," Tanya Clarissa sambil menyomot pisang goreng yang sudah dibuat oleh pelayan sebelumnya.


"Semester tiga Momy," Jawab Tayana lalu meminum tehnya.


"Daddy tau semuanya lo tentang kamu," Sahut Theo dengan menurunkan koran yang sedang ia baca.


"What? Daddy tau dari mana? Kita aja baru ketemu," Pekik Tayana. Pipinya tiba-tiba menunjukkan semburat merah, takut kalau tentang Harsen pun diketahui Daddy nya.


"Hahahaha hayoloh. Ketar ketir kan kau dek-dek,ckck," Seru Renzah memegang perutnya sakit karena tertawa melihat wajah panik Tayana.


"Kamu pikir Daddy bakal biarin kamu diluar tanpa pengawasan hmm," Theo menatap lekat putri semata wayangnya itu.


"Pewaris kerajaan tidak akan dibiarkan berkeliaran di luar tanpa pengawasan sayang," Sahut Clarissa.


"Ha? Maksud Momy?," Tanya Tayana bingung. menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Daddy merupakan seorang Raja, dan yang menjadi penerusnya hanya keturunannya. Kelak nanti ketika Daddy sudah turun tahta, kau yang akan naik," Ujarnya lalu mengusap kepala Tayana penuh sayang.


"Omegot, Yang mulia Ratu Tay nih ceritanya," Ledek Renzah yang langsung dihadiahi cubitan dari Tayana.


"Kok aku gak pernah lihat orang mencurigakan ya selama ini," Sahut Tayana.


"Ya karena Daddy pilih pengawal berkualitas untuk menjagamu,"


"Ceritain dong Dad gimana caranya kok bisa Daddy dan Mommy ketemu lagi," pinta Tayana antusias dengan mata yang berbinar-binar.


"Beberapa tahun yang lalu, Daddy sedang melakukan perjalanan bisnis ke Indonesia. Selain mengemban tanggung jawab menjadi Raja, Daddy juga membangun bisnis sendiri yang bergerak di bidang properti. Daddy menjadi seseorang yang workaholic semenjak tahu kebenaran yang sebenarnya. Disitu Daddy sangat terpukul, karena orang terdekat Daddy yang telah memisahkan Daddy dengan Mommy-," Jelas Theo.


"Siapa Dad?," potong Tayana.


"Your Grandma," Jawabnya singkat. Namun sukses membuat Tayana terkejut dan berpikiran negatif tentang keluarga Daddy nya ini.


"Ketika Daddy sedang meeting dengan salah satu rekan, tiba-tiba Mommy mu muncul bersama gadis kecil cantik dengan bola mata bulatnya yang berwarna abu-abu di ruangan itu. Dan ternyata rekan bisnis Daddy itu Ayah sambung kamu. Disitu Daddy hanya bisa diam menatap Mommy mu dengan perasaan campur aduk. Apalagi ketika mendengar gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Daddy. Ada rasa tidak enak yang Daddy rasakan. Seperti dihantam palu yang tidak kasat mata. Seiring berjalannya waktu, akhirnya kami dekat kembali setelah mendengar curhatan Mommy mu tentang suaminya yang selingkuh setelah mengetahui kalau kau bukan anak kandungnya. Daddy merasa hari itu seperti mendapat jackpot. Langsung saja Daddy mengajak Mommy mu untuk kembali, dan ia bersedia. Namun Ayahmu yang gila itu malah mengurungmu di kamar agar Mommy mu tidak bisa membawamu. Ia mengancam kami untuk melenyapkanmu jika kami tetap berusaha mengambilmu darinya. Bukannya Daddy tidak mampu melawannya. Karena Daddy warga negara asing, maka tidak ada yang bisa Daddy lakukan selain menuruti kemauannya saat itu. Dengan berat hati, kami meninggalkanmu dengan penjagaan rahasia dari orang suruhan Daddy," lanjut Theo mengingat kenangan pahit itu semua dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Jadi aku ini anak yang gak di inginkan ya," cicitnya dengan menunduk.


"No baby, kamu itu hal yang paling kami tunggu-tunggu selama ini. Buah cinta kami, kehadiranmu membawa banyak perubahan dalam hidup kami," Theo bangkit dari duduknya dan membawa Tayana dalam pelukannya.


"Perjuangan kami untuk mendapatkanmu tidak mudah baby. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak di inginkan di dunia ini," Lanjutnya lalu mengecup kening putrinya.


Jangan tanyakan bagaimana kabar Clarissa dan Renzah. Mereka sudah berlinang air mata sejak mendengar cerita dari Theo. Clarissa sangat bersyukur telah di pertemukan kembali dengan putrinya di situasi yang tak terduga. Renzah juga bahagia melihat sahabatnya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.


"Sekarang, hubungi kekasihmu. Daddy yakin ia sudah frustasi mencarimu," Pipi Tayana merona mendengar perkataan Daddynya.


"Aku tidak punya kekasih Daddy. Jangan menggodaku," Tayana kembali menenggelamkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malu ke dalam pelukan Theo.


Clarissa terkekeh melihat putrinya yang sedang di goda oleh suaminya.

__ADS_1


"Hey, sudahlah jangan menggodanya lagi," Clarissa pun bangkit dari duduknya dan ikut memeluk Tayana. Lalu merentangkan tangannya agar Renzah ikut masuk ke dalam pelukan. Hingga akhirnya mereka berempat saling berpelukan.


"Bahagia sekali melihat mereka seperti itu," Sahut ketua pelayan kepada pengawal yang menyaksikan aktivitas mereka dari kejauhan.


"Aku harap kebahagian selalu menyertai mereka semua," ucap wanita itu lalu kembali ke dapur untuk mengontrol para pelayan disana.


Mereka berempat pun melepaskan pelukan karena merasa kekurangan oksigen.


"Mulai sekarang kalian bisa menempati villa ini. Karena ini Daddy beli untukmu,"


"Apa nanti kalian bakal ninggalin aku lagi?," Tanya Tayana tanpa menggubris ucapan Theo.


"Sayang, Daddy punya tanggung jawab yang besar disana. Nanti kami akan mengunjungimu setiap minggu. Kamu juga nanti akan bertemu dengan saudara-saudaramu yang lain," Ucap Clarissa membelai pipi Tayana.


"Lagian kan ada Renzah yang bakal temenin kamu disini," Lanjutnya.


"Lo lupa, kalau lo juga punya bokap dan nyokap disini hah," sahut Renzah.


"Wah anak duralek lo. Dapat bonyok baru, bonyok lama di tinggal," ucapnya penuh drama.


"Hehehe, gak gitu nyet," Tayana yang gemas pun menoyor kepala Renzah.


"Sudah-sudah. Renzah, om sangat berterima kasih kepadamu. Karena kamu sudah menjadi orang pertama yang menjaga Tayana ketika kami jauh. Kapan-kapan kita kumpul juga dengan keluargamu ya," Ucap Theo mengelus rambut Renzah.


"Hehehe siap om, kalau om perlu selir lagi sih mungkin mama juga bakal mau,"


"HEH," Tatapan tajam dari dua orang wanita sontak membuat nyalinya menciut.


"Piece," Ringisnya membentuk jari huruf V lalu berlari meninggalkan taman belakang rumah.


"Tu anak kayak gak gue ajarin aje," gumam Tayana.


"Udah sekarang cepat kabarin pacar kamu. Pasti dia khawatir saat ini," seru Theo.


"Ponsel aku tinggal di tas kemarin Dad,"


"Daddy sudah membawanya," Ia pun mengkode salah satu pengawalnya untuk mengambil tas Tayana. Lalu tak berapa lama tas itu sudah ada di hadapannya.


"Daddy percaya kalau dia lelaki yang tanggung jawab," Theo menepuk pundak Tayana pelan.


"Ayo sayang, kita istirahat. Aku lelah sekali," ajak Theo kepada Clarissa.


"Mommy sama Daddy duluan ya nak. Kamu harus banyak istirahat, biar tubuh kamu kembali fit,"


"Siap Mom," jawab Tayana memberikan tanda hormat pada Mommy nya.


Ia pun dengan segera menelpon Harsen. Hingga tak perlu menunggu waktu dua detik, Harsen sudah mengangkatnya.


"Ya ampun, tanyanya satu-satu dong. Aku bingung mau jawab apa," sungut Tayana. Belum sempat ia mengucapkan halo, Harsen sudah membrondonginya dengan banyak pertanyaan.


"Aku baik-baik aja sayang, nanti aku share lock deh,"

__ADS_1


"Iya, sekarang kamu gak usah khawatirin aku lagi. Karena aku aman sama Renzah," ucapnya dengan menggigit ujung jarinya.


"Hati-hati ya. Bye," Ia lalu menutup panggilan itu dan membagikan lokasinya kepada Harsen lalu masuk ke dalam villa itu dengan hati yang gembira. Seakan beban yang selama ini ada di hatinya sudah plong.


__ADS_2